RADARSITUBONDO.ID - Rencana reaktivasi jalur kereta api (KAI) lintasan Kalisat–Penarukan dinilai memiliki potensi besar untuk diprioritaskan pemerintah pusat.
Sebab, jalur tersebut dianggap strategis karena menghubungkan Kabupaten Situbondo, Bondowoso, dan Jember.
Anggota Komisi D DPRD Provinsi Jawa Timur asal Situbondo, H. Yoyok Mulyadi menilai, langkah percepatan tersebut sangat memungkinkan. Sebab, dibandingkan dengan tiga jalur reaktivasi lainnya di Jawa Timur, jalur kereta api Kalisat - Panarukan dinilai lebih mudah.
Sedangkan di tempat lain, sebagian besar telah tertutup badan jalan dan pemukiman warga. Sehingga, memerlukan proses lebih panjang.
Pria yang akrab disapa H. Yoyok Mulyadi tersebut mengatakan, dari empat lokasi rencana reaktivasi jalur kereta api di Jawa Timur, lintasan Kalisat–Penarukan menjadi yang paling potensial direalisasikan terlebih dahulu.
“Insyaallah jalur Kalisat–Penarukan berpotensi menjadi prioritas KAI. Di Jawa Timur," tegasnya.
Ada empat titik reaktivasi yaitu Sidoarjo–Tulangan, Kamal (Madura) dan beberapa lainnya, namun sebagian besar relnya sudah tertutup aspal dan permukiman.
Karena itu yang paling memungkinkan untuk diprioritaskan adalah Kalisat–Penarukan.
Yoyok menambahkan bahwa jika jalur tersebut benar-benar masuk prioritas, pemerintah daerah bersama DPRD harus menyiapkan strategi sosial.
Terutama dalam memberikan pemahaman kepada masyarakat yang kini memanfaatkan bekas area rel.
“Yang jelas akan ada pro dan kontra di masyarakat. Karena itu kepala daerah dan DPRD harus turun langsung melakukan pendekatan sosial, memberikan sosialisasi agar masyarakat memahami manfaat jangka panjang reaktivasi jalur ini,” jelas mantan Wakil Bupati Situbondo tersebut.
Lebih jauh, Yoyok mengungkapkan bahwa reaktivasi jalur KAI tidak hanya memiliki nilai ekonomi, tetapi juga potensi pariwisata karena jalur tersebut melintasi sejumlah destinasi wisata di Situbondo, Bondowoso, dan Jember.
“Untuk anggarannya, biasanya konstruksi pembangunan menggunakan APBN. Sementara pembebasan lahan dimungkinkan melalui APBD, karena jika tidak, daerah akan pasif dan sulit bergerak,” tambahnya.
Dia juga optimistis bahwa jika pelabuhan Panarukan kembali beroperasi, keberadaan jalur kereta api akan semakin meningkatkan konektivitas dan memperkuat aktivitas logistik wilayah timur Jawa.
“Saya yakin jika di Jawa Timur hanya dua jalur yang direaktivasi, maka kemungkinan besar Kalisat–Penarukan menjadi prioritas. Apalagi Situbondo memiliki pelabuhan Penarukan yang berpotensi dihidupkan kembali,” bebernya.
Menurut Yoyok, jika reaktivasi benar-benar terwujud, dampak positif yang dihasilkan akan sangat besar bagi masyarakat Situbondo.
“Wisata, investasi, UMKM, penyerapan tenaga kerja, dan peningkatan ekonomi masyarakat akan tumbuh. Jika peluang ini tidak ditangkap pemerintah daerah, maka jelas merugikan, karena ini merupakan kesempatan besar untuk memajukan daerah,” pungkasnya. (rif/pri)
Editor : Edy Supriyono