Anime Berita Daerah Edukasi Ekonomi Bisnis Health Internasional Kasuistika Khazanah Kuliner Lifestyle Nasional Opini Otomotif Politik & Pemerintahan Seni & Budaya Sport Teknologi Travelling

Menunggu Bupati , Istri Kakek Masir Nangis di Alun-alun Situbondo Demi Suami yang Ditahan

Moh Humaidi Hidayatullah • Selasa, 16 Desember 2025 | 03:08 WIB
CARI KEADILAN: Suyati, 62, istri kakek Masir, 71, warga Desa Desa Sumberanyar, Kecamatan Banyuputih, beristirahat di Alun-alun Kota Situbondo, menunggu kedatangan  Bupati Situbondo, Senin (15/12).
CARI KEADILAN: Suyati, 62, istri kakek Masir, 71, warga Desa Desa Sumberanyar, Kecamatan Banyuputih, beristirahat di Alun-alun Kota Situbondo, menunggu kedatangan Bupati Situbondo, Senin (15/12).

RADARSITUBONDO.ID - Suyati, 62, istri kakek Masir, 71, warga Desa Desa Sumberanyar, Kecamatan Banyuputih, mendatangi Pendapa Rakyat Situbondo untuk bertemu dengan Bupati Yusuf Rio Wahyu Prayogo, Senin (15/12). Istri terdakwa pencurian lima ekor cendet itu bersabar menunggu kedatangan bupati yang sedang ada kegiatan ke Surabaya.

Pantauan Jawa Pos Radar Situbondo, nenek Suyati didampingi oleh putranya, ust. Rusmadi dan satu perangkat desa, tiba di Pendapa pada pukul 9.00. Namun orang yang hendak ditemui masih berada di luar Kota.

Untuk menunggu kedatangan orang nomor satu di kota santri, Suyati memilih keluar dari Pendapa dan beristirahat di Alun-alun Kota Situbondo. Alasanya lebih nyaman di area Alun-alun karena lebih bebas.

Nenek Suyati tampak sudah mempersiapkan bekal perjalanan. Terbukti di dalam tasnya berisi sejumlah botol air meneral dan nasi yang dibawa dari rumah. Pada saat duduk santai, makanan dalam tas ditawarkan pada putranya, termasuk kepada perangkat desa yang mendampingi.

“Kalau orang tua memang begini nak, apa-apa dibawa dari rumah sebagi bekal perjalanan. Lebih irit ketimbang beli di warung-warung,” ucap Suyati.

Dia mengaku, sejak suaminya ditangkap lima bulan yang lalu tak henti-henti menangis siang dan malam. Sebab khawatir suaminya malah meninggal di tahanan akibat penyakit asma yang diderita selama bertahun-tahun.

“Saya sudah berusaha ikhlas, tapi kalau ingat ke suami yang ditahan pasti nangis. Gimana tidak nangis itu suami saya. Apalagi saat anak-anak saya datang pasti nangis,”ujar Suyati sambil mengusap air mata di pipinya.

Nenek yang aktif memimpin selawatan di desanya itu mengaku, kedatangannya ke Pendapa  hanya untuk menemui bupati. Namun bupati masih berada di luar kota. terpaksa harus menunggu hingga bupati pulang.

“Saya tiba di sini (kota) pukul 9.00, karena bupati masih di luar kota nunggu sampai sore. Katanya bupati bisa ditemui malam. Tidak apa-apa saya tetap menuggu,” tegas Suyati.

Sebagai istri, dia harus berjuang untuk mencari nafkah sendiri sebagai buruh tanam bibit padi. Dia juga membersihkan rumput di ladang milik tetangganya. Hasil bekerja dibuat untuk menyambung hidup dan mengirim sang suami ke tahanan.

“Saya ngirim tiap Minggu. Tiap ngirim ke Rutan suami saya pasti nangis dan minta didoakan agar bisa cepat bebas,” tutur Suyati.

Rusmadi putra kakek Masir menegaskan akan terus berjuang agar bapaknya bisa bebas dari tahanan. Urusan menunggu bupati dari pagi hingga malam tidak menjadi masalah. Apalagi yang memiliki kepentingan memang warga.

“Saya siap berusaha sekuat tenagan untuk bisa meringankan hukuman bapak saya, sebagaimana bapak saya menafkahi saya hingga saya menjadi dewasa seperti saat ini. Tidak apa-apa meskipun lama, tapi sampai kapanpun pasti saya tunggu,” papar Rusmadi.

Hanif, kuasa hukum Masir menerangkan, Kakek masir sudah tidak sendiri. Publik sudah banyak yang mendukung Masir untuk bebas dari tahanan. (hum/pri)

Editor : Edy Supriyono
#kakek #Baluran National Park #burung cendet