RADARSITUBONDO.ID - Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) sedang merancang sistem peringatan dini yang berfokus pada dampak, atau dikenal sebagai Impact Based Forecasting (IBF), yang direncanakan mulai diimplementasikan pada tahun 2026.
Inisiatif ini bertujuan untuk meningkatkan efektivitas dalam menangani bencana yang berkaitan dengan hidrometeorologi seperti banjir dan longsor.
Baca Juga: Hasil TKA SMA 2025 Resmi Diumumkan Hari Ini, Begini Cara Cek Nilainya
Kepala BMKG, Teuku Faisal Fathani, menyatakan bahwa peringatan ini tidak hanya akan memberikan informasi terkait intensitas hujan, tetapi juga akan menganalisis kemungkinan dampak yang dapat terjadi.
Prediksi cuaca akan dipadukan dengan peta kerentanan daerah untuk menentukan tempat-tempat tertentu yang mungkin terkena dampak bencana.
Baca Juga: Bus Cahaya Trans Terguling di Exit Tol Krapyak, 16 Tewas
BMKG tengah mengembangkan IBF bekerja sama dengan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Kementerian Pekerjaan Umum, serta Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral.
Teuku Faisal menjelaskan bahwa secara teknis, sistem ini sudah siap, namun masih perlu diperkuat dalam pembuatan peta kerentanan.
Baca Juga: Sawit Bebas Tarif, Trump Minta Akses Mineral Kritis dari Indonesia
BMKG mampu memberikan perkiraan cuaca dengan tingkat akurasi yang tinggi untuk periode tiga hingga tujuh hari ke depan.
Dengan diperkenalkannya IBF, peringatan dini akan menjadi lebih spesifik dan relevan, sehingga memungkinkan pemerintah daerah dan masyarakat untuk melakukan langkah-langkah mitigasi dengan lebih cepat dan terarah.
Editor : Ali Sodiqin