Anime Berita Daerah Edukasi Ekonomi Bisnis Health Internasional Kasuistika Khazanah Kuliner Lifestyle Nasional Opini Otomotif Politik & Pemerintahan Seni & Budaya Sport Teknologi Travelling

Kiai Azaim Jalan Kaki Bangkalan–Jombang, Bawa Tongkat dan Tasbih Isyarat Berdirinya NU

Moh Humaidi Hidayatullah • Minggu, 4 Januari 2026 | 20:03 WIB
NAPAK TILAS: Pemberangkatan rombongan peserta aktif Ikatan Santri Alumni Salafiyah Syafi
NAPAK TILAS: Pemberangkatan rombongan peserta aktif Ikatan Santri Alumni Salafiyah Syafi

RADARSITUBONDO.ID - Pengasuh Pondok Pesantren (Ponpes) Salfiyah Syafi’iyah Sukorejo, K.H.R Ahmad Azaim Ibrahimy, mengikuti napak tilas isyarah pendirian Nahdlatul Ulama (NU), Minggu (4/1). Dengan membawa tongkat dan tasbih isyarat berdirinya NU, cucu Kiai As’ad tersebut berjalan kaki dari Kabupaten Bangkalan ke Jombang. Ribuan peserta aktif Ikatan Santri Alumni Salafiyah Syafi'iyah (IKSAS) dan warga NU serta santri ikut serta mengiringi.

Informasi dihimpun Jawa Pos Radar Situbondo, kegiatan napak tilas diawali dengan pembacaan tahlil di makam Syaikhona Mohammad Kholil, Kabupaten Bangkalan, pada Sabtu malam (3/1). Pukul 6.00 hingga pukul 7.00 prosesi pemberian tongkat dan tasbih dari Dzurriyah Syaikhona Mohammad Kholil Bangkalan, KH Imam Buchori Kholil kepada Kiai Azaim cucu Kiai As’ad.

Selanjutnya, Kiai Azaim berkalung tasbih dan memegang tongkat berjalan kaki dari Ponpes Syaikhona Kholil Bangkalan menuju Pelabuhan Kamal, diikuti oleh ribuan warga NU. Rombongan kemudian menyeberang menggunakan kapal Ferry ke Tanjung Perak Surabaya. Setelah kapal sandar, Kiai Azaim dan rombongan melanjutkan perjalanan ke makam sunan ampel.

“Dari Syaikhona Kholil ke Pelabuhan Kamal perjalanan kurang lebih 18 kilometer, sambil baca dzikir yang pernah dibaca Kiai As’ad, yaitu ya Jabar ya Qohhar,” ujar salah satu peserta napak tilas dari situbondo, H. Huda.

Kata dia, perjalanan dari Tanjung Perak ke Ampel  sekitar 20 kilometer. Perjalanan dilanjutkan ke tanjung Stasiun Jombang mengendarai kereta. Namun karena peserta terlalu banyak, sebagian harus naik bus.

“Dulu Kiai as’ad kan naik kereta, jadi Kiai Azaim dan para masyaikh NU yang lain juga naik kereta, tapi sebagian peserta ada yang naik bus. nah dari Jombang ke Pesantren Tebu Ireng perjalanan enam kilometer, jalan kaki lagi,”ujar Huda.

Dikatakan, napak tilas tersebut cukup mengesankan. Apalagi saat melihat Kiai Azaim yang tidak pernah melepas tasbih dan tongkat selama perjalanan. Dia tampaknta benar-benar ingin meresapi peristiwa sejarah yang pernah dilakukan oleh Kiai As’ad tersebut.

“Semua jamaah yang ikut dan melihat Kiai Azaim rata-rata menangis. Ini perjalanan benar-benar luar biasa sulit untuk diungkapkan dengan kata-kata. Kami sangat merasakan bagaimana perjuangan Kiai As'ad mengemban tugas mulia dari Syaikhona Kholil Bangkalan,” tegas Huda.

Dia menegaskan bahwa Kiai Azaim sangat menjiwai dalam perjalanannya. Kiai Azaim bukan hanya memegang tongkat, tapi juga memegang tasbih. Setiap langkah kaki diiringi bacaan.

“Sudah jalan kaki, pegang tongkat, putar tasbih, sambil berdzikir. Tongkat dan tasbih tidak ada yang mengganti, pokok dipegang terus oleh Kiai Azaim,” tutur Huda.

Wakil Bupati Situbondo, Ulfiyah  mengatakan, tujuan dari kirab tersebut, untuk memperingati 100 tahun kelahiran NU 1926–2026.  Diharapkan para peserta dan pimpinan NU, mulai dari tingkat cabang, wilayah, hingga PBNU, dapat kembali mengingat bagaimana sulitnya perjuangan para muassis dalam mendirikan NU.

“Napak tilas tongkat dan tasbih Syaikhona Kholil ini sebagai pengingat perjuangan para muassis NU. Karena para pendiri NU pada jaman dahulu menempuh perjalanan berat, bahkan berjalan kaki dari Bangkalan menuju Tebuireng demi merawat dan memperjuangkan nilai-nilai keulamaan,” tutup Ulfiyah. (hum/pri)

Editor : Edy Supriyono
#nu #napak tilas