RADARSITUBONDO.ID – Sejak Oktober 2025 lalu, bangunan eks pendapa Bupati Besuki di Kecamatan Besuki, Situbondo, mulai direvitalisasi. Upaya ini diharapkan mampu meningkatkan pelayanan publik di wilayah barat Situbondo sekaligus menjaga warisan sejarah leluhur.
Kondisi eks pendapa Bupati Besuki kini terlihat semakin elok dipandang. Keadaan ini berbanding terbalik saat belum ada perbaikan terhadap gedung yang memiliki nilai sejarah penting tersebut. Baik dari sisi arsitektur bangunan asli peninggalan zaman Belanda, maupun nilai cagar budaya yang ada di dalamnya.
Kini, Kawedanan Besuki diberi nama Pendapa Pate Alos. Penamaan tersebut sebagai bentuk pelestarian terhadap tokoh pertama yang membuka atau membabat wilayah Besuki.
Plt Kepala Dinas Pekerjaan Umum dan Perumahan Permukiman (PUPP) Situbondo, Abdul Kadir menerangkan, Revitalisasi gedung tersebut bukan semata karena nilai sejarahnya sebagai peninggalan era Belanda. Tapi juga untuk mengoptimalkan pelayanan pemerintah daerah kepada masyarakat Besuki dan sekitarnya.
Dengan demikian, selain memiliki nilai historis yang tinggi, keberadaan gedung ini diharapkan mampu mendekatkan akses pelayanan masyarakat tanpa harus ke pusat kota Situbondo. “Ini untuk peningkatan pelayanan kepada masyarakat, khususnya wilayah Besuki dan sekitarnya, sehingga masyarakat bisa lebih dekat berkomunikasi dengan pimpinannya,” kata Kadir, Minggu (11/1).
Dia menambahkan, revitalisasi ini tidak hanya difokuskan pada pelayanan publik. Bupati Situbondo juga berencana meluangkan waktu untuk berkantor di Kawedanan Besuki. Tujuannya, agar masyarakat wilayah barat mendapatkan perhatian yang lebih intensif. “Mengingat Mas Rio, Bupati Situbondo, juga akan berkantor di Kawedanan Pate Alos,” tambahnya.
Kadir menegaskan, pemerintah daerah juga ingin memanfaatkan aset yang dimiliki secara optimal agar tidak terkesan terbengkalai. Menurutnya, bangunan tua tersebut memiliki makna besar bagi sejarah berdirinya Kabupaten Situbondo. Oleh karena itu, rehabilitasi dilakukan dengan berbagai pertimbangan agar nilai sejarahnya tetap terjaga.
“Kami ingin mengoptimalkan manfaat dan kegunaan aset daerah yang selama ini kurang berdampak dan terkesan terbengkalai,” ujarnya.
Kadir juga menekankan bahwa revitalisasi ini bertujuan untuk melestarikan bangunan cagar budaya yang menjadi kebanggaan warga Situbondo, khususnya masyarakat Besuki. “Melestarikan bangunan cagar budaya yang menjadi kebanggaan dan ikon masyarakat Besuki dan sekitarnya,” jelasnya.
Dengan perbaikan dan penataan ulang tersebut, diharapkan nilai sejarahnya kembali terasa dan diingat oleh masyarakat. Bahwa Besuki pernah menjadi pusat pemerintahan, budaya, dan perekonomian di wilayah karesidenan. “Kami ingin menyegarkan kembali ingatan masyarakat bahwa Besuki pernah menjadi pusat pemerintahan, budaya, dan perekonomian se-Karesidenan Besuki, meliputi Situbondo, Bondowoso, Jember, dan Banyuwangi,” tegasnya.
Sementara itu, Yanto, warga Besuki, mengaku bangga dengan langkah yang dilakukan pemerintah daerah. Menurutnya, revitalisasi ini menunjukkan komitmen untuk merawat dan menjaga bangunan penuh nilai sejarah tersebut. “Saya sangat bangga atas apa yang dilakukan pemerintah daerah. Renovasi ini bukan sekadar memperbaiki, tetapi juga menjaga sejarah,” tuturnya. (rif/pri)
Editor : Edy Supriyono