Anime Berita Daerah Edukasi Ekonomi Bisnis Health Internasional Kasuistika Khazanah Kuliner Lifestyle Nasional Opini Otomotif Politik & Pemerintahan Seni & Budaya Sport Teknologi Travelling

Banjir Rendam Kendit, Nyaris Panen Tinggal Hitungan Hari, 40 Hektare Sawah Warga Gagal Total

Moh Humaidi Hidayatullah • Jumat, 23 Januari 2026 | 20:48 WIB
TERGENANG AIR: Lahan persawahan warga seluas kurang lebih 40 hektare gagal panen akibat banjir di Desa Kendit, Kecamatan Kendit, Situbondo, Jumat (24/1).
TERGENANG AIR: Lahan persawahan warga seluas kurang lebih 40 hektare gagal panen akibat banjir di Desa Kendit, Kecamatan Kendit, Situbondo, Jumat (24/1).

RADARSITUBONDO.ID – Sekitar 40 hektare lebih lahan persawahan milik warga Desa Kendit, Kecamatan Kendit, Situbondo, dipastikan gagal panen. Itu disebabkan banjir yang menggenangi lahan pertanian sejak Kamis (22/1).

Padahal, padi di lahan tersebut hanya tinggal sekitar tiga hari lagi untuk dipanen. Namun akibat terendam air cukup lama, tanaman padi rusak dan tidak bisa diselamatkan. Selain terendam, kondisi padi juga membusuk sehingga hasil panen dipastikan tidak maksimal bahkan tidak bisa dipanen sama sekali. “Lahan saya seluas satu hektare gagal panen karena tergenang air sejak kemarin,” kata Agus, salah satu petani Desa Kendit, Jumat (23/1).

Agus menambahkan, hujan deras yang turun sejak Rabu malam menyebabkan air meluap ke area persawahan warga. Akibatnya, sejumlah petani mengalami gagal panen. “Sudah tidak bisa diharapkan lagi kalau kondisinya seperti ini,” tambahnya.

Dia menjelaskan, tanaman padi di lahannya seharusnya sudah bisa dipanen dalam dua hari ke depan. Namun karena terendam banjir bercampur lumpur, batang padi membusuk dan bulir padi rontok sebelum sempat dipanen. “Kami sudah mengeluarkan biaya besar, mulai dari bibit, pupuk, obat-obatan, sampai ongkos tanam. Kalau seperti ini, modal tidak kembali sama sekali,” keluhnya.

Agus juga mengungkapkan, kerugian yang dialami petani ditaksir mencapai puluhan juta rupiah. “Kalau luas lahan yang terdampak secara keseluruhan memang belum bisa dipastikan, tapi perkiraannya hampir 40 hektare lebih sawah warga tergenang banjir,” jelasnya.

Hal serupa disampaikan petani lainnya, Zainul, yang mengelola sawah seluas empat petak. Ia mengaku sawahnya juga terdampak banjir, padahal diperkirakan sekitar satu minggu lagi sudah bisa dipanen. “Kalau sudah seperti ini, pasti rusak dan tidak bisa diselamatkan,” ujarnya.

Menurut Zainul, air sempat bertahan cukup lama. Awalnya diperkirakan akan surut jika tidak ada hujan susulan. Namun karena kembali turun hujan, debit air justru bertambah dan membuat padi tidak bisa diselamatkan. “Semua rusak,” katanya.

Zainul mengaku hasil panen tersebut sangat diandalkan untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari sekaligus biaya sekolah anak-anaknya. Gagal panen ini membuatnya khawatir tidak mampu mencukupi kebutuhan keluarga dalam beberapa bulan ke depan. “Kami petani kecil sangat berharap panen. Kalau gagal seperti ini, terpaksa harus berutang dulu untuk bertahan hidup,” ungkapnya.

Dia juga menjelaskan, air berasal dari dua arah, yakni dari barat dan timur, yang kemudian bertemu dan meluap ke area persawahan warga. “Kemarin air sampai setinggi dada, bahkan jalan yang menjadi akses warga tidak bisa dilewati. Sekarang sudah mulai surut, tinggal setinggi perut, tetapi Padi Tetap tidak tertolong. "Jelasnya. (rif/pri)

Editor : Edy Supriyono
#situbondo #Padi Gagal Panen #banjir bandang