Anime Berita Daerah Edukasi Ekonomi Bisnis Health Internasional Kasuistika Khazanah Kuliner Lifestyle Nasional Opini Otomotif Politik & Pemerintahan Seni & Budaya Sport Teknologi Travelling

Mengapa Produktivitas Sawit Indonesia Masih Kalah dari Malaysia?

Bayu Shaputra • Selasa, 10 Februari 2026 - 21:45 WIB
Ilustrasi buah sawit.
Ilustrasi buah sawit.

RADARSITUBONDO.ID - Meski menjadi penguasa utama produksi kelapa sawit dunia dengan kontribusi sekitar 59 persen, industri sawit Indonesia masih menghadapi berbagai persoalan mendasar. Dibandingkan Malaysia, daya saing sawit nasional dinilai belum optimal, terutama dari sisi produktivitas, riset, hingga tata kelola.

Salah satu tantangan utama terlihat pada rendahnya produktivitas lahan. Malaysia mampu menghasilkan 4–6 ton sawit per hektare, sementara Indonesia masih berkisar 3,5–3,6 ton per hektare.

Padahal, luas perkebunan sawit nasional mencapai 15,4 juta hektare, hampir tiga kali lipat dari Malaysia yang hanya 5,65 juta hektare. Kesenjangan ini membuat potensi ekonomi sawit Indonesia belum tergarap maksimal. 

Rendahnya produktivitas tersebut dipicu oleh sejumlah faktor. Sekitar 10 persen kebun sawit nasional masih menggunakan bibit yang tidak memenuhi standar unggul. Selain itu, sekitar 40 persen tanaman sawit telah berusia tua, namun proses peremajaan berjalan lambat akibat berbagai kendala regulasi.

 Baca Juga: Frank Ilett Nantikan Kemenangan KING MU di Laga Kontra West Ham untuk Akhiri Tantangan Potong Rambut

Di sisi lain, Malaysia dinilai lebih unggul dalam riset dan pengembangan. Lembaga riset seperti Palm Oil Research Institute of Malaysia (PORIM) dan Malaysian Palm Oil Board (MPOB) berhasil mendorong inovasi produk bernilai tinggi, salah satunya tokotrienol yang dipasarkan hingga US$800 per kilogram.

Hingga kini, Malaysia telah mengembangkan sekitar 260 produk turunan sawit, sementara Indonesia baru mencapai 179 produk pada 2023. 

Kesenjangan juga terlihat pada hilirisasi crude palm oil (CPO). Malaysia telah menghasilkan sekitar 100 produk turunan CPO, sedangkan Indonesia masih tertinggal dengan 47 produk. Kondisi ini mencerminkan lemahnya upaya penambahan nilai (value added) di dalam negeri.

Dari sisi tata kelola, Malaysia memiliki skema pembinaan petani yang terintegrasi melalui lembaga FELDA. Organisasi ini menghimpun petani sawit, menyediakan pendampingan teknis, riset, hingga akses pembiayaan dengan sistem proaktif. Model ini memudahkan petani meningkatkan produktivitas dan kualitas kebun.

 Baca Juga: KING MU Bidik Kemenangan Kelima Beruntun Saat Hadapi West Ham Dini Hari Nanti

Sebaliknya, petani sawit Indonesia masih dibelit persoalan regulasi yang tumpang tindih, terutama terkait status kawasan hutan yang mempengaruhi lebih dari 3 juta hektare kebun sawit rakyat. Minimnya penyuluhan praktik pertanian yang baik (Good Agricultural Practices/GAP) serta sulitnya akses perbankan semakin memperberat kondisi petani.

Pelaku usaha juga menyoroti ketidakpastian regulasi di Indonesia. Aturan yang kerap berubah dan keterlibatan banyak kementerian dalam pengelolaan sawit dinilai menghambat investasi, khususnya untuk pengembangan teknologi dan hilirisasi.

Indonesia dinilai perlu mencontoh Malaysia yang mengelola industri sawit secara terpusat dengan regulasi yang konsisten. Tanpa pembenahan tata kelola dan peningkatan produktivitas, keunggulan Indonesia sebagai pemilik lahan sawit terluas di dunia dikhawatirkan tidak akan berbanding lurus dengan manfaat ekonomi yang diperoleh.

Editor : Ali Sodiqin
#malaysia #Sawit Indonesia