RADARSITUBONDO.ID – Wali murid penerima program Makan Bergizi Gratis (MBG) berharap pengawas memberikan teguran kepada Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) PP Nurul Hikam, Desa Kesambirimpak, Kecamatan Kapongan. Tujuannya, agar ada efek jera karena selama ini dianggap kerap abai dalam pelayanan.
Salah satu wali murid penerima MBG mengaku banyak keluhan terkait pelayanan dari SPPG Nurul Hikam. Apalagi, pelayanan yang mengecewakan berulang kali terjadi. Ia berharap ada teguran khusus dari pengawas sebagai bahan evaluasi. “Iya, yang jelas harus ada teguran. Jangan dibiarkan agar ada efek jera dan tidak diulang,” kata perempuan berinisial A, Rabu (18/2).
Dia menambahkan, meski pihak kecamatan pernah memberikan teguran beberapa waktu lalu, tidak ada perubahan berarti. Menurutnya, seharusnya hal itu menjadi bahan evaluasi agar pelayanan lebih baik dan tidak terus merugikan penerima. “Saya juga heran, pihak SPPG tidak ada kemauan untuk berbenah,” imbuhnya.
Perempuan sekitar 30 tahun itu menegaskan selama ini seperti tidak ada efek jera. Perbaikan hanya terasa sekitar satu minggu, kemudian kembali terjadi hal serupa. Ia mencontohkan, roti yang dibagikan pernah dalam kondisi keras dan telur berbau tidak sedap. “Kemarin kirim kue, rotinya keras, jadi tidak enak. Apalagi telurnya pecah dan bau,” ujarnya.
Dia juga menyebut persoalan tersebut sempat beredar di media sosial, tetapi belum ada perkembangan signifikan. Karena itu, pengawas MBG diminta turun langsung mengecek kondisi di lapangan. “Sudah viral di media sosial, tapi tetap saja tidak ada perkembangan,” jelasnya.
Menurutnya, pada hari Jumat pernah terjadi pengiriman tanpa nasi. Saat dikomplain, pihak penyedia berdalih tidak ada tabung gas elpiji. Ia menilai alasan tersebut tidak seharusnya terjadi dalam program sebesar MBG. “Katanya mau menjemput nasi, ditunggu sampai jam 11 tidak ada. Kalau kelupaan kan tinggal menjemput, bukan menunggu lama,” tuturnya.
Dia menegaskan para penerima hanya menginginkan pelayanan yang baik, bukan mencari kesalahan. Jika tidak ada perbaikan, kejadian serupa dikhawatirkan akan terus terulang. “Kalau hanya dikomplain minta maaf, tapi setelah itu diulang lagi, ya percuma,” pungkasnya. (rif/pri)
Editor : Edy Supriyono