RADARSITUBONDO.ID – Menu Makan Bergizi Gratis (MBG) di hari pertama siswa masuk bulan Ramadan di sejumlah tempat di Situbondo mendapat banyak keluhan. Ini lantaran isinya yang dinilai tidak sesuai dengan anggaran yang digelontorkan pemerintah, satu porsi Rp 15 Ribu.
Rahmad SH Mhum, salah satu anggota DPRD Situbondo mengaku mendapat keluhan langsung dari wali murid maupun guru. Ini lantaran menunya yang dinilai sangat tidak sepadan dengan anggaran Rp 15 ribu. Kekesalan Rahmad ini sempat diunggah di status WA nya. Dia meminta agar para pengelola MBG benar-benar amanah saat diberi kepercayaan.
Politisi Partai Golkar ini mengaku mendapat keluhan dari penerima Manfaat MBG di Kecamatan Kapongan, di Kecamatan Panji dan di wilayah barat. “Setelah saya lihat menunya memang parah,” terangnya kepada Koran, ini.
Sementara itu, setelah beberapa hari tidak melakukan pengiriman karena hari libur, Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Pondok Pesantren Nurul Hikam kembali menyalurkan program Makan Bergizi Gratis (MBG). Namun, menu yang diterima para siswa kembali dipertanyakan.
Pasalnya, menunya hanya berupa jeruk, abon kemasan kecil, dan kue pia. Sejumlah wali murid menilai menu tersebut tidak sebanding dengan nama program “makan bergizi”.
Seorang ibu rumah tangga berinisial A, orang tua penerima manfaat, mengaku kecewa dengan menu yang diterima anaknya. Menurutnya, sajian tersebut tidak mencerminkan makanan bergizi seperti yang diharapkan masyarakat. “Katanya makan bergizi gratis. Memang gratis, tapi menunya seperti itu. Kalau hanya begitu, bukan makan bergizi namanya, tapi hanya makan gratis,” ujarnya, Senin (23/2).
Dia menambahkan, apabila yang dikedepankan adalah unsur gizinya, maka kualitas menu seharusnya lebih diperhatikan, bukan sekadar pembagian makanan secara cuma-cuma. “Abonnya hanya sedikit. Ini mau bergizi dari mana?” tambahnya.
Selain itu, perempuan itu juga menyoroti kualitas makanan yang diterima. Menurutnya, kue pia yang dibagikan bertekstur keras, sementara jeruk yang diterima sudah dalam kondisi kurang segar.
Dia mempertanyakan mengapa kondisi tersebut dinilai berbeda dengan SPPG lainnya yang menyajikan menu lebih baik dan lebih berkualitas. “Kalau dibilang semua SPPG sama, saya rasa tidak. Saya lihat di tempat lain menunya bagus,” ungkapnya.
Keluhan serupa juga disampaikan penerima manfaat lainnya berinisial BA. Ia mempertanyakan kesesuaian menu dengan anggaran yang disebut-sebut cukup besar dalam program tersebut. “Kalau seperti ini, wajar kalau muncul dugaan-dugaan di masyarakat. Tas wadah MBG juga diminta dikembalikan, jeruknya pun sudah kisut,” ujarnya.
Dia juga mengaku khawatir apabila kondisi tersebut terus berlanjut. Sebab, dikhawatirkan tidak memberikan manfaat gizi bagi anak-anak. Bahkan, berpotensi menimbulkan masalah kesehatan. "Ini menjadi uneg-uneg selama ini karena dikomplain tidak ada perbaikan juga, masak menu MBG seperti ini nyampai anggaran Rp 10 ribu." tegasnya.
Sementara itu, Zainal salah satu pengelola SPPG PP Nurul Hikam menyatakan bahwa menu yang dibagikan telah disesuaikan dengan anggaran yang tersedia. Disebutkan bahwa untuk porsi kecil, anggaran yang dialokasikan sebesar Rp 8.000 per paket. “Iya benar, sudah sesuai dengan anggaran. Untuk porsi kecil jatahnya Rp 8 ribu. SPPG lain kurang lebih juga sama untuk menunya,” ujarnya singkat. (rif/pri)
Editor : Edy Supriyono