RADARSITUBONDO.ID – Sejumlah wali murid mengaku ingin memindahkan lokasi pengiriman Program Makan Bergizi Gratis (MBG) dari Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) PP Nurul Hikam. Keinginan tersebut muncul karena orang tua merasa sudah tidak sabar atas kesalahan yang dinilai terjadi berulang kali tanpa ada perbaikan berarti.
Beberapa wali murid menyampaikan kekecewaannya karena berbagai teguran yang telah diberikan, baik secara langsung maupun melalui media sosial, belum membuahkan hasil. Mereka menilai kualitas makanan yang diterima siswa masih belum sesuai harapan.
“Iya, memang banyak wali murid yang ingin mengusulkan pindah. Ya tahu sendiri bagaimana kejadiannya,” ujar salah satu wali murid yang meminta namanya tidak disebutkan.
Dia menegaskan, jika kondisi serupa terus terjadi, lebih baik tidak menerima program MBG daripada harus mengorbankan keamanan dan kenyamanan anak-anak. “Kalau tetap seperti ini dan tidak ada perbaikan, ada yang mengusulkan agar kontraknya dilepas saja. Biarpun tidak dapat MBG, yang penting anak-anak aman,” tegasnya.
Menurutnya, program yang menggunakan anggaran pemerintah tersebut seharusnya benar-benar memperhatikan kualitas makanan karena yang menerima adalah siswa. Ia berharap pengelola dapur lebih bertanggung jawab dan memperhatikan standar gizi serta kelayakan konsumsi.
“Yang diberi makan itu anak-anak, bukan sembarangan. Harusnya kualitasnya dijaga. Jangan sampai siswa yang jadi korban,” ujarnya.
Dia menambahkan, pada dasarnya para wali murid hanya menginginkan perbaikan. Namun, jika kesalahan terus berulang, wajar jika muncul keinginan untuk berpindah ke SPPG lain demi menghindari hal-hal yang tidak diinginkan.
“Intinya, sebagai penerima manfaat, kami hanya ingin yang terbaik dari program yang anggarannya tidak sedikit itu,” ucapnya.
Sementara itu, Ibu Fiki, wali murid lainnya, mengatakan keluhan tersebut tidak hanya dirasakan satu atau dua orang tua saja, melainkan cukup banyak yang mengeluhkan hal serupa. “Seharusnya mereka memberikan MBG itu seperti memberi makanan kepada anaknya sendiri,” katanya.
Dia berharap ada perbaikan nyata agar program tersebut benar-benar memberikan manfaat sesuai tujuan awalnya. Ia juga mengaku pernah menerima MBG dari dapur lain dan merasakan perbedaan kualitas. “Sebelumnya saya menerima MBG dari tempat sebelah, dan itu jauh berbeda, dari kualitas dan lainnya memang beda,” tegasnya. (rif/pri)
Editor : Edy Supriyono