RADARSITUBONDO.ID – Kinerja Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) 514 Kotakan yang berlokasi di Yayasan Arsa Bakti Maritim disebut-sebut sudah pernah dikeluhkan sebelum temuan buah salak busuk pada Rabu (26/2) lalu.
Itu diungkapkan langsung sejumlah wali murid penerima manfaat.
Menurut salah satu wali murid yang enggan disebutkan namanya, kejadian makanan tidak layak konsumsi bukan hanya sekali terjadi.
Ia menilai menu yang diberikan tidak sebanding dengan anggaran yang dikabarkan cukup besar.
Bahkan, muncul dugaan adanya mark up anggaran karena menu yang diterima siswa dinilai sangat sederhana.
“Menu kering saat bulan puasa terasa sangat aneh. Bahkan sebelum kasus salak busuk itu, sudah pernah terjadi hal serupa,” ujarnya.
Dia menambahkan, saat Ramadan pengiriman MBG dengan menu kering dinilai tidak sesuai harapan masyarakat.
Sebelum bulan puasa, menu masih dianggap wajar karena terdapat nasi dan lauk-pauk.
Namun saat Ramadan, menu yang diberikan dinilai tidak sebanding dengan anggaran yang disebut mencapai Rp 15 ribu per porsi.
“Sebelum salak busuk itu, jeruknya juga sudah tidak layak dikonsumsi, rasanya seperti sudah rusak,” jelasnya.
Menurutnya, anggaran yang bersumber dari pajak masyarakat seharusnya dikelola dengan baik agar benar-benar memberikan manfaat.
Ia menyayangkan jika makanan yang dibagikan justru tidak dimakan siswa dan terbuang sia-sia.
“Uang Rp 15.000 itu bukan jumlah kecil. Kalau makanannya tidak dimakan, kan jadi pemborosan,” ungkapnya.
Dia juga menilai, tanpa program Makan Bergizi Gratis (MBG) sebelumnya banyak siswa tetap berprestasi.
Karena itu, ia berharap pelaksanaan program benar-benar diawasi agar tepat sasaran dan tidak hanya menguntungkan pihak tertentu.
“Kalau seperti ini, bukan memberi makan siswa, tapi justru menguntungkan pihak yang mengelola dapur,” tambahnya.
Sementara itu, Jawa Pos Radar Situbondo telah berupaya melakukan konfirmasi kepada Kepala SPPG 514 Kotakan Yayasan Arsa Bakti Maritim, Alib Yugo Nugroho.
Namun hingga berita ini diterbitkan, yang bersangkutan belum memberikan tanggapan terkait keluhan yang muncul sebelum temuan buah salak busuk tersebut. (rif/pri)
Editor : Edy Supriyono