RADARSITUBONDO.ID – Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di Desa Kesambirampak, Kecamatan Kapongan, kembali menjadi sorotan. Sejumlah wali murid mengeluhkan kualitas Makan Bergizi Gratis (MBG) yang diterima siswa karena dinilai kurang layak dikonsumsi. Pasalnya, buah jenis jeruk untuk siswa disebut sudah dalam kondisi busuk.
Keluhan tersebut mencuat setelah para siswa membawa pulang makanan dari program MBG pada Senin (2/3). Para orang tua mendapati buah yang disajikan sudah menghitam, berair, dan tidak segar. Kondisi itu memicu kekhawatiran jika kejadian serupa terus berulang.
“Saya khawatir kalau kejadian seperti ini terus terjadi. Ini kan untuk anak-anak, jadi harus benar-benar diperhatikan kualitas dan kebersihannya,” ujar salah satu wali murid yang enggan disebutkan namanya, Selasa (3/3).
Menurutnya, persoalan serupa bukan kali pertama terjadi. Ia menilai teguran yang pernah disampaikan berbagai pihak seolah tidak membawa perubahan berarti.
“Sudah beberapa kali ada teguran, baik dari kecamatan maupun dewan. Bahkan bupati juga sudah angkat suara. Tapi kenapa masih seperti ini? Seakan-akan bagusnya hanya sesaat,” keluhnya.
Dia menegaskan, sebagai orang tua tentu tidak ingin terjadi hal-hal yang tidak diinginkan, apalagi menyangkut makanan dari program pemerintah. “Kalau seperti ini, lebih baik tidak usah dapat MBG sekalian. Kekhawatiran orang tua itu lebih penting. Ini memang gratis, tapi dananya dari uang rakyat,” ujarnya.
Wali murid tersebut juga mempertanyakan aspek gizi dari makanan yang dibagikan jika kualitasnya tidak terjaga. Ia khawatir apabila buah yang sudah tidak layak konsumsi tetap dimakan siswa dapat menimbulkan gangguan kesehatan, seperti sakit perut. “Ini bukan sekadar matang, tapi sudah hitam karena busuk dan berair,” tegasnya.
Sementara itu, Kepala SPPG Kesambirampak, Faiq, mengatakan bahwa apabila terdapat buah dalam kondisi kurang baik, biasanya langsung dilaporkan melalui grup koordinasi yang telah dibentuk. Menurutnya, buah tersebut bukan busuk, melainkan hanya berubah warna pada bagian kulitnya. “Mungkin hanya warnanya saja yang terlihat hitam sehingga dianggap busuk. Kalau memang ada yang terlewat, kemungkinan petugas tidak sengaja,” ujarnya. (rif/pri)
Editor : Edy Supriyono