Anime Berita Daerah Edukasi Ekonomi Bisnis Health Internasional Kasuistika Khazanah Kuliner Lifestyle Nasional Opini Otomotif Politik & Pemerintahan Seni & Budaya Sport Teknologi Travelling

Harga Minyak Meroket Gara-Gara Perang, Pemerintah Jamin Pertalite Tak Naik hingga Lebaran

Bayu Shaputra • Kamis, 5 Maret 2026 | 20:41 WIB

Daftar harga BBM Pertamina per 1 Desember 2025.
Daftar harga BBM Pertamina per 1 Desember 2025.

RADARSITUBONDO.ID - Masyarakat tak perlu khawatir soal harga BBM subsidi. Pemerintah memastikan harga Pertalite bakal tetap stabil meski harga minyak dunia melonjak akibat konflik di Timur Tengah.

Penegasan itu disampaikan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia saat konferensi pers di Kantor Kementerian ESDM, Jakarta, Selasa (3/3).

Ia menegaskan, berapapun kenaikan harga minyak global, tarif Pertalite tidak akan berubah selama belum ada keputusan resmi dari pemerintah.

“Sepanjang belum ada keputusan pemerintah, harga BBM subsidi, termasuk Pertalite, tetap,” tegasnya.

Kondisi berbeda berlaku untuk BBM nonsubsidi seperti Pertamax. Untuk jenis ini, harga tetap mengikuti fluktuasi minyak mentah dunia. Artinya, konsumen Pertamax harus siap dengan kemungkinan adanya penyesuaian harga jika tren kenaikan global berlanjut.

Saat ini, harga minyak mentah dunia sudah menyentuh kisaran 78 hingga 80 dolar AS per barel. Angka tersebut melampaui asumsi harga minyak dalam APBN 2026 yang dipatok di level 70 dolar AS per barel.

Lonjakan harga dipicu ketegangan geopolitik antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran. Eskalasi konflik di kawasan tersebut membuat pasar energi global bergejolak.

Sebagai negara net importir, Indonesia masih mengimpor sekitar 1 juta barel minyak per hari. Kondisi ini membuat kenaikan harga global berpotensi membengkakkan subsidi energi dalam APBN.

Namun, pemerintah melihat ada sisi positif dari kenaikan harga tersebut. Indonesia juga memproduksi sekitar 600 ribu barel minyak per hari. Kenaikan harga global otomatis meningkatkan potensi penerimaan negara dari sektor hulu migas.

“Selisih antara beban impor dan pendapatan produksi ini sedang kami hitung dengan cermat,” jelas Bahlil.

Perhitungan tersebut, lanjutnya, dilakukan secara hati-hati karena menyangkut kebijakan subsidi energi yang berdampak langsung pada daya beli masyarakat dan stabilitas ekonomi nasional.

Hingga kini, setelah rapat bersama Dewan Energi Nasional, pemerintah belum memiliki rencana menaikkan harga BBM bersubsidi. Bahlil bahkan memberikan jaminan khusus menjelang Ramadan dan Idulfitri.

“Sampai Hari Raya nanti, aman-aman saja. Puasa yang baik, Insya Allah belum ada kenaikan,” ujarnya.

Pernyataan ini sekaligus meredam kekhawatiran publik di tengah kenaikan harga minyak dunia yang menembus asumsi APBN.

 

Ketegangan geopolitik di Timur Tengah semakin memanas setelah serangan militer yang melibatkan Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran pada 28 Februari 2026.

Sebagai respons, Iran menutup Selat Hormuz yang menjadi jalur vital perdagangan minyak dunia. Sekitar seperlima pasokan minyak global (atau sekitar 20 juta barel per hari) melewati jalur tersebut. Penutupan ini memicu lonjakan harga di pasar internasional.

Meski demikian, pemerintah optimistis dapat menjaga stabilitas harga dan pasokan energi nasional. Koordinasi lintas kementerian dan lembaga terus diperkuat untuk memastikan masyarakat dapat menjalani ibadah puasa dan merayakan Lebaran dengan tenang.

Dengan berbagai langkah mitigasi tersebut, pemerintah berharap gejolak global tidak langsung berdampak pada harga BBM subsidi di dalam negeri. Fokus utama tetap pada menjaga daya beli rakyat serta stabilitas ekonomi nasional di tengah ketidakpastian global.

Editor : Agung Sedana
#Konflik Timur Tengah #BBM subsidi #Harga Pertalite #Bahlil Lahadalia