RADARSITUBONDO.ID - Sementara itu, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Situbondo mencatat dampak cuaca ekstrem yang melanda sejumlah kecamatan di Situbondo pada Sabtu (7/3) malam menyebabkan banyak warga terdampak. Diperkirakan lebih dari sebelas ribu rumah mengalami kerusakan. Skala bencana kali ini juga dinilai jauh lebih besar dibandingkan kejadian Februari lalu.
Kepala Pelaksana BPBD Situbondo, Timbul Surjanto, menegaskan bahwa bencana yang terjadi kali ini skalanya jauh lebih besar dibandingkan sebelumnya. Ini karena tidak hanya banjir yang terjadi, tetapi juga angin puting beliung di sejumlah lokasi berbeda.
“Kalau yang sebelumnya itu yang terdampak sekitar delapan ribu rumah. Saya kira kalau saat ini bisa lebih dari itu, kemungkinan besar bisa mencapai sebelas ribu warga yang terdampak,” katanya.
Timbul menambahkan, saat ini status kebencanaan di Situbondo telah dinaikkan oleh bupati dari siaga bencana menjadi tanggap darurat bencana. Keputusan tersebut diambil karena kondisi bencana yang melanda cukup luas, termasuk banjir yang kembali terjadi di wilayah Besuki.
“Iya, untuk pendataan asesmen seperti kerusakan ringan, sedang, dan berat memang belum selesai. Jadi untuk semua pihak kami mohon bantuannya,” imbuhnya.
Menurut Timbul, situasi saat ini juga masih belum sepenuhnya aman dari potensi bencana. Kondisi cuaca masih terlihat mendung disertai angin yang cukup kencang sehingga dikhawatirkan dapat memicu bencana susulan.
“Kalau dilihat dari prediksi BMKG memang sampai bulan Maret masih berpotensi. Tetapi terkadang juga bisa meleset seperti yang terjadi saat ini,” jelasnya.
Dia menekankan kepada masyarakat agar tetap waspada dan melakukan antisipasi, mengingat cuaca ekstrem masih berpotensi terjadi. “Untuk semua warga tetap selalu waspada dan mengantisipasi cuaca ekstrem ini, karena dikhawatirkan bisa terjadi bencana susulan,” ungkapnya.
Sementara itu, Bupati Situbondo, Yusuf Rio Wahyu Prayogo, menaikkan status penanganan bencana seperti banjir dan pohon tumbang akibat cuaca ekstrem menjadi tanggap darurat. Keputusan tersebut diambil setelah dampak bencana dinilai semakin membahayakan warga.
“Saya kira ini sudah levelnya harus kita naikkan ke tanggap darurat, karena sudah membahayakan. Juga ada laporan dua orang di dua desa yang berbeda hilang,” ujarnya.
Bupati Rio, sapaan akrabnya, menambahkan bahwa bencana yang terjadi pada Sabtu, 7 Maret 2026 malam memiliki dampak lebih besar dibandingkan banjir yang terjadi pada 21 Januari 2026 lalu. “Lebih besar daripada yang tanggal 21 Januari. Arusnya lebih deras, banyak pohon yang tumbang, banyak rumah dan pagar yang hancur. Ini saya habis keliling,” ujarnya. (rif/pri)
Editor : Edy Supriyono