RADARSITUBONDO.ID - Banjir yang menerjang beberapa wilayah di Situbondo membuat lahan pertanian terdampak semakin luas. Sebelumnya, lahan yang hilang akibat tergerus arus air tercatat sekitar 5,5 hektare di Desa Bloro. Namun setelah banjir kedua, luasan lahan yang rusak diperkirakan semakin bertambah.
Bupati Situbondo, Yusuf Rio Wahyu Prayogo, menginformasikan bahwa dirinya telah menerima laporan dari Dinas Pertanian terkait dampak banjir yang terjadi pada Sabtu lalu. Kepastian jumlah sawah yang terdampak hingga kini masih dalam pendataan.
Dipastikan, akibat kejadian tersebut, luas lahan yang terdampak semakin bertambah sehingga banyak tanaman rusak, bahkan terancam gagal panen. Para petani juga masih khawatir untuk kembali menanami lahannya.
“Sementara itu, untuk wilayah Kecamatan Kendit hingga tadi malam luasan lahan yang terdampak banjir masih tercatat sekitar 253 hektare,” katanya.
Dia menambahkan, sejumlah lahan yang sebelumnya sudah ditanami lagi, juga kembali tergerus oleh derasnya hujan. Saat ini, pihak terkait masih menunggu laporan dari petugas Pengendali Organisme Pengganggu Tumbuhan (POPT) untuk memastikan status kerusakan lahan tersebut.
“Kondisi ini membuat banyak petani belum berani menanam kembali karena khawatir hujan deras kembali terjadi,” imbuhnya.
Bupati juga menjelaskan bahwa terdapat beberapa lahan yang berada di daerah cekungan sehingga air banjir menggenang dan menyebabkan kerusakan lahan milik petani semakin tidak menentu. Padahal, sebagian lahan tersebut sudah memasuki masa panen, sementara sebagian lainnya sedang dalam masa penanaman.
“Sebagian lahan pertanian yang berada di daerah cekungan, khususnya di sekitar Jembatan Midun, hingga kini masih tergenang air karena tidak memiliki saluran pembuangan yang memadai,” jelasnya.
Selain itu, kondisi aliran sungai di bawah Jembatan Midun juga dinilai semakin menyempit akibat tersumbat sampah serta sedimentasi yang cukup tebal. “Kondisi tersebut perlu segera dilakukan normalisasi agar aliran air sungai dapat kembali lancar,” ucapnya.
Bupati menegaskan bahwa pihaknya telah mengambil sejumlah langkah penanganan dengan mengirimkan instruksi agar segera dilakukan normalisasi pada sejumlah sungai yang dinilai berpotensi berdampak pada lahan pertanian di Situbondo. “Di antaranya dengan mengirimkan surat kepada Dinas Pekerjaan Umum dan Perumahan Permukiman (DPUPP) agar normalisasi sungai dapat segera dijadwalkan,” jelasnya.
Menurutnya, koordinasi juga dilakukan dengan pihak PG Wringin Anom. Pasalnya, di sungai tersebut terdapat rel kereta pengangkut tebu milik pabrik gula yang masih digunakan dan menjadi salah satu titik tersangkutnya sampah. “Pihak PG Wringin Anom menyatakan kesiapannya untuk bersama-sama melakukan pembersihan sampah di sekitar rel tersebut serta akan berkoordinasi lebih lanjut dengan DPUPP dalam upaya normalisasi aliran sungai,” pungkasnya. (rifpri)
Editor : Edy Supriyono