RADARSITUBONDO.ID – Arus pemudik dengan tujuan kepulauan Madura melalui Pelabuhan Jangkar, Situbondo, terus meningkat. Lonjakan ini terjadi seiring semakin dekatnya perayaan Idul Fitri 1447 Hijriah. Jumlah penumpang feri rute Situbondo–Madura meningkat hingga sekitar 60 persen dibandingkan hari normal.
Supervisor PT ASDP Indonesia Ferry Cabang Ketapang yang membawahi Pelabuhan Jangkar, Slamet Santoso menyebutkan, pada malam H-11 Lebaran, KMP Dharma Kartika yang melayani rute Pelabuhan Jangkar menuju Pulau Raas, Kabupaten Sumenep, mengangkut sekitar 324 penumpang serta sejumlah kendaraan roda dua dan mobil pribadi.
“Lebih dari 300 penumpang tujuan Jangkar–Raas terangkut seluruhnya. Mereka menaiki KMP Dharma Kartika yang diperkirakan sampai tujuan dalam waktu sekitar enam jam. Kalau perjalanan lancar, sekitar lima hingga enam jam sudah sampai,” tambahnya.
Slamet menjelaskan, angkutan Lebaran 2026 untuk rute ke beberapa kepulauan di Kabupaten Sumenep, seperti Pulau Raas, Sapudi, Kalianget, dan Kangean, dilayani tiga kapal feri. Yakni, KMP Munggiyango Hulalo, KMP Wicitra Dharma I, dan KMP Dharma Kartika.
Selain itu juga ditambah armada milik PT Dharma Dwipa Utama serta ekstra trip selama arus mudik dan arus balik Lebaran. Ini dilakukan untuk mengurai kepadatan penumpang. “Kami telah melakukan persiapan cukup matang untuk melayani pemudik pada momentum Lebaran tahun ini,” ujarnya.
Dia juga menjelaskan adanya penambahan trip keberangkatan dari tiga kapal feri tersebut untuk mengantisipasi potensi penumpukan pemudik di Pelabuhan Jangkar. Terlebih kondisi cuaca yang saat ini tidak menentu. “Ada tambahan trip dan juga ekstra trip untuk memaksimalkan pelayanan bagi warga kepulauan sekaligus mengurai kepadatan pemudik,” ungkapnya.
Sementara itu, salah seorang pemudik asal Pulau Raas, Kabupaten Sumenep, Samiya mengaku memilih mudik lebih awal karena khawatir terjadi kepadatan penumpang saat mendekati Lebaran. “Kalau sudah ramai penumpang di pelabuhan pasti berdesakan. Makanya saya mudik lebih awal agar tidak terlalu ramai,” katanya.
Samiya pulang kampung bersama suami dan anaknya. Ia bekerja di Bali dan hanya pulang ke kampung halaman setahun sekali, yakni saat momentum lebaran Idul Fitri. “Pulangnya setahun sekali. Rindu kampung halaman dan rindu rumah,” ujarnya. (rif/pri)
Editor : Edy Supriyono