Anime Berita Daerah Edukasi Ekonomi Bisnis Health Internasional Kasuistika Khazanah Kuliner Lifestyle Nasional Opini Otomotif Politik & Pemerintahan Seni & Budaya Sport Teknologi Travelling

BMKG Prediksi Idul Fitri 1447 H Jatuh 21 Maret 2026, Hilal 19 Maret Belum Penuhi Kriteria MABIMS

Bayu Shaputra • Kamis, 12 Maret 2026 | 22:35 WIB

Ilustrasi petugas pemantauan hilal.
Ilustrasi petugas pemantauan hilal.

RADARSITUBONDO.ID - Hari Raya Idul Fitri 1447 Hijriah berpotensi jatuh pada Sabtu, 21 Maret 2026. Prediksi tersebut disampaikan oleh Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) berdasarkan perhitungan astronomi terkait posisi hilal menjelang akhir bulan Ramadhan.

BMKG menyebutkan, posisi Bulan saat pengamatan pada Kamis, 19 Maret 2026 diperkirakan belum memenuhi kriteria visibilitas hilal yang ditetapkan oleh MABIMS (Menteri Agama Brunei Darussalam, Indonesia, Malaysia, dan Singapura). Jika kondisi tersebut terjadi, maka bulan Ramadhan kemungkinan akan digenapkan menjadi 30 hari.

Dengan demikian, 1 Syawal 1447 Hijriah diperkirakan jatuh pada Sabtu, 21 Maret 2026.

Baca Juga: Menu MBG Mimbaan 003 Disorot Wali Murid, Hanya 4 Kelengkeng dan Jagung Goreng, Dinilai Tak Layak untuk Anak Sekolah

Berdasarkan data astronomi BMKG, peristiwa konjungsi atau ijtimak akan terjadi pada Kamis, 19 Maret 2026 pukul 08.23.23 WIB. Konjungsi merupakan momen ketika posisi Matahari dan Bulan berada pada garis bujur ekliptika yang sama jika dilihat dari pusat Bumi.

Peristiwa ini menandai pergantian bulan dalam kalender Hijriah secara astronomis. Namun, penentuan awal bulan Hijriah dalam praktiknya tidak hanya bergantung pada konjungsi, tetapi juga pada kemungkinan terlihatnya hilal setelah Matahari tenggelam.

Oleh karena itu, pengamatan hilal pada sore hingga malam hari menjadi faktor penting dalam menentukan awal bulan Syawal.

Baca Juga: Proyek GOR Situbondo Dilaporkan ke Kejaksaan, Biaya Komitmen Aktivis PMII Bongkar Dugaan Rp 3,5 Miliar

BMKG menjelaskan bahwa pada saat Matahari terbenam pada tanggal 19 Maret 2026, ketinggian hilal di wilayah Indonesia diperkirakan masih relatif rendah.

Di bagian timur Indonesia, seperti di Merauke, Papua, tinggi hilal diperkirakan sekitar 0,91 derajat. Sementara itu, di wilayah barat Indonesia seperti Sabang, Aceh, ketinggiannya sekitar 3,13 derajat.

Selain itu, elongasi geosentris atau jarak sudut antara Bulan dan Matahari juga masih berada di bawah ambang batas yang disyaratkan.

BMKG mencatat elongasi berkisar antara 4,54 derajat di Waris, Papua hingga sekitar 6,1 derajat di Banda Aceh.

Baca Juga: 4 Hari Hilang Terseret Banjir, Warga Jatibanteng Ditemukan Tewas Membusuk Nyangkut di Pohon Sungai

Sejak tahun 2021, negara-negara anggota MABIMS menerapkan kriteria baru dalam penentuan awal bulan Hijriah. Kriteria tersebut menetapkan bahwa hilal dianggap memenuhi syarat jika memiliki tinggi minimal 3 derajat dan elongasi minimal 6,4 derajat

Dalam perhitungan BMKG, sebagian besar wilayah Indonesia belum memenuhi kedua parameter tersebut pada 19 Maret 2026. Artinya, peluang terlihatnya hilal sangat kecil.

Jika hilal tidak terlihat dalam rukyat, maka bulan Ramadhan akan disempurnakan menjadi 30 hari (istikmal), sehingga Hari Raya Idul Fitri diperkirakan jatuh pada tanggal 21 Maret 2026.

Baca Juga: H-11 Lebaran, Arus Mudik Pelabuhan Jangkar Melonjak 60 Persen, ratusan Penumpang Serbu Kapal ke Madura

Prediksi serupa juga disampaikan oleh peneliti dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Thomas Djamaluddin.

Ia menjelaskan bahwa posisi hilal saat Maghrib pada 19 Maret di kawasan Asia Tenggara umumnya masih berada di bawah kriteria visibilitas MABIMS.

Baca Juga: Ngutang Rp 1 Juta Berujung Tagihan Rp 32 Juta, Pasutri di Situbondo Dilaporkan ke Polisi

BMKG juga mengingatkan adanya faktor astronomis lain yang dapat mempengaruhi proses pengamatan hilal.

Pada saat rukyat 19 Maret, planet Saturnus diperkirakan berada cukup dekat dengan Bulan di langit barat setelah Matahari terbenam.

Jarak sudut antara Bulan dan Saturnus diperkirakan kurang dari 10 derajat. Kedekatan ini berpotensi menimbulkan kebingungan pada saat proses rukyat, terutama bagi pengamat yang menggunakan teleskop atau kamera astronomi.

Oleh karena itu, para perukyat diminta lebih cermat dalam membedakan objek langit agar tidak terjadi kesalahan identifikasi antara hilal dan objek astronomis lainnya.

Baca Juga: Jelang Idul Fitri, Polisi Perketat Penjagaan Toko Emas di Pasar Mimbaan, Modus Pencurian Pura-Pura Beli Diwaspadai

Meski secara astronomi sudah dapat diperkirakan, penentuan resmi awal Syawal di Indonesia tetap menunggu keputusan pemerintah melalui sidang isbat.

Sidang tersebut akan digelar oleh Kementerian Agama Republik Indonesia pada Kamis, 19 Maret 2026.

Dalam sidang tersebut, pemerintah akan mempertimbangkan dua metode penentuan awal bulan Hijriah, yakni Hisab (perhitungan astronomi) dan Rukyat (pengamatan hilal langsung)

Hasil pengamatan hilal dari berbagai titik di seluruh Indonesia akan menjadi bahan pertimbangan sebelum keputusan resmi diumumkan kepada masyarakat.

Jika hasil rukyat menyatakan hilal tidak terlihat, maka Ramadhan akan digenapkan menjadi 30 hari dan 1 Syawal 1447 Hijriah ditetapkan pada Sabtu, 21 Maret 2026.

Baca Juga: Pemeliharaan Gelora Situbondo Diperdebatkan, DPUPP Sebut Masih Tanggung Jawab Kontraktor

BMKG mengimbau masyarakat untuk menunggu hasil sidang isbat sebagai keputusan resmi pemerintah terkait penetapan Hari Raya Idul Fitri.

Mengingat data astronomi saat ini, peluang Idul Fitri jatuh pada 21 Maret 2026 dinilai cukup besar. Namun demikian, kepastian tanggal tetap akan ditentukan setelah proses rukyat hilal dilakukan di berbagai wilayah Indonesia.

Keputusan tersebut nantinya akan diumumkan secara resmi oleh pemerintah setelah sidang isbat selesai dilaksanakan.

Editor : Agung Sedana
#Idul Fitri 1447 Hijriah #bmkg