RADARSITUBONDO.ID – Sejumlah warga di Kecamatan Banyuglugur dan sekitarnya mengalami trauma akibat terjangan banjir yang seolah tak berkesudahan. Pertama kali mereka dihantam banjir pada 21 Januari 2026, namun pada Sabtu (7/3) lalu, bencana alam serupa kembali melanda. Mereka khawatir banjir akan datang lagi dengan lebih dahsyat.
Warga mengaku lelah dengan situasi yang terus berulang. Banjir seakan tidak bisa lepas dari benak pikiran. Setiap kali langit terlihat gelap dengan awan hitam pertanda hujan akan turun, saat itulah warga mulai gelisah.
Peralatan rumah tangga seperti kasur, sofa, barang berharga, dan lainnya langsung diamankan dengan cara dinaikkan ke tempat yang lebih tinggi agar tidak terkena air ketika banjir kembali melanda. “Perasaan was-was, takut, dan khawatir bercampur aduk seakan menghantui kami setiap saat,” kata Haikal, warga Desa Kalianget, Kecamatan Banyuglugur.
Menurutnya, untuk menjalani kehidupan sehari-hari dengan aman dan nyaman seakan tidak ada harapan lagi. Warga kehilangan semangat karena banjir yang datang membawa air bercampur lumpur bukan hanya menggenangi halaman rumah, tetapi juga masuk ke dalam rumah. “Kami hanya bisa membersihkan lumpur yang bercampur air dan masuk ke lantai rumah. Selebihnya tidak bisa berbuat apa-apa,” jelas Haikal.
Dengan nada lirih, Haikal mengaku dirinya dan keluarga sudah berusaha tegar menghadapi kondisi tersebut. Namun rasa trauma masih terus menghantui, apalagi setelah banjir kembali terjadi dengan kondisi yang lebih besar dan menakutkan. “Kami bersama keluarga hanya bisa pasrah menjalani semua ini. Entah bagaimana cara keluar dari musibah yang terus terjadi ini,” ungkapnya.
Sementara itu, warga lainnya, Her, mengatakan di Desa Kalianget sedikitnya sekitar empat RT rumahnya sempat terendam banjir saat kejadian tersebut. Hingga saat ini warga masih terus waspada karena sebagian peralatan rumah tangga seperti tempat tidur dan barang lainnya masih dijemur di bawah terik matahari.
Jika hujan kembali turun, warga khawatir banjir akan kembali terjadi. “Mau tenang bagaimana, ketika mendung datang warga sudah bersiap siaga untuk mengamankan barang-barang berharga,” ujarnya.
Menurutnya, warga kini hidup dalam rasa khawatir yang berkepanjangan. Mereka tidak bisa menjalani kehidupan dengan tenang karena selalu dibayangi ketakutan akan banjir yang sewaktu-waktu bisa kembali datang.
Saat ini warga hanya bisa membersihkan sisa lumpur dan berpasrah diri, dengan harapan kejadian tersebut merupakan ujian dari Tuhan. “Tidak ada pilihan lain, warga hanya bisa berharap para pengambil kebijakan melakukan upaya agar kami bisa terbebas dari ketakutan akibat banjir yang terus terjadi,” pungkasnya. (rif/pri)
Editor : Edy Supriyono