Anime Berita Daerah Edukasi Ekonomi Bisnis Health Internasional Kasuistika Khazanah Kuliner Lifestyle Nasional Opini Otomotif Politik & Pemerintahan Seni & Budaya Sport Teknologi Travelling

Rumah Masih Penuh Lumpur, Warga Banyuglugur Rela Batal Mudik Demi Bersihkan Sisa Banjir

Moh Humaidi Hidayatullah • Minggu, 15 Maret 2026 | 16:06 WIB

HANYA BISA PASRAH: Salah satu warga berdiam diri di depan rumahnya yang terdampak banjir di Desa Kalianget, Kecamatan Banyuglugur, Jumat (13/3).
HANYA BISA PASRAH: Salah satu warga berdiam diri di depan rumahnya yang terdampak banjir di Desa Kalianget, Kecamatan Banyuglugur, Jumat (13/3).

RADARSITUBONDO.ID – Sejumlah warga di Kecamayan Banyuglugur yang terdampak banjir kini tidak lagi memikirkan Lebaran Idul Fitri ataupun rencana mudik. Mereka lebih fokus membersihkan rumah yang terdampak banjir. Tidak hanya terendam air, rumah warga juga dipenuhi lumpur, baik di halaman maupun di dalam rumah.

Banjir yang melanda pada Sabtu (7/3) lalu membuat warga Kampung Kalianget, Kecamatan Banyuglugur harus mengubur harapan untuk mudik atau merayakan lebaran seperti biasanya. Mereka disibukkan dengan membersihkan sampah dan lumpur yang mengotori rumah.

“Yang lain mungkin memikirkan Lebaran, tapi di sini sudah tidak lagi. Kami sudah tidak bisa memikirkan mudik atau merayakan Lebaran,” kata Pak Eer, salah satu warga Banyuglugur yang terdampak banjir.

Menurutnya, sulit bagi warga memikirkan Lebaran ketika kondisi lingkungan masih belum pulih. Lumpur yang menutupi halaman rumah warga tidak hanya membuat pemandangan tidak enak dilihat, tetapi juga menyulitkan aktivitas, terutama jika hujan kembali turun yang membuat jalan menjadi becek.

“Jalan sudah agak mendingan karena kemarin warga bersama-sama membersihkannya. Sekarang tinggal halaman rumah masing-masing yang masih dibersihkan. Bahkan ada yang belum sempat membersihkan karena sudah kelelahan akibat kejadian banjir yang berulang,” jelasnya.

Pak Eer, sapaan akrabnya, menjelaskan banjir kali ini merupakan yang terbesar sepanjang dirinya ada di tempat tersebut. Sebelumnya, air hanya naik sedikit ke permukaan. Namun banjir yang terjadi untuk ketiga kalinya ini jauh lebih tinggi dan dampaknya lebih besar.

“Tidak ada satu pun rumah yang selamat dari banjir. Semua rumah terendam, bahkan rumah yang terlihat lebih tinggi pun tetap terdampak,” ungkapnya.

Dia menambahkan, jika sebelumnya banjir hanya setinggi perut orang dewasa, kali ini ketinggian air mencapai dada orang dewasa. Selain itu, lumpur yang terbawa banjir juga semakin banyak sehingga membuat warga merasa frustasi. “Mudah-mudahan ada hikmah di balik semua ini,” ucapnya.

Hal serupa juga dirasakan Sutini. Setiap kali banjir terjadi, barang-barang berharga yang tidak sempat diselamatkan sering kali rusak, seperti televisi, kulkas, dan peralatan rumah tangga lainnya. “Kalau banjir datang, kami hanya fokus menyelamatkan diri. Barang-barang tidak sempat diselamatkan sehingga banyak yang rusak karena kemasukan air,” ujarnya.

Dia mengaku saat ini tidak lagi memikirkan kebutuhan Lebaran. Yang menjadi prioritas adalah memperbaiki rumah dan menata kembali tempat tinggal agar kembali nyaman ditempati. “Sudah tidak kepikiran Lebaran. Yang ada sekarang bagaimana memperbaiki rumah dan membuat tempat istirahat yang nyaman,” katanya.

Menurutnya, kondisi ekonomi yang sedang sulit juga membuat beban warga semakin berat. Selain harus memenuhi kebutuhan sehari-hari, mereka juga harus mengeluarkan biaya untuk memperbaiki rumah yang rusak akibat banjir. “Mudah-mudahan tidak turun hujan lagi dan tidak terjadi banjir kembali,” ungkapnya. (rif/pri)

Editor : Edy Supriyono
#banjir situbondo #gagal mudik