RADARSITUBONDO.ID – Akses jalan utama warga Desa Sliwung, Kecamatan Panji, untuk sementara waktu tidak bisa dilewati.
Pasalnya, jembatan sederhana yang dibangun rendah di atas aliran sungai (Timpas) tersebut tertutup tumpukan kayu maupun bambu yang terbawa arus banjir dari hulu.
Pemandangan ini menjadi tontonan warga.
Hampir setiap musim hujan, saat debit air meningkat dan menyebabkan banjir, akses tersebut memang kerap tidak bisa dilalui.
Air yang menutupi permukaan jembatan berisiko bagi pengendara jika tetap memaksakan melintas.
Namun, kondisi saat ini diperparah dengan adanya tumpukan kayu dari hulu yang menyangkut di badan jembatan.
“Saat ini warga bersama beberapa pihak melakukan pembersihan di jembatan, dan banyak warga yang menonton karena belum pernah terjadi seperti saat ini,” kata Fatima, 65, warga Desa Sliwung, Selasa (31/3).
Menurut dia, banyak kendaraan terpaksa putar balik karena tidak bisa melintas akibat tumpukan kayu tersebut.
Warga juga harus memutar ke jalur lain yang jaraknya cukup jauh untuk beraktivitas, termasuk bekerja. Kondisi ini kerap dikeluhkan, terutama saat musim hujan.
“Kalau musim hujan pasti seperti ini. Tapi biasanya setelah air surut bisa kembali dilewati. Namun sekarang banyak kayu yang menyangkut di jembatan sehingga tidak bisa lewat,” tambahnya.
Fatima menjelaskan, meski di Situbondo tidak turun hujan, di wilayah selatan terlihat awan hitam menggumpal. Kemungkinan besar hujan terjadi di daerah hulu, seperti Bondowoso, sehingga banjir membawa material seperti ranting, kayu, bambu, dan sampah yang kemudian tersangkut di jembatan.
“Lihat saja, tumpukan kayunya sangat banyak. Kalau tidak menggunakan alat berat, kemungkinan sampai besok tidak akan selesai,” jelasnya.
Dia berharap ada anggaran untuk perbaikan jembatan agar tetap bisa dilalui meski terjadi banjir atau peningkatan debit air. Pasalnya, jembatan tersebut merupakan akses utama warga.
Jika tidak bisa dilewati, warga harus memutar ke jalur utara yang jaraknya lebih jauh. “saya harap jembatan ini bisa diperbaiki seperti jembatan lainnya, sehingga meski banjir tetap bisa dilewati,” ujarnya.
Sementara itu, warga lainnya, Handi, mengatakan masyarakat bergotong royong membersihkan tumpukan kayu yang menyangkut di jembatan agar bisa kembali dilalui.
“Banyak warga berkumpul. Para bapak membantu membersihkan, sementara ibu-ibu ada yang menyiapkan kopi dan makanan,” katanya.
Beruntung, debit air tidak terlalu besar karena di wilayah tersebut tidak terjadi hujan.
Namun, bagian jalan di sisi utara jembatan hampir tergerus akibat beban kayu yang menumpuk di tengah jembatan.
Jika tidak segera ditangani, kondisi jembatan dikhawatirkan akan semakin parah, bahkan berpotensi putus.
“Di sebelah utara sudah mulai renggang dan hampir terbawa arus. Bisa-bisa putus dan rusak berat jika terus terjadi seperti ini,” ucapnya. (rif/pri)
Editor : Edy Supriyono