RADARSITUBONDO.ID – SMAN 1Situbondo gencar melakukan sosialisasi terkait hemat energi serta penerapan Standar Operasional Prosedur (SOP) pengendalian penggunaan gadget di lingkungan sekolah. Upaya tersebut tidak hanya berdampak pada lingkungan, tetapi juga diharapkan berbuah prestasi akademik yang membanggakan.
Buktinya, sebanyak 44 siswa sekolah tersebut berhasil lolos Seleksi Nasional Berdasarkan Prestasi (SNBP). Bahkan, dua di antaranya diterima di Universitas Indonesia (UI).
Dari total 44 siswa yang lolos SNBP, selain dua siswa di UI, terdapat empat siswa diterima di Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS), tiga siswa di Universitas Negeri Surabaya (UNESA), enam siswa di Universitas Negeri Malang (UM), satu siswa di Politeknik Negeri Jember (Polije), dua siswa di Universitas Airlangga (Unair), dua siswa di Universitas Brawijaya (UB), serta sebelas siswa di Universitas Jember (Unej).
Kepala SMAN 1 Situbondo, Dwi Retno Susanti, M.Pd., menyampaikan rasa syukur atas capaian tersebut. Menurutnya, keberhasilan ini merupakan hasil kerja keras seluruh pihak, mulai dari siswa, guru, hingga dukungan orang tua. Selain fokus pada akademik, sekolah juga aktif menanamkan nilai-nilai disiplin melalui program edukasi hemat energi dan penerapan SOP di lingkungan sekolah.
“Sosialisasi ini dilakukan sesuai dengan imbauan gubernur untuk menghemat energi,” ujarnya.
Dia menambahkan, kondisi saat ini menuntut seluruh masyarakat untuk melakukan penghematan energi dengan berbagai cara, salah satunya dengan membiasakan penggunaan transportasi ramah lingkungan. “Bisa menggunakan sepeda untuk berangkat ke sekolah, menggunakan satu kendaraan bersama, atau bahkan berjalan kaki bagi yang jaraknya dekat,” ungkapnya.
Selain itu, pihak sekolah juga melakukan sosialisasi terkait penggunaan handphone (HP) bagi siswa. Hal ini sejalan dengan imbauan dari dinas pendidikan agar siswa mengurangi penggunaan gadget yang tidak mendukung proses pembelajaran.
“Boleh membawa HP, tetapi hanya digunakan pada jam tertentu dan untuk kepentingan edukasi,” jelasnya.
Retno, sapaan akrabnya, menegaskan bahwa penggunaan HP diperbolehkan jika dibutuhkan oleh guru mata pelajaran. Namun, jika tidak diperlukan, siswa tidak diperkenankan menggunakannya.
“Tujuannya agar proses belajar lebih efektif. Karena masih banyak siswa yang saat jam pembelajaran justru membuka aplikasi yang tidak dibutuhkan, seperti TikTok dan lainnya,” pungkasnya. (rif/pri)
Editor : Edy Supriyono