RADARSITUBONDO.ID - Pemerintah membuka peluang untuk mengimpor minyak dari Rusia seiring terganggunya pasokan energi global akibat eskalasi konflik di Timur Tengah.
Situasi ini dipicu oleh penutupan Selat Hormuz oleh Iran setelah mendapat serangan dari Israel dan Amerika Serikat, yang berdampak langsung pada distribusi minyak dunia.
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia menyatakan bahwa pemerintah tidak menutup kemungkinan mengambil langkah tersebut, meski belum ada keputusan final.
Ia menegaskan bahwa dalam kondisi saat ini, pemerintah lebih mengutamakan ketersediaan bahan bakar minyak (BBM) dibandingkan mempertimbangkan asal negara pemasok.
Baca Juga: Rugi WIKA Tembus Rp9,7 Triliun di 2025, Pendapatan Anjlok dan Beban Membengkak
"Kalau sudah jadi (impor minyak dari Rusia) saya akan kabari ya. Tapi sekarang adalah kita dalam kondisi seperti ini selalu membuka opsi dari negara mana saja. Karena hari ini kan kita harus, negara, pemerintah harus menjamin ketersediaan BBM," ujarnya di Kementerian ESDM, Jakarta Pusat, Senin (6/4/2026).
Menurut Bahlil, dinamika pasar energi global saat ini tidak lagi berjalan normal. Ketegangan geopolitik membuat negara-negara berlomba mengamankan pasokan minyak, sehingga fleksibilitas dalam menentukan sumber impor menjadi hal yang tidak terhindarkan.
Ia menekankan bahwa pemerintah tidak berada dalam posisi untuk memilih sumber pasokan secara selektif. Fokus utama saat ini adalah memastikan kebutuhan energi dalam negeri tetap terpenuhi di tengah persaingan global yang semakin ketat.
Baca Juga: Kepala Intelijen IRGC Majid Khademi Tewas, Iran Tuding Serangan AS dan Israel
"Jadi, kita jangan milih-milih sekarang. Kita dari negara mana aja yang penting ada. Itu pun kita masih harus berebut dengan negara lain," tegasnya.
Lebih lanjut, Bahlil menggambarkan kondisi perdagangan minyak yang semakin kompetitif. Bahkan, transaksi yang sudah melalui proses tender pun tidak menjamin kepastian pasokan, karena penjual dapat mengalihkan kargo kepada pihak yang menawarkan harga lebih tinggi.
"Bayangkan sekarang ini, orang udah melakukan tender aja, barangnya udah ada, tapi ketika ada orang lain yang membeli dengan harga lebih tinggi, orang itu atau trader itu atau perusahaan yang menjual itu bisa berpotensi menjual ke orang yang menawar lebih tinggi. Jadi, kita sekarang membuat beberapa alternatif, yang penting bagi kita adalah, bagi pemerintah adalah, menjamin agar BBM di Indonesia tetap ada," jelasnya
Editor : Bayu Shaputra