Anime Berita Daerah Edukasi Ekonomi Bisnis Health Internasional Kasuistika Khazanah Kuliner Lifestyle Nasional Opini Otomotif Politik & Pemerintahan Seni & Budaya Sport Teknologi Travelling

BMKG Sebut Kemarau 2026 Diperkirakan Lebih Awal, Curah Hujan di Bawah Normal

Bayu Shaputra • Selasa, 7 April 2026 | 12:02 WIB
Ilustrasi musim kemarau. (AI)
Ilustrasi musim kemarau. (AI)

 

RADARSITUBONDO.ID - Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika atau BMKG memprediksi kondisi musim kemarau 2026 akan berbeda dibandingkan pola rata-rata dalam tiga dekade terakhir.

Curah hujan diperkirakan berada di bawah normal, sehingga berpotensi memicu kekeringan di sejumlah wilayah.

Kepala BMKG Teuku Faisal Fathani menjelaskan bahwa musim kemarau tahun ini diperkirakan datang lebih cepat sekaligus berlangsung lebih lama.

Awal kemarau disebut mulai terjadi pada April hingga Mei, dengan puncaknya diperkirakan berlangsung pada Agustus sebelum berakhir sekitar September atau awal Oktober.

Baca Juga: BGN Klarifikasi Motor Listrik Viral, Dadan Hindayana: Bukan 70.000 Unit

"Dengan hujan rata-rata di bawah normal dibandingkan musim kemarau selama 30 tahun terakhir, maka kondisi hujan di tahun ini akan lebih rendah atau di bawah normal," kata Teuku Faisal Fathani, Senin sebagaimana dikutip dari Antara, Selasa (7/4/2026).

Ia menegaskan pola ini berbeda dari kondisi normal, karena durasi kemarau cenderung memanjang. "Kemarau akan datang lebih cepat dan lebih panjang. Kita akan memasuki musim kemarau, mulai April atau Mei, puncaknya nanti di Agustus, kemudian nanti berakhir di bulan September atau awal Oktober," lanjutnya.

Selain faktor musiman, BMKG juga terus memantau dinamika fenomena El Nino yang berpengaruh terhadap iklim Indonesia. Hingga saat ini, El Nino terpantau berada pada kategori lemah hingga moderat. Meski tidak ekstrem, kondisi tersebut tetap memberikan kontribusi terhadap penurunan curah hujan selama musim kemarau.

Baca Juga: Polisi Ungkap Penyebab 4 Pekerja Tewas di Proyek TB Simatupang Jagakarsa

Mengantisipasi dampak yang lebih luas, khususnya potensi kebakaran hutan dan lahan, pemerintah melalui Kementerian Kehutanan bekerja sama dengan BMKG menyiapkan langkah mitigasi.

Salah satu strategi yang dilakukan adalah pembasahan kembali lahan gambut atau rewetting menggunakan teknologi Operasi Modifikasi Cuaca.

Langkah ini dilakukan dengan memanfaatkan awan yang tersedia untuk disemai menggunakan bahan tertentu agar menghasilkan hujan buatan. Tujuannya menjaga kelembapan lahan gambut sehingga tidak mudah terbakar saat kemarau mencapai puncaknya.

"Kita melakukan upaya preventif, kita coba melakukan rewetting ketika kita masih punya awan yang bisa kita semai, dengan bahan semai kemudian terjadi hujan itu dapat membasahkan lahan gambut sehingga nantinya potensi terjadinya kebakaran hutan dan lahan ini dapat kita tekan semaksimal mungkin," kata Teuku Faisal Fathan

Editor : Bayu Shaputra
#musim kemarau 2026 #prediksi BMKG #el nino