RADARSITUBONDO.ID - Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) mencatat jumlah guru yang memasuki masa pensiun setiap tahun berada pada kisaran 70.000 hingga 80.000 orang.
Kondisi tersebut berdampak langsung pada meningkatnya kebutuhan tenaga pendidik secara nasional yang hingga kini masih belum sepenuhnya terpenuhi.
Direktur Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan Kemendikdasmen, Nunuk Suryani, menyampaikan bahwa kekurangan guru tidak hanya terjadi dalam satu waktu, tetapi terus bertambah dari tahun ke tahun. Ia menegaskan bahwa kondisi tersebut menjadi pekerjaan rumah besar pemerintah dalam sektor pendidikan.
Baca Juga: Trump Umumkan Gencatan Senjata 10 Hari, PBB Minta Hizbullah Taat
“Setiap tahun guru-guru kita pensiun 70.000 hingga 80.000. Kekurangan ini terus terakumulasi, sehingga pemenuhan kebutuhan guru menjadi prioritas yang harus segera dituntaskan,” ujarnya dalam keterangan tertulis, Kamis (16/4/2026).
Di tengah kondisi tersebut, pemerintah masih mengandalkan keberadaan guru honorer untuk menjaga keberlangsungan proses belajar mengajar di sekolah.
Peran mereka dinilai sangat penting dalam menutup kekurangan tenaga pendidik, terutama di daerah yang belum terpenuhi kebutuhan gurunya.
Baca Juga: Pertama di April 2026, Shio Naga Akan Mengalami Titik Balik yang Tidak Terduga!
Nunuk menegaskan bahwa guru honorer yang saat ini masih aktif diharapkan tetap dipertahankan dan tidak dirumahkan. Hal ini penting untuk memastikan kegiatan pembelajaran siswa tidak terganggu.
“Guru-guru honorer yang saat ini masih ada, kami masih sangat membutuhkan. Kami menghimbau untuk tidak dirumahkan karena mereka tetap menjalankan fungsi penting dalam pembelajaran,” tegasnya.
Selain fokus pada pemenuhan jumlah guru, Kemendikdasmen juga terus mendorong peningkatan kualitas tenaga pendidik. Salah satu langkah yang dilakukan adalah mempercepat program sertifikasi guru serta peningkatan kualifikasi akademik.
Menurut Nunuk, capaian sertifikasi guru secara nasional saat ini telah melampaui angka 92 persen. Meski demikian, masih terdapat sebagian guru yang belum memenuhi syarat kualifikasi pendidikan minimal sarjana (S1).
“Secara nasional kita sudah mencapai di atas 92 persen guru tersertifikasi. Sisanya adalah yang belum memenuhi kualifikasi S1, dan ini kita dorong melalui program beasiswa kualifikasi D4/S1,” jelasnya.
Upaya peningkatan kualifikasi tersebut juga diperkuat oleh kebijakan pemerintah melalui pemberian beasiswa pendidikan. Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah, Abdul Mu'ti, sebelumnya menyampaikan bahwa sekitar 150.000 guru yang belum memiliki kualifikasi D4 atau S1 akan mendapatkan dukungan beasiswa pada tahun 2026.
Baca Juga: Timnas eFootball Indonesia Lolos Final FIFAe Nations League 2026 Usai Tumbangkan Thailand
Program tersebut akan dijalankan melalui skema Rekognisi Pembelajaran Lampau (RPL), yang memungkinkan pengalaman mengajar sebelumnya diakui sebagai bagian dari proses pendidikan formal. Dengan mekanisme ini, diharapkan para guru dapat lebih cepat memenuhi kualifikasi akademik yang dipersyaratkan.
Pada tahun sebelumnya, pemerintah juga telah menyalurkan beasiswa kepada 12.500 guru dengan nilai bantuan sebesar Rp 3 juta per semester. Kebijakan tersebut menjadi bagian dari langkah berkelanjutan untuk meningkatkan kualitas pendidikan nasional melalui penguatan kompetensi tenaga pendidik.
Editor : Bayu Shaputra