RADARSITUBONDO.ID - Program makan bergizi gratis (MBG) terus didorong agar memiliki fondasi kuat dari hulu ke hilir.
Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) Dadan Hindayana menilai perguruan tinggi dapat mengambil peran lebih jauh dengan membangun dan mengelola Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) secara mandiri.
Skema ini dinilai bukan sekadar mendukung penyediaan makanan bergizi, tetapi juga membuka ruang pembelajaran berbasis praktik bagi mahasiswa.
Baca Juga: Kecelakaan Kereta Bekasi Timur Tewaskan 16 Orang, Kedubes Rusia Sampaikan Belasungkawa
Dalam Forum U25 Perguruan Tinggi Negeri Badan Hukum (PTN-BH) di Makassar, Selasa (28/4/2026), Dadan menekankan bahwa kampus memiliki peluang besar untuk masuk dalam ekosistem program MBG.
“Saya kira kampus perlu memahami ini, karena ini peluang besar. Minimal punya satu SPPG dulu, dan kalau bisa pasokannya berasal dari civitas akademika sendiri,” ujarnya, dikutip Kamis (30/4/2026).
Menurut dia, keberadaan SPPG di lingkungan perguruan tinggi tidak hanya berfungsi sebagai dapur penyedia makanan bergizi. Lebih dari itu, unit ini membutuhkan dukungan sistem produksi pangan dalam skala besar yang terintegrasi.
Artinya, kampus dapat mengembangkan ekosistem mulai dari pertanian, peternakan, hingga distribusi pangan dalam satu rantai yang saling terhubung.
Baca Juga: Kompany Minta Suporter Bayern Penuh Energi di Allianz Arena Jelang Leg Kedua
Kebutuhan satu unit SPPG pun tidak kecil. Untuk memenuhi pasokan beras, dibutuhkan sekitar delapan hektare lahan sawah. Sementara untuk pakan ternak, diperlukan sekitar 19 hektare lahan jagung.
Di sisi lain, kebutuhan protein hewani harian juga mengharuskan adanya sekitar 4.000 ayam petelur. Skala tersebut membuka peluang besar bagi perguruan tinggi untuk mengintegrasikan kegiatan akademik dengan praktik langsung di lapangan.
Mahasiswa dapat dilibatkan dalam berbagai aspek, mulai dari pengelolaan pertanian, peternakan, hingga sistem distribusi pangan. Pendekatan ini dinilai mampu memperkuat pembelajaran berbasis proyek nyata sekaligus meningkatkan relevansi pendidikan tinggi dengan kebutuhan masyarakat.
Baca Juga: Strategi Baru Iran, Selat Hormuz Jadi Prioritas Diplomasi Global
Dadan juga menegaskan bahwa SPPG berpotensi menjadi laboratorium hidup di kampus. Melalui fasilitas ini, riset dan inovasi dapat dikembangkan secara langsung, mulai dari teknologi pertanian, pengolahan pangan, hingga manajemen rantai pasok. Dengan demikian, seluruh proses tidak hanya berhenti pada teori, tetapi dapat diuji dan diterapkan secara nyata.
Langkah konkret telah dimulai dengan peresmian SPPG di salah satu kampus negeri berbadan hukum. Peresmian tersebut dilakukan bersama Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Brian Yuliarto serta Rektor Universitas Hasanuddin. Kehadiran fasilitas ini menjadi tonggak awal implementasi dapur MBG di lingkungan perguruan tinggi.
Brian menyebut keberadaan SPPG sebagai bentuk nyata kontribusi perguruan tinggi dalam mendukung program prioritas pemerintah.
“Intinya adalah bagaimana dari perguruan tinggi bisa menjalankan peran untuk mendukung program prioritas Bapak Presiden, salah satunya adalah program MBG,” katanya.
Editor : Bayu Shaputra