RADARSITUBONDO.ID - Polemik yang menyeret nama tokoh perempuan adat Merauke, Yasinta Moiwend atau Mama Sinta, akhirnya mendapat tanggapan langsung dari sutradara film dokumenter Pesta Babi, Dandhy Laksono.
Melalui media sosial pribadinya, Dandhy meminta masyarakat untuk tidak terburu-buru menghakimi keputusan Mama Sinta yang kini memilih mendukung Proyek Strategis Nasional (PSN) di Papua Selatan.
Pernyataan itu muncul setelah video pengakuan Mama Sinta viral di media sosial. Dalam video tersebut, perempuan adat asal suku Marind itu menyampaikan alasan di balik perubahan sikapnya terhadap proyek pembangunan lumbung pangan di Papua.
Ia juga mengungkapkan kekecewaan terhadap pihak yang sebelumnya mendampinginya dalam aksi penolakan proyek.
Baca Juga: Harga Emas Hari Ini 25 Mei: Antam Jadi Pemuncak, Ini Daftar Perbandingan Semua Merek
Menanggapi situasi tersebut, Dandhy menilai publik perlu melihat persoalan secara lebih utuh dan tidak sekadar bereaksi berdasarkan potongan informasi yang beredar di media sosial. Menurutnya, tekanan hidup yang dialami masyarakat di wilayah pedalaman Papua tidak bisa dipahami secara sederhana oleh orang luar.
“Kawan-kawan semua, kita tak pernah benar-benar tahu apa yang sedang dialami Mama Yasinta Moiwend di pedalaman Papua sana,” tulis Dandhy Laksono melalui akun Instagram pribadinya, Senin (25/5).
Sutradara Watchdoc itu juga menegaskan bahwa setiap orang memiliki hak menentukan pilihan hidupnya sendiri, termasuk ketika memutuskan keluar dari jalur advokasi yang selama ini dijalani. Ia meminta publik menahan diri agar tidak langsung memberikan penilaian negatif terhadap keputusan Mama Sinta.
“Apa pun yang muncul di media sosial sepertinya kita perlu menahan diri untuk tidak menghakimi beliau. Jika bahkan semua yang disampaikan murni atas kemauan sendiri, bukankah setiap orang berhak membuat pilihan?,” lanjutnya.
Baca Juga: Modus Iming-iming Keberkahan, Pimpinan Ponpes di Widodaren Ngawi Cabuli Santriwati
Sebelumnya, Mama Sinta menyampaikan pengakuan yang mengejutkan publik terkait keterlibatannya dalam film dokumenter Pesta Babi.
Ia mengaku merasa dijebak dan diperdaya oleh oknum dari lembaga bantuan hukum hingga wajah dan suaranya masuk dalam film tersebut tanpa izin resmi.
Dalam keterangannya, Mama Sinta juga menjelaskan bahwa kondisi ekonomi dan keterbatasan fasilitas hidup menjadi alasan utama dirinya mengubah sikap terhadap program pemerintah di Papua Selatan. Ia kini memilih mendukung proyek yang sebelumnya sempat ditolaknya.
“Sekarang saya tidak bergabung lagi dengan LBH mereka, saya sudah mengambil keputusan sendiri. Jadi saya mau mencari pekerjaan di perusahaan, cari pekerjaan karena rumah saya ingin direhab karena sudah tidak layak lagi,” ujar Mama Sinta.
Baca Juga: Klasemen Akhir Premier League 2025/2026: Chelsea Tersungkur, Liverpool Lolos Liga Champions
Ia mengungkapkan selama mengikuti berbagai aksi penolakan proyek di sejumlah kota seperti Jayapura, Makassar, hingga Jakarta, dirinya merasa tidak mendapatkan perubahan berarti dalam kehidupan sehari-hari. Perjalanan panjang yang dijalani selama berbulan-bulan justru disebut hanya meninggalkan rasa lelah.
"Yang saya dapat cuma capeknya saja. Mereka fasilitasi, jadi kalau mereka fasilitas terus uang duduknya hanya Rp2 juta, Rp1,5 juta itu saja yang kami dapat dari mereka, LBH pusaka," ungkapnya.
Mama Sinta juga menggambarkan kondisi rumah tangganya yang memprihatinkan. Dapur dengan fasilitas seadanya, kompor yang rusak, hingga kebutuhan hidup untuk membesarkan tiga anak menjadi persoalan yang harus dihadapinya setiap hari.
Situasi itu membuatnya merasa tidak mendapatkan solusi nyata dari pihak yang selama ini mengajaknya melakukan penolakan terhadap pembangunan.
Baca Juga: Inggris, Prancis, dan Kanada Kompak Tolak Skema PDB NATO untuk Bantu Ukraina
Karena itu, ia menyampaikan permintaan maaf kepada pemerintah atas berbagai narasi penolakan yang sebelumnya pernah disuarakan. Menurutnya, keputusan yang diambil saat itu bukan sepenuhnya berasal dari keinginannya sendiri.
“Saya minta maaf sekali karena itu bukan kemauan saya, itu karena ajakan mereka. Saya juga tidak tahu ke depannya nanti terjadi seperti apa atau mereka bantu saya fasilitas punya rumah atau anak saya dipekerjakan, ternyata tidak ada,” tutur Mama Sinta.
Kini, perempuan adat asal Merauke tersebut berharap pemerintah dan perusahaan dapat menghadirkan perubahan nyata bagi masyarakat kampung. Ia menilai kerja sama antara pemerintah, perusahaan, dan warga lokal menjadi jalan yang dapat membuka peluang kesejahteraan di daerahnya.
“Pemerintah bisa membantu kami lewat perusahaan yang ada. Dan kami mendukung karena kami tidak punya apa-apa di kampung ini. Harapan kami hanya ke pemerintah, lewat pemerintah kerja sama dengan perusahaan dengan masyarakat, maka itu kami mau dukung, perusahaan boleh lanjut sampai kami bisa menikmati hasil yang perusahaan sudah berikan,” imbuhnya.
Editor : Bayu Shaputra