RADARSITUBONDO.ID - Tokoh perempuan adat dan pejuang lingkungan asal Merauke, Papua Selatan, Yasinta Moiwend atau yang dikenal sebagai Mama Sinta, membantah berbagai tudingan yang menyebut dirinya mengalami intimidasi dari aparat TNI.
Perempuan berusia 62 tahun itu menegaskan bahwa keputusannya berangkat ke Jakarta dilakukan atas kemauan sendiri tanpa campur tangan pihak mana pun.
Mama Sinta menjelaskan bahwa kedatangannya ke ibu kota bertujuan mencari keadilan terkait penggunaan citra wajahnya dalam film dokumenter berjudul Pesta Babi. Menurutnya, persoalan tersebut merupakan masalah pribadi yang menyangkut martabat dan kehormatannya sehingga perlu diselesaikan melalui jalur hukum.
Baca Juga: Mulai 1 Juni 2026, Harga Avtur di Bandara Indonesia Turun hingga 10 Persen
Pernyataan itu disampaikan sebagai respons terhadap berbagai narasi yang beredar di media sosial. Sejumlah unggahan menyebut dirinya dijemput secara paksa dan memperoleh fasilitas perjalanan dari pihak tertentu. Namun, Mama Sinta menegaskan informasi tersebut tidak sesuai dengan kenyataan.
"Itu tidak benar nak, tidak benar. Saya naik pesawat biasa dengan penumpang. Saya tidak naik kapal ke Merauke atau ke Boven Digoel dengan pesawat helikopternya Haji Isam. Itu tidak ada, itu omong kosong. Itu namanya provokator," katanya, dikutip dari JawaPos.com.
Ia menegaskan seluruh perjalanan menuju Jakarta dilakukan secara mandiri. Perjalanan tersebut dimulai dari Wanam, Merauke, kemudian dilanjutkan ke Jayapura sebelum akhirnya tiba di Jakarta. Seluruh biaya perjalanan, kata dia, ditanggung secara pribadi.
Baca Juga: Uruguay Umumkan Skuad Piala Dunia 2026, Luis Suarez Dicoret Marcelo Bielsa
Mama Sinta juga membantah adanya hubungan khusus dengan pengusaha Haji Isam. Ia mengaku tidak pernah bertemu secara langsung maupun memiliki keterkaitan dengan sosok yang namanya kerap dikaitkan dalam berbagai narasi yang beredar di media sosial.
Selain itu, Mama Sinta secara tegas menolak tudingan yang menyebut dirinya mendapat tekanan atau intimidasi dari aparat militer. Menurutnya, tidak pernah ada upaya penjemputan maupun tekanan yang dilakukan oleh TNI terhadap dirinya.
"TNI tidak menjemput saya, tidak ada intimidasi. Kenapa kalian repot dengan saya? Saya datang ke Jakarta karena harga diri saya," ujarnya.
Dalam keterangannya, Mama Sinta juga meminta masyarakat untuk tidak mengaitkan persoalan yang sedang dihadapinya dengan isu Proyek Strategi Nasional (PSN).
Ia menegaskan fokus kedatangannya ke Jakarta hanya berkaitan dengan keberatan atas penggunaan wajahnya dalam film dokumenter yang diputar di berbagai tempat tanpa persetujuan dirinya.
Baca Juga: BMKG Prediksi Hujan Lebat dan Angin Kencang di Banyak Kota Besar
Menurut Mama Sinta, wajahnya telah berkali-kali ditampilkan dalam pemutaran film tersebut tanpa pernah ada permintaan izin sebelumnya. Kondisi itu membuat dirinya merasa dirugikan dan terluka secara pribadi.
"Saya punya wajah ini di mana-mana mereka memutar film itu, saya sakit hati. Tanpa izin dari saya. Maka itu saya datang ke Jakarta. Dihentikan! Mulai dari hari ini dihentikan! Seandainya ada yang memutar film itu, tolong proses orang itu," tegasnya.
Karena merasa hak pribadinya dilanggar, Mama Sinta memutuskan menempuh langkah hukum. Ia mengaku telah melaporkan pihak penyelenggara film ke Polda Metro Jaya sebagai bentuk upaya mencari keadilan atas penggunaan citra wajahnya tanpa persetujuan.
Laporan tersebut telah diterima dan tercatat dengan nomor register LP/B/3843/V/2026/SPKT/Polda Metro Jaya. Dalam laporan itu, pihak penyelenggara film diduga melanggar ketentuan dalam Undang-Undang Pelindungan Data Pribadi terkait penggunaan data pribadi berupa citra wajah tanpa persetujuan pemilik data.
Editor : Bayu Shaputra