RADARSITUBONDO.ID - Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengeluarkan peringatan dini potensi hujan lebat yang dapat disertai petir dan angin kencang di sejumlah wilayah Indonesia pada Senin (9/6).
Tanjungpinang dan Palembang menjadi dua kota besar yang diprakirakan menghadapi cuaca paling signifikan dengan potensi hujan sedang hingga sangat lebat.
BMKG mengingatkan masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap kemungkinan genangan, pohon tumbang, hingga gangguan aktivitas akibat cuaca buruk yang berpotensi terjadi sepanjang hari.
Baca Juga: Pecah Telur di Roland Garros, Alexander Zverev Raih Gelar Grand Slam Pertama
Prakirawan BMKG Henokhvita menjelaskan, kondisi cuaca tersebut dipengaruhi oleh keberadaan sejumlah daerah konvergensi yang memanjang di berbagai wilayah Indonesia. Fenomena ini berpotensi meningkatkan pertumbuhan awan hujan secara signifikan.
Secara umum, daerah konvergensi terpantau memanjang dari perairan utara Maluku Utara hingga utara Papua Barat, perairan selatan Kalimantan Tengah hingga Selat Karimata, Kalimantan Selatan hingga Kalimantan Tengah dan Kalimantan Timur, Laut Banda hingga Pulau Seram, serta dari Teluk Cendrawasih menuju pesisir utara Papua Barat.
"Kondisi tersebut mampu meningkatkan potensi pertumbuhan awan hujan di sepanjang daerah yang dilewati konvergensi atau konfluensi," jelas Henokhvita.
Berdasarkan prakiraan BMKG, hujan ringan hingga sedang berpotensi mengguyur sejumlah kota besar, antara lain Banda Aceh, Medan, Palangkaraya, Pontianak, Tanjung Selor, Samarinda, Mamuju, Kendari, Palu, Manado, Ambon, Sorong, Nabire, dan Merauke.
Sementara itu, cuaca berawan diprakirakan mendominasi sejumlah wilayah lainnya seperti Pekanbaru, Bandar Lampung, Jakarta, Serang, Bandung, Semarang, Yogyakarta, Surabaya, Denpasar, Mataram, Kupang, Makassar, Gorontalo, Ternate, Manokwari, Jayapura, dan Jayawijaya.
Baca Juga: Suami Bunuh Istri di Situbondo, Keluarga Ungkap Sifat Posesif dan Cemburu Berlebihan Pelaku
Di sisi lain, BMKG kembali meluruskan informasi yang berkembang di media sosial terkait fenomena bediding atau suhu udara dingin yang mulai dirasakan masyarakat di sejumlah daerah dalam beberapa hari terakhir.
Direktur Meteorologi Publik BMKG Ida Pramuwardani menegaskan bahwa bediding bukanlah fenomena cuaca ekstrem, melainkan kondisi musiman yang umum terjadi saat musim kemarau.
"Perlu dipahami bahwa bediding bukanlah fenomena yang 'melanda' seperti kejadian cuaca ekstrem, melainkan kondisi musiman ketika udara terasa lebih dingin akibat berkurangnya tutupan awan," kata Ida.
Menurut dia, suhu dingin pada malam hingga pagi hari terjadi karena radiasi panas dari permukaan bumi dapat langsung dilepaskan ke atmosfer saat tutupan awan berkurang. Kondisi tersebut diperkuat oleh rendahnya kelembapan udara serta meningkatnya pengaruh massa udara kering yang berasal dari Australia.
Ida menjelaskan, fenomena suhu dingin musiman biasanya mulai terasa pada Juni dan cenderung meningkat pada Juli hingga Agustus. Dampaknya akan lebih terasa ketika malam hari cerah dan angin timuran atau Monsun Australia semakin menguat.
Karena itu, masyarakat diminta tidak mengaitkan fenomena bediding dengan cuaca ekstrem. Meski suhu udara terasa lebih dingin, kondisi tersebut merupakan bagian dari siklus musim kemarau yang lazim terjadi setiap tahun di Indonesia.
Editor : Bayu Shaputra