Anime Berita Daerah Edukasi Ekonomi Bisnis Health Internasional Kasuistika Khazanah Kuliner Lifestyle Nasional Opini Otomotif Politik & Pemerintahan Seni & Budaya Sport Teknologi Travelling ZodiPedia

BGN Siapkan Penajaman Sasaran MBG, Sekolah di Desil Tinggi Terancam Tak Lagi Terima Makan Gratis

Bayu Shaputra • Jumat, 19 Juni 2026 | 12:07 WIB
Siswa Sekolah Dasar menyantap Makan Bergizi Gratis. (Radarsurabaya)
Siswa Sekolah Dasar menyantap Makan Bergizi Gratis. (Radarsurabaya)

 

RADARSITUBONDO.ID - Badan Gizi Nasional (BGN) mulai menyiapkan kebijakan penajaman sasaran Program Makan Bergizi Gratis (MBG) guna memastikan bantuan gizi lebih tepat sasaran. Dalam skema yang sedang disusun, kondisi sosial ekonomi masyarakat yang tercermin melalui tingkatan desil menjadi salah satu indikator yang dipertimbangkan.

Meski demikian, BGN menegaskan belum menetapkan batas desil tertentu yang akan menjadi syarat penerima maupun non-penerima program. Saat ini, berbagai indikator masih diramu untuk menghasilkan formula kebijakan yang efektif sekaligus sesuai kemampuan anggaran negara.

Baca Juga: Shin Tae-yong Tegas! Persija Jakarta Cari Pemain Berkarakter dan Kerja Keras

Wakil Kepala BGN Agustina Arumsari mengatakan, penentuan sasaran MBG tidak hanya didasarkan pada satu indikator. Kerentanan gizi, kondisi sosial ekonomi, hingga akses terhadap pemenuhan gizi menjadi faktor yang tengah dikaji.

"Saya sudah mengatakan ada kerentanan gizi, kondisi sosial ekonomi yang tadi mungkin salah satu parameternya ada desil, kemudian akses terhadap pemenuhan gizi, nah itu masih kami olah ya, masih kami ramu kriteria yang tepat seperti apa. Dan indikator itu intinya memang akan membantu kami dalam membuat kebijakan," kata Agustina Arumsari saat konferensi pers di Kantor BGN, Jakarta, dikutip dari JawaPos.com.

Menurut dia, formula final masih dibahas bersama Kementerian Keuangan (Kemenkeu). Pembahasan tersebut mencakup efektivitas program sekaligus kemampuan fiskal pemerintah untuk membiayai program MBG secara berkelanjutan.

"Tapi kalau sekarang ditanya 'Bu, persisnya apa?', nah formula itu yang masih kami susun ya. Jadi ini mohon maaf nih karena kami juga baru ini ya, dan kami benar-benar mengejar untuk data dan sebagainya," ungkapnya.

Baca Juga: Selat Hormuz Dibuka Bertahap, Iran dan AS Sepakati Gencatan Ketegangan 60 Hari

Seiring penyusunan kebijakan baru tersebut, BGN mulai melakukan efisiensi penerima manfaat. Hingga Kamis (18/6), sebanyak 76 sekolah di Pulau Jawa telah dicoret dari daftar penerima MBG. Jumlah itu mencakup 39.352 siswa dan masih berpotensi bertambah.

"Sampai per hari ini 76 sekolah di Pulau Jawa dengan jumlah penerima manfaat 39.352 siswa itu juga akan kami efisienkan dengan memfokuskan nantinya anggaran yang tadinya untuk di situ, kita akan memfokuskan untuk program MBG kepada anak-anak yang memerlukan intervensi pemenuhan gizi," kata Agustina.

Anggaran yang sebelumnya dialokasikan untuk sekolah-sekolah tersebut akan dialihkan ke wilayah dan kelompok yang dinilai lebih membutuhkan. BGN berencana memperluas distribusi MBG ke sekolah lain, termasuk di kawasan tertinggal, terdepan, dan terluar (3T).

Selain itu, program juga akan semakin difokuskan kepada kelompok ibu hamil, ibu menyusui, dan balita atau kelompok 3B yang dinilai memiliki kebutuhan intervensi gizi lebih mendesak.

Agustina menjelaskan, pencoretan sekolah penerima MBG dilakukan berdasarkan sejumlah indikator. Selain kerentanan gizi dan kondisi sosial ekonomi, BGN juga mempertimbangkan akses masyarakat terhadap pemenuhan kebutuhan gizi secara mandiri.

"Bagi yang secara mandiri bisa memenuhi gizinya karena kondisi-kondisi yang tadi mungkin secara ekonomi berada di desil yang tinggi itu, maka tidak akan diberikan program Makan Bergizi Gratis ini," tandas dia.

Editor : Bayu Shaputra
#Agustina Arumsari #SPPG #Makan Bergizi Gratis #BGN