RADARSITUBONDO.ID - Presiden Prabowo Subianto mendorong masyarakat beralih ke motor listrik nasional yang diproduksi di dalam negeri.
Pemerintah menyiapkan skema pembiayaan dengan bunga rendah hingga kemungkinan pembelian tanpa uang muka atau down payment (DP) untuk membuat kendaraan listrik nasional lebih mudah dijangkau masyarakat.
Rencana tersebut disampaikan Prabowo saat menghadiri peluncuran Motor Listrik Nasional (MoLiNas) di Cikarang, Kabupaten Bekasi, Jawa Barat, Kamis (13/8).
Dalam kesempatan itu, Prabowo juga meminta Danantara memberikan dukungan terhadap pengembangan industri motor listrik nasional.
Baca Juga: Ramalan Zodiak Hari Ini 14 Agustus 2026, Ada yang Harus Waspada Soal Cinta!
Prabowo menilai dukungan pembiayaan menjadi salah satu langkah penting untuk meningkatkan minat masyarakat membeli motor listrik produksi dalam negeri.
Karena itu, skema kredit akan dibuat lebih ringan sehingga harga kendaraan tidak menjadi hambatan bagi masyarakat yang ingin beralih dari kendaraan berbahan bakar minyak.
"Danantara, dukung dengan apa yang kau bisa dukung. Tadi, kita bicarakan—Menteri Keuangan tidak akan terlalu suka, tetapi ujungnya you akan juga suka. Kita akan turunkan bunga cicilan untuk rakyat. Kemudian, kita usahakan tidak pakai DP," kata Presiden Prabowo, dikutip dari Antara.
Baca Juga: PSG Rekrut Ferran Torres dari Barcelona, Kontrak hingga 2031
Menurut Prabowo, penggunaan motor listrik juga berpotensi memberikan penghematan biaya yang cukup besar dibandingkan kendaraan yang menggunakan bahan bakar minyak.
Penghematan tersebut disebut bisa mencapai sedikitnya 50 persen dan bahkan berpotensi menyentuh 70 persen.
Prabowo juga mengaitkan pengembangan kendaraan listrik dengan perubahan kebijakan energi di berbagai negara.
Menurutnya, perkembangan teknologi kendaraan listrik tidak hanya berkaitan dengan pilihan kendaraan, tetapi juga menjadi bagian dari kebutuhan dunia dalam menghadapi persoalan energi dan lingkungan.
"Nanti mungkin, karena ini sudah kebutuhan dunia. Jadi, ada namanya carbon tax di kota-kota besar seperti di Beijing, gak bisa motor bensin masuk. Jadi ini warning aja yang masih nekat, gandrung dengan motor bensin," ujar Presiden.
Baca Juga: HUT RI dan Harjakasi, Kemenag Situbondo Road Show Santunan 250 Yatim dan Dhuafa
Selain menawarkan kredit dengan bunga rendah dan kemungkinan tanpa DP, pemerintah juga mempertimbangkan skema tukar tambah.
Mekanisme tersebut diharapkan dapat menjadi alternatif bagi pemilik sepeda motor lama yang ingin menggantinya dengan motor listrik nasional.
Dengan sistem itu, masyarakat nantinya dapat menyerahkan kendaraan lama sebagai bagian dari transaksi pembelian kendaraan baru.
Prabowo mengatakan skema tersebut masih akan dipikirkan agar dapat diterapkan sebagai salah satu cara untuk memperluas penggunaan motor listrik di Indonesia.
"Jadi, nanti kita pikirkan bagaimana kita bisa tukar tambah, kau setor motor lama dapat motor baru, ya tambah dikitlah," kata Prabowo.
Baca Juga: Buron Enam Bulan, Maling Dua Rumah di Situbondo Ditangkap Saat Kerja di Bali
Dorongan terhadap motor listrik nasional tersebut juga berkaitan dengan ambisi pemerintah memperkuat industri kendaraan dalam negeri.
Saat mengunjungi fasilitas produksi motor listrik milik Indika Energy di Cikarang, Prabowo mengapresiasi keberanian perusahaan mengambil langkah produksi di tengah persaingan industri kendaraan listrik yang semakin ketat.
Perusahaan tersebut saat ini berani memproduksi 20.000 unit motor listrik. Bagi Prabowo, angka tersebut menjadi langkah awal yang perlu dikembangkan dengan skala produksi yang jauh lebih besar.
Ia kemudian menantang perusahaan untuk meningkatkan kapasitas produksinya hingga 200.000 unit. Bahkan, Prabowo membuka target yang lebih besar hingga mencapai 2 juta unit apabila industri motor listrik nasional mampu berkembang secara konsisten.
Baca Juga: Jelang HUT RI ke-81, SMADA PRIMA Sowan Pahlawan, Hadirkan Pejuang Berusia 108 Tahun
Target tersebut menunjukkan ambisi pemerintah untuk menjadikan motor listrik bukan sekadar produk alternatif, tetapi bagian dari penguatan industri nasional.
Produksi dalam negeri dinilai penting agar Indonesia tidak hanya menjadi pasar bagi kendaraan listrik dari negara lain.
Prabowo juga menempatkan pengembangan motor listrik dalam konteks kemandirian energi nasional.
Peralihan dari kendaraan berbahan bakar minyak menuju kendaraan listrik dinilai dapat membantu mengurangi kebutuhan impor bahan bakar minyak yang selama ini membutuhkan devisa dalam jumlah besar.
Menurut Prabowo, pengeluaran Indonesia untuk mengimpor BBM setiap tahun berada di kisaran 28 miliar dolar hingga 30 miliar dolar.
Karena itu, pengurangan konsumsi BBM melalui penggunaan kendaraan listrik menjadi salah satu bagian dari upaya mengurangi ketergantungan energi dari luar negeri.
"Kita bertekad, ini kita kurangi. Dengan solar, sekarang (ada alternatif, red.) B50, kita sudah mengurangi. Bahkan, harusnya kita tidak impor lagi Diesel dari luar, tetapi masih bergantung beberapa energi dari luar. Kita akan segera ganti LPG menjadi CNG, dan kita juga akan membangun (pembangkit, red.) listrik tenaga surya sebesar 100 gigawatt," ujar Presiden.
Pemerintah tidak hanya mengandalkan pengembangan kendaraan listrik untuk mengurangi ketergantungan energi impor.
Sejumlah langkah lain juga disiapkan, mulai dari pemanfaatan B50 sebagai alternatif solar, rencana penggantian LPG dengan CNG, hingga pembangunan pembangkit listrik tenaga surya dengan kapasitas besar.
Baca Juga: Budidaya Kepiting di Tengah Kota, Jaka Bisa Panen Soka dalam Tiga Pekan
Dalam konteks tersebut, pengembangan Motor Listrik Nasional menjadi bagian dari agenda yang lebih luas. Pemerintah ingin mendorong penggunaan kendaraan yang lebih hemat energi sekaligus memperbesar kapasitas industri dalam negeri.
Skema kredit bunga rendah dan kemungkinan pembelian tanpa DP diharapkan dapat mempertemukan dua kepentingan tersebut.
Di satu sisi, masyarakat mendapat akses pembiayaan yang lebih ringan. Di sisi lain, industri nasional memperoleh pasar yang lebih besar untuk meningkatkan kapasitas produksi.
Editor : Bayu ShaputraSumber : ANTARA