BMKG Peringatkan Tsunami Usai Gempa M7,7 di Nagekeo, Gelombang Bisa Capai 3 Meter

Bayu Shaputra • Dipublikasikan Sabtu, 15 Agustus 2026 | 08:14 WIB
Gedung di Maumere yang ambruk akibat gempa di Mbay Nagakeo. (ANTARA)
Gedung di Maumere yang ambruk akibat gempa di Mbay Nagakeo. (ANTARA)

 

RADARSITUBONDO.ID - Gempa bumi tektonik magnitudo 7,7 mengguncang Kabupaten Nagekeo, Nusa Tenggara Timur (NTT), Sabtu (15/8).

Gempa yang berpusat di laut tersebut memicu ancaman tsunami dengan status Siaga di sejumlah wilayah NTT, Nusa Tenggara Barat (NTB), dan Sulawesi Selatan.

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menyebut potensi tsunami akibat gempa tersebut berada pada rentang ketinggian 0,5 hingga 3 meter untuk wilayah yang masuk kategori Siaga.

Sementara sejumlah daerah lainnya ditetapkan dalam status Waspada dengan potensi gelombang tsunami kurang dari 0,5 meter.

Baca Juga: Enam Federasi Sepak Bola Arab Dukung Gianni Infantino untuk Pilpres FIFA 2027

Direktur Gempabumi dan Tsunami BMKG Wijayanto mengatakan gempa terjadi pada pukul 04.58 WIB. Episentrum gempa berada di laut, sekitar 30 kilometer arah timur laut Nagekeo, NTT, dengan kedalaman 15 kilometer.

"Berdasarkan hasil pemodelan tsunami, gempa bumi ini berpotensi tsunami di wilayah Provinsi NTT, Sulawesi Selatan, dan NTB dengan status ancaman Siaga berketinggian 0,5 sampai 3 meter serta status Waspada di bawah 0,5 meter," katanya, dikutip dari Antara.

Ancaman tsunami dengan status Siaga mencakup sejumlah kawasan di NTT. Wilayah tersebut meliputi Manggarai Bagian Utara, Ngada Bagian Utara, Ende, dan Flores Timur. Di Sulawesi Selatan, wilayah Jeneponto juga masuk dalam kategori Siaga.

Sementara itu, status Waspada diberlakukan untuk wilayah dengan potensi tsunami kurang dari 0,5 meter. Daerah yang masuk kategori tersebut antara lain Bima dan Dompu di NTB, Wajo di Sulawesi Selatan, serta sebagian kawasan Flores Timur.

BMKG juga memperkirakan waktu kedatangan gelombang tsunami pertama di sejumlah wilayah terdampak. Perkiraan waktu tersebut bervariasi mulai pukul 05.02 WIB hingga 06.01 WIB.

"BMKG mencatat perkiraan waktu kedatangan gelombang pertama bervariasi mulai pukul 05.02 WIB hingga 06.01 WIB," katanya.

Baca Juga: BRImo Tembus 49,7 Juta Pengguna, Transaksi Capai Rp4.166 Triliun hingga Juni 2026

Peringatan dini tsunami langsung diterbitkan BMKG setelah gempa terjadi. Menurut Wijayanto, Peringatan Dini 1 dikeluarkan pada pukul 05.00 WIB, atau sekitar 2 menit 16 detik setelah gempa.

Selanjutnya, BMKG kembali mengeluarkan Peringatan Dini 2 pada pukul 05.09 WIB. Langkah tersebut dilakukan untuk memastikan informasi mengenai potensi tsunami dapat segera diterima pemangku kepentingan dan masyarakat sehingga respons terhadap ancaman dapat dilakukan secara cepat.

Selain memicu potensi tsunami, gempa M7,7 tersebut juga dirasakan kuat di sejumlah wilayah. Guncangan paling kuat dilaporkan terasa di Aesesa, Nagekeo, Riung, Ngada, serta Kota Mbay dengan intensitas VII MMI.

Guncangan dengan skala VII MMI tersebut membuat warga berhamburan keluar rumah. Gempa juga dilaporkan menyebabkan kerusakan ringan pada sejumlah bangunan.

Guncangan kemudian dirasakan dengan intensitas VI MMI di Wolowae dan Bajawa. Sementara di Ende, Borong, dan Ruteng, gempa tercatat dirasakan dengan intensitas V MMI.

BMKG meminta masyarakat tidak mengabaikan peringatan dini yang telah dikeluarkan, terutama warga yang berada di wilayah dengan status Siaga. Masyarakat di kawasan tersebut diminta segera melakukan evakuasi mandiri menuju tempat yang lebih tinggi.

Sementara warga yang berada di wilayah dengan status Waspada diminta menjauhi kawasan pantai dan tepian sungai. Imbauan tersebut disampaikan sebagai langkah antisipasi terhadap kemungkinan terjadinya tsunami setelah gempa kuat yang berpusat di laut.

BMKG juga mengingatkan masyarakat agar tidak mudah terpengaruh informasi yang belum dapat dipastikan kebenarannya. Warga diminta tetap mengikuti informasi resmi yang disampaikan melalui kanal BMKG dan pihak berwenang.

"Tetap tenang dan tidak terpengaruh oleh isu yang tidak dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya, menghindari dari bangunan yang retak atau rusak diakibatkan oleh gempa bumi," katanya menegaskan.

Masyarakat yang berada di sekitar wilayah terdampak juga perlu memperhatikan kondisi bangunan setelah gempa. Bangunan yang mengalami keretakan atau kerusakan akibat guncangan sebaiknya dihindari untuk mengantisipasi risiko lanjutan.

Editor : Bayu Shaputra
Sumber : ANTARA
Magnitudo 7 gempa Nagekeo tsunami bmkg