Radarsitubondo.id - Badan Eksekutif Mahasiswa Universitas Indonesia (BEM UI) kembali turun ke jalan melalui aksi bertajuk “Merebut Kemerdekaan” di kawasan Bundaran Hotel Indonesia (HI), Jakarta Pusat, Selasa (18/8).
Aksi tersebut digelar sehari setelah peringatan HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia. Namun, Ketua BEM UI Yatalathof Ma'shum Imawan menegaskan bahwa demonstrasi itu bukan ditujukan untuk merayakan kemerdekaan.
Menurut Athof, sapaan Yatalathof, mahasiswa justru ingin mempertanyakan kembali sejauh mana makna kemerdekaan benar-benar dirasakan masyarakat dalam kehidupan sehari-hari.
Baca Juga: Susanah Viral Usai Disebut Prabowo Kupas Bawang Rp700.000, Kini Rumahnya Dipasangi Garis Polisi
Athof juga menyampaikan permintaan maaf kepada masyarakat Jakarta yang terdampak kemacetan akibat aksi mahasiswa di kawasan Bundaran HI.
Meski demikian, ia membandingkan kemacetan lalu lintas yang terjadi selama beberapa jam dengan persoalan struktural yang menurutnya telah berlangsung jauh lebih lama.
Athof menilai persoalan seperti kemacetan struktural, sulitnya memperoleh lapangan pekerjaan, hingga masalah keadilan telah berlangsung selama puluhan tahun dan justru semakin memburuk.
Baca Juga: Pemerintah dan DPR Sepakati Nasib Guru PPPK, Ada Peluang dari PPPK Penuh Waktu Menjadi PNS
Dalam orasinya, Athof menyampaikan kritik terhadap kondisi negara yang dinilainya belum sepenuhnya memberikan kemerdekaan kepada masyarakat.
Ia bahkan menilai terdapat kondisi ketika rakyat seolah menghadapi bentuk “penjajahan” dari negaranya sendiri. Salah satu persoalan yang disoroti adalah penegakan hukum yang dianggap belum memberikan rasa keadilan secara merata.
Athof juga menyinggung persoalan kesejahteraan. Menurutnya, janji kemakmuran akan sulit diwujudkan apabila masyarakat masih menghadapi keterbatasan lapangan pekerjaan.
Selain itu, ia menyoroti akses pendidikan dan layanan kesehatan gratis yang disebut dalam amanat konstitusi, tetapi dinilai belum sepenuhnya dirasakan oleh seluruh masyarakat.
Dalam aksi “Merebut Kemerdekaan”, mahasiswa membawa delapan poin tuntutan. Beberapa di antaranya berkaitan dengan kebijakan anggaran negara, harga kebutuhan masyarakat, program pemerintah, hingga penanganan bencana.
Baca Juga: Ramalan Zodiak Hari Ini 19 Agustus 2026, Ada yang Dapat Kabar Mengejutkan!
Berikut sejumlah tuntutan yang disuarakan BEM UI:
1. Menghentikan pemborosan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).
2. Mendesak penurunan harga kebutuhan pokok.
3. Mendesak penurunan harga bahan bakar minyak (BBM).
4. Menghentikan program Makan Bergizi Gratis.
5. Menghentikan program Koperasi Desa Merah Putih.
6. Mendesak penetapan status bencana nasional bagi wilayah terdampak bencana di Sumatra dan Flores.
7. Menolak pemusatan kekuasaan.
8. Mendesak penghentian tindakan represif TNI-Polri di ruang sipil.
Delapan tuntutan tersebut menjadi bagian utama aspirasi mahasiswa dalam aksi yang dipusatkan di kawasan Bundaran HI.
Untuk mengamankan jalannya demonstrasi, Polda Metro Jaya mengerahkan 9.242 personel gabungan TNI-Polri.
Baca Juga: Ferrari Luce Terjual Rp712 Miliar! Mobil Listrik yang Dihujat Kini Bikin Rekor Fantastis
Pengamanan dilakukan untuk menjaga situasi selama aksi berlangsung sekaligus mengantisipasi dampak demonstrasi terhadap aktivitas masyarakat dan lalu lintas di sekitar kawasan Bundaran HI.
Sementara itu, Athof menegaskan bahwa aksi tersebut bukan merupakan gerakan terakhir. Ia menyebut demonstrasi “Merebut Kemerdekaan” baru menjadi langkah awal.
Ketua BEM UI itu juga mengajak berbagai elemen masyarakat sipil yang merasa aspirasinya belum terakomodasi untuk ikut menyuarakan tuntutan mereka.
Bagi BEM UI, aksi tersebut menjadi momentum untuk kembali mempertanyakan makna kemerdekaan setelah 81 tahun Indonesia berdiri sebagai negara merdeka.(*)
Editor : Titin Wulandari