RADARSITUBONDO.ID - Penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Sumatera menjadi perhatian Presiden Prabowo Subianto.
Setelah melihat langsung penanganan karhutla di Kalimantan, Prabowo dijadwalkan meninjau kondisi di sejumlah wilayah Sumatera.
Menteri Sekretaris Negara (Mensesneg) Prasetyo Hadi mengatakan kunjungan tersebut akan dimulai dari Provinsi Riau.
Presiden kemudian akan melihat penanganan karhutla di wilayah lain yang menjadi perhatian pemerintah, yakni Jambi dan Sumatera Selatan.
Baca Juga: Nicolo Tresoldi Jadi Rebutan Manchester United dan Chelsea, Club Brugge Pasang Harga Tinggi
Dilansir dari Antara, Prasetyo menyebut kunjungan Presiden merupakan bagian dari upaya memastikan penanganan karhutla berjalan cepat dan terpadu.
Presiden ingin memastikan berbagai langkah yang telah dilakukan pemerintah di lapangan berjalan efektif. Penanganan tidak hanya diarahkan untuk memadamkan api, tetapi juga mencegah kebakaran meluas dan melindungi masyarakat dari dampak kabut asap.
"Kunjungan ini akan menjadi bagian dari komitmen Presiden untuk memastikan negara hadir dan memberikan perlindungan kepada masyarakat yang terdampak karhutla dan kabut asap," katanya.
Baca Juga: Timnas Putri U16 Indonesia Tampil Mengesankan di Srikandi Merdeka Cup, Timo Scheunemann Tolak Latih
Prasetyo mengatakan perhatian pemerintah terhadap karhutla di Sumatera merupakan kelanjutan dari langkah yang sebelumnya dilakukan Presiden di Kalimantan Barat dan Kalimantan Tengah.
Dari hasil kunjungan ke Kalimantan beberapa hari lalu, Presiden telah memastikan langkah tanggap darurat berjalan secara optimal. Pemerintah juga melakukan sejumlah percepatan untuk memperkuat penanganan kebakaran di lapangan.
Percepatan tersebut dilakukan dengan menambah armada water bombing. Personel darat dari unsur TNI, Polri, dan Manggala Agni juga diperkuat untuk membantu proses pemadaman sekaligus melakukan penanganan di wilayah yang terdampak.
Di sisi lain, fasilitas kesehatan turut disiagakan untuk mengantisipasi dampak kebakaran dan kabut asap terhadap masyarakat.
Langkah pemerintah juga tidak berhenti pada pemadaman. Presiden telah menginstruksikan tindakan tegas terhadap pihak yang dinilai bertanggung jawab atas terjadinya kebakaran di wilayah konsesi.
Aparat penegak hukum, kata Prasetyo, telah memulai proses penyelidikan terhadap sejumlah area konsesi korporasi yang terbukti terbakar maupun pihak yang dinilai lalai dalam menjaga arealnya.
"Fokus penanganan kini akan diperluas ke Sumatera, khususnya Riau, Jambi, dan Sumatera Selatan," katanya.
Baca Juga: Gara-Gara Robert De Niro, Michelle Monaghan Kembali ke Indonesia Demi Lihat Komodo!
Data SiPongi Kementerian Kehutanan menunjukkan persoalan karhutla di Sumatera masih cukup besar. Tercatat 2.894 titik panas atau hotspot tersebar di 10 provinsi di wilayah tersebut.
Sumatera Selatan menjadi provinsi dengan konsentrasi hotspot tertinggi. Wilayah tersebut mencatat 1.410 titik panas.
Setelah Sumatera Selatan, Riau tercatat memiliki 480 hotspot. Sementara Jambi berada di posisi berikutnya dengan 425 titik panas.
Besarnya jumlah titik panas tersebut berjalan beriringan dengan luas lahan yang terbakar. Sepanjang 2026, luas lahan terbakar di 10 provinsi di Sumatera tercatat mencapai 36.047,64 hektare.
Kondisi itu membuat pemerintah memperkuat operasi terpadu di sejumlah wilayah. Pemadaman dilakukan melalui operasi darat dengan pengerahan personel, patroli, serta dukungan armada water bombing.
Pemerintah juga mengoperasikan modifikasi cuaca atau operasi modifikasi cuaca (OMC) sebagai bagian dari upaya mempercepat penanganan karhutla.
Penanganan dilakukan dengan dua pendekatan sekaligus. Api yang sudah muncul harus segera dipadamkan, sementara potensi munculnya titik api baru juga terus ditekan melalui patroli dan pengawasan.
Perlindungan terhadap masyarakat menjadi bagian penting dalam operasi tersebut. Pemerintah terus memantau kualitas udara di daerah yang terdampak untuk mengantisipasi risiko akibat kabut asap.
Pekanbaru menjadi salah satu wilayah yang mendapat perhatian karena kualitas udaranya berada pada level yang mengkhawatirkan. Kota tersebut tercatat memiliki indeks kualitas udara atau air quality index (AQI) 225, yang masuk kategori sangat tidak sehat.
Kondisi serupa juga terlihat di Jambi dan Palembang. Masing-masing wilayah tercatat memiliki AQI 187 dan 180.
Baca Juga: Antonio Colak Masuk Radar Persija Jakarta, Macan Kemayoran Bidik Stiker Keempat?
Selain kualitas udara, karakteristik lahan gambut turut menjadi tantangan dalam penanganan karhutla di Sumatera. Api di lahan gambut dapat menjalar di bawah permukaan sehingga tidak selalu terlihat dari permukaan.
Karena itu, proses pemadaman di lahan gambut membutuhkan penanganan berulang. Setelah api dipadamkan, petugas perlu melakukan pembasahan dan penyisiran untuk memastikan tidak ada bara yang kembali memicu kebakaran.
Pemerintah pun akan memperkuat pengawasan terhadap areal konsesi. Penegakan hukum juga menjadi bagian dari strategi untuk mencegah kebakaran kembali terjadi.
Editor : Bayu ShaputraSumber : berbagai sumber