RADARSITUBONDO.ID - Aktivitas belajar di luar sekolah bukan berarti anak-anak di wilayah terdampak kebakaran hutan dan lahan (karhutla) terbebas dari ancaman asap.
Paparan udara tetap menjadi perhatian karena partikel berbahaya seperti PM2.5 dapat masuk ke saluran pernapasan.
Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin mengingatkan anak-anak yang berada di daerah terdampak karhutla tetap menggunakan masker.
Langkah tersebut dinilai menjadi salah satu upaya penting untuk mengurangi risiko gangguan kesehatan akibat kualitas udara yang buruk.
Baca Juga: Galatasaray Resmi Rekrut Rafael Leao dari AC Milan, Dikontrak Empat Tahun
Budi mengatakan, lokasi anak berada tidak banyak mengubah tingkat paparan terhadap udara yang tercemar. Baik ketika anak berada di sekolah maupun di rumah, mereka tetap berhadapan dengan kondisi udara di lingkungan sekitarnya.
"Dia sekolah maupun tinggal di rumah sama saja, terkena eksposur terhadap udara. Jadi kalau dari sisi kesehatan, kita koordinasi dengan seluruh dinas kesehatan, yang penting harus pakai masker supaya partikel-partikel PM2.5-nya itu yang bahaya bisa tersedot, itu bisa tersaring," kata Budi, dikutip dari Antara.
Pernyataan tersebut disampaikan Budi merespons kebijakan pembelajaran di luar sekolah bagi anak-anak di daerah yang terdampak karhutla. Menurut dia, perubahan lokasi pembelajaran tidak serta-merta menghilangkan risiko paparan asap.
Karena itu, penggunaan masker menjadi salah satu langkah pencegahan yang perlu dilakukan.
Kementerian Kesehatan juga telah berkoordinasi dengan dinas kesehatan di daerah untuk memperkuat perlindungan masyarakat di tengah kondisi tersebut.
Kemenkes telah mengirimkan lebih dari 5 juta masker ke wilayah terdampak. Selain masker, pemerintah juga menyiapkan konsentrator oksigen untuk mendukung penanganan kesehatan masyarakat yang membutuhkan.
Menurut Budi, perlindungan kesehatan menjadi penting karena masyarakat yang terdampak karhutla tidak mungkin dipindahkan seluruhnya dari wilayah yang mengalami pencemaran udara.
"Dia sekolah maupun tinggal di rumah sama saja, terkena eksposur terhadap udara," kata Budi.
Baca Juga: Galatasaray Resmi Rekrut Rafael Leao dari AC Milan, Dikontrak Empat Tahun
Data Public Health Emergency Operations Center (PHEOC) Kemenkes menunjukkan dampak kesehatan akibat karhutla masih perlu diwaspadai. Hingga 27 Agustus 2026, tercatat 4.082 kasus infeksi saluran pernapasan di wilayah yang terdampak karhutla.
Jika dihitung secara kumulatif sepanjang Juli hingga Agustus 2026, terdapat 13.449 kasus infeksi saluran pernapasan di tujuh provinsi yang terdampak.
Tujuh provinsi tersebut telah menetapkan status siaga darurat bencana karhutla. Wilayah itu meliputi Kalimantan Selatan, Kalimantan Tengah, Kalimantan Barat, Kalimantan Timur, Jambi, Riau, dan Sumatera Selatan.
Kondisi tersebut membuat persoalan kualitas udara menjadi bagian penting dalam penanganan karhutla. Asap yang dihasilkan dari kebakaran tidak hanya mengganggu jarak pandang, tetapi juga membawa partikel yang dapat berdampak terhadap kesehatan.
Paparan asap karhutla dapat memicu berbagai gangguan kesehatan. Keluhan yang muncul antara lain infeksi saluran pernapasan akut atau ISPA, batuk, sesak napas, radang tenggorokan, asma, hingga penyakit paru obstruktif kronik (PPOK).
Dampaknya juga dapat dirasakan pada mata dan kulit. Paparan asap dapat menyebabkan iritasi, terutama ketika kualitas udara memburuk dalam waktu tertentu.
Pada kelompok rentan, risiko kesehatan akibat paparan asap perlu mendapat perhatian lebih. Paparan tersebut juga dapat meningkatkan risiko penyakit jantung dan stroke.
Karena itu, penanganan karhutla tidak hanya berfokus pada pengendalian kebakaran. Pemerintah juga perlu memastikan masyarakat mendapatkan perlindungan dari dampak kesehatan yang muncul akibat asap.
Kemenkes menjalankan sejumlah langkah untuk merespons kondisi tersebut. Edukasi dan promosi kesehatan terus digencarkan agar masyarakat memahami risiko paparan asap serta langkah perlindungan yang dapat dilakukan.
Pemantauan terhadap sejumlah penyakit juga diperkuat. Pemerintah memantau kasus ISPA, pneumonia, asma, serta gangguan kesehatan berupa iritasi mata dan kulit.
Baca Juga: Jelang Lawan Borneo FC, Pratama Arhan Cedera, Persija Ungkap Masa Pemulihan
Selain pemantauan penyakit, kualitas udara juga menjadi perhatian. Surveilans kualitas udara dilakukan untuk melihat perkembangan kondisi di wilayah terdampak dan menjadi bagian dari respons kesehatan terhadap karhutla.
Kemenkes juga menerbitkan surat kewaspadaan sebagai bagian dari langkah antisipasi terhadap dampak kesehatan akibat memburuknya kualitas udara.
Salah satu gambaran kondisi udara terlihat dari data Indeks Standar Pencemar Udara (ISPU) per 27 Agustus 2026. Pontianak, Kalimantan Barat, mencatatkan skor ISPU 328.
Angka tersebut masuk kategori berbahaya. Kondisi itu menunjukkan bahwa paparan udara di wilayah tersebut perlu menjadi perhatian serius, terutama bagi kelompok rentan seperti anak-anak.
Di tengah kondisi tersebut, penggunaan masker menjadi salah satu bentuk perlindungan yang ditekankan Kemenkes.
Anak-anak yang tetap menjalani aktivitas di luar ruangan maupun berada di rumah sama-sama perlu memperhatikan kondisi udara di lingkungan masing-masing.
Editor : Bayu ShaputraSumber : berbagai sumber