RADARSITUBONDO.ID - Dampak erupsi Gunung Anak Krakatau (GAK) terhadap penerbangan menjadi perhatian Presiden Prabowo Subianto.
Kondisi tersebut terus dipantau pemerintah karena sebaran abu vulkanik dapat berubah mengikuti arah angin dan berpotensi mengganggu operasional penerbangan.
Menteri Perhubungan Dudy Purwagandhi mengatakan Presiden Prabowo secara berkala meminta perkembangan terbaru mengenai kondisi penerbangan di wilayah yang terdampak erupsi.
Informasi tersebut menjadi dasar bagi pemerintah untuk menentukan langkah antisipasi dengan tetap menempatkan keselamatan sebagai prioritas.
"Beliau concern, beliau hampir setiap saat meminta supaya di-update bagaimana kondisi penerbangan kita," kata Menhub, dikutip dari Antara, Senin (7/9).
Baca Juga: MBG Disesuaikan Sementara di Wilayah Terdampak Erupsi Gunung Anak Krakatau
Dudy menuturkan, perhatian Presiden tidak hanya terkait kondisi penerbangan saat ini. Prabowo juga memberikan instruksi agar seluruh pihak bersiap menghadapi kemungkinan perubahan situasi di lapangan.
Perubahan arah sebaran abu vulkanik maupun kondisi cuaca membuat pemantauan harus dilakukan secara berkelanjutan.
Pemerintah pun tidak ingin mengambil risiko terhadap keselamatan penerbangan ketika kondisi di sekitar wilayah terdampak belum sepenuhnya stabil.
"Instruksi Presiden sudah jelas bahwa kita harus mengantisipasi segala sesuatunya," ujar Menhub.
Pemantauan dampak erupsi Gunung Anak Krakatau dilakukan langsung oleh Menhub dari pusat pemantauan di Bandara Internasional Soekarno-Hatta, Tangerang, Banten.
Dari lokasi tersebut, perkembangan kondisi penerbangan dan pergerakan abu vulkanik dipantau melalui sejumlah layar monitor.
Informasi yang diperoleh dari pemantauan tersebut menjadi bahan evaluasi untuk menentukan langkah operasional penerbangan di sejumlah bandara yang terdampak.
Pemerintah bersama pihak terkait terus mencermati perkembangan sebaran abu vulkanik sebelum mengambil keputusan lebih lanjut.
Baca Juga: Jay Idzes Main 90 Menit, Sassuolo Ditahan Bologna 2-2 di Serie A 2026/27
Hingga pemantauan dilakukan, sebanyak 1.558 penerbangan terdampak akibat penutupan delapan bandara yang terkena dampak abu vulkanik Gunung Anak Krakatau.
Penutupan dilakukan sebagai langkah keselamatan untuk mengantisipasi risiko terhadap operasional penerbangan.
Delapan bandara yang terdampak tersebut meliputi Bandara Internasional Soekarno-Hatta di Tangerang, Bandara Halim Perdanakusuma di Jakarta, dan Bandara Radin Inten II di Lampung.
Selain itu, terdapat Bandara Husein Sastranegara di Bandung, Bandara Budiarto di Curug, Tangerang, Bandara Pondok Cabe di Tangerang Selatan, Bandara Taufik Kiemas di Pesisir Barat, Lampung, serta Bandara Atung Bungsu di Pagar Alam, Sumatera Selatan.
Dampak penutupan tersebut dirasakan pada penerbangan keberangkatan maupun kedatangan. Pemerintah kemudian memperpanjang penutupan sementara delapan bandara tersebut hingga pukul 24.00 WIB.
Keputusan itu diambil dengan mempertimbangkan perkembangan sebaran abu vulkanik yang masih bergerak dan dapat berubah sewaktu-waktu.
Keselamatan penerbangan menjadi pertimbangan utama dalam menentukan operasional bandara di wilayah terdampak.
Berdasarkan hasil pemantauan terbaru, abu vulkanik Gunung Anak Krakatau mengalami perubahan arah seiring pergerakan angin. Abu terpantau bergerak menuju timur dengan kecepatan angin sekitar lima knot pada ketinggian 15 ribu kaki.
Baca Juga: Reaktivasi Jalur Kereta Situbondo, DPRD Minta Hak Warga Diselesaikan Lebih Dulu
Kondisi tersebut membuat pemantauan terhadap aktivitas penerbangan harus dilakukan secara berkala.
Kementerian Perhubungan berkoordinasi dengan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), AirNav, pengelola bandara, serta pemangku kepentingan terkait untuk memastikan perkembangan situasi terus terpantau.
Koordinasi dilakukan untuk mendapatkan gambaran terbaru mengenai kondisi atmosfer dan sebaran abu vulkanik.
Evaluasi secara berkala juga diperlukan untuk menentukan apakah kondisi penerbangan sudah memungkinkan untuk kembali beroperasi atau masih membutuhkan pembatasan.
Di tengah gangguan terhadap sektor penerbangan, Presiden Prabowo juga meminta masyarakat di wilayah yang berpotensi terdampak erupsi Gunung Anak Krakatau untuk tetap tenang.
Imbauan tersebut terutama ditujukan kepada masyarakat di Jakarta, Banten, Lampung, serta kawasan sekitar Selat Sunda.
Presiden meminta masyarakat tidak mengabaikan perkembangan situasi dan tetap meningkatkan kewaspadaan. Warga juga diminta mengikuti arahan pemerintah maupun petugas yang berada di lapangan.
"Saudara-saudara kita yang berada di wilayah Jakarta, Banten, Lampung, dan kawasan sekitar Selat Sunda, untuk tetap tenang, meningkatkan kewaspadaan, serta mengikuti seluruh arahan pemerintah dan petugas di lapangan, dan tidak mendekati kawasan Gunung Anak Krakatau dan patuhi sepenuhnya zona bahaya serta batas aman yang telah ditetapkan oleh pihak berwenang," ujar Presiden Prabowo.
Prabowo menyampaikan bahwa pemerintah terus mengikuti perkembangan aktivitas Gunung Anak Krakatau. Laporan dan informasi terbaru dari jajaran terkait menjadi bagian dari pemantauan pemerintah dalam menentukan langkah penanganan.
Jajaran pemerintah juga diminta tidak hanya memantau aktivitas gunung api, tetapi memastikan kesiapsiagaan di wilayah terdampak berjalan dengan baik.
Upaya perlindungan masyarakat menjadi bagian penting dalam menghadapi perubahan kondisi akibat aktivitas vulkanik.
Baca Juga: Angin Kencang Terjang Campoan Mlandingan, 20 Rumah Rusak dan Satu Ambruk
Presiden telah meminta BNPB, BMKG, TNI, Polri, pemerintah daerah, Kementerian Kesehatan, Kementerian Perhubungan, serta kementerian dan lembaga terkait untuk terus melakukan pemantauan.
Seluruh unsur tersebut diminta menjaga koordinasi agar setiap perkembangan dapat segera ditindaklanjuti. Pemerintah juga memastikan perlindungan dan bantuan yang dibutuhkan masyarakat dapat diberikan sesuai kondisi di lapangan.
Editor : Bayu ShaputraSumber : ANTARA