RADARSITUBONDO.ID - Olimpiade Madrasah Indonesia (OMI) 2026 mencatat lonjakan partisipasi. Sebanyak 230.123 siswa dari 34 provinsi tercatat ambil bagian dalam ajang yang digelar Kementerian Agama (Kemenag) tersebut.
Jumlah itu tidak hanya menunjukkan semakin besarnya animo terhadap OMI 2026. Kompetisi tersebut juga mulai memperlihatkan wajah baru dengan keterlibatan siswa dari sekolah umum yang terus meningkat.
Dibandingkan pelaksanaan OMI 2025 dengan 204.222 pendaftar, jumlah peserta tahun ini bertambah 12,7 persen. Dari keseluruhan pendaftar, sebanyak 229.593 peserta atau 99,8 persen dinyatakan lolos verifikasi.
Lonjakan partisipasi paling menarik terlihat dari peserta yang berasal dari sekolah umum. Sebanyak 13.271 siswa SD, SMP, dan SMA tercatat mengikuti OMI 2026.
Angka tersebut meningkat 38,1 persen dibandingkan tahun sebelumnya yang hanya mencatat 9.612 peserta dari sekolah umum.
Pertumbuhan itu menjadi salah satu indikator bahwa OMI mulai dipandang sebagai ruang kompetisi yang dapat diikuti siswa dari berbagai satuan pendidikan.
Direktur Jenderal Pendidikan Islam Kementerian Agama Amien Suyitno menilai peningkatan jumlah peserta menjadi sinyal positif bagi perkembangan ekosistem pembinaan prestasi peserta didik di Indonesia.
“Peningkatan partisipasi ini tentu menjadi kabar baik bagi pendidikan madrasah dan pendidikan Indonesia secara keseluruhan. Bertambahnya peserta berarti semakin banyak potensi dan talenta anak bangsa yang berhasil kita identifikasi dan berikan ruang untuk berkembang,” ujar Amien di Jakarta, Sabtu (5/9/2026).
Bagi Kemenag, membesarnya jumlah peserta bukan semata-mata soal persaingan untuk memperebutkan gelar juara. OMI 2026 diarahkan menjadi salah satu pintu untuk menemukan siswa yang memiliki potensi unggul.
Setelah potensi tersebut ditemukan, proses pembinaan menjadi bagian yang tidak kalah penting. Talenta yang muncul melalui kompetisi diharapkan tidak berhenti setelah perlombaan berakhir.
“Kompetisi adalah salah satu pintu masuk. Yang lebih penting adalah bagaimana kita menemukan anak-anak yang memiliki potensi, kemudian memberikan pembinaan yang tepat agar potensi tersebut berkembang menjadi prestasi,” jelas Guru Besar UIN Raden Fatah Palembang tersebut.
Dengan arah tersebut, OMI mulai ditempatkan dalam kerangka pembinaan talenta peserta didik yang lebih panjang.
Kompetisi menjadi tahap awal untuk mengidentifikasi kemampuan siswa, sementara pembinaan menjadi proses lanjutan agar potensi itu dapat berkembang.
Baca Juga: Kode Redeem FF 15 September 2026, Klaim Diamond dan Bundle Groove Gratis Hari Ini
Keterlibatan Sekolah Umum Meningkat
Kehadiran 13.271 siswa dari sekolah umum menjadi catatan penting dalam OMI 2026. Mereka berasal dari jenjang SD, SMP, hingga SMA.
Jumlah tersebut bertambah 3.659 peserta dibandingkan OMI 2025. Pertumbuhan ini sekaligus memperlihatkan bahwa batas partisipasi OMI semakin terbuka bagi peserta didik di luar lingkungan madrasah.
Direktur Kurikulum, Sarana, Kelembagaan, dan Kesiswaan (KSKK) Madrasah Nyayu Khodijah mengatakan perkembangan tersebut menunjukkan OMI semakin dikenal sebagai kompetisi yang dapat mempertemukan peserta didik dari berbagai satuan pendidikan.
“OMI terus berkembang menjadi ruang kompetisi yang inklusif. Peserta tidak hanya berasal dari madrasah, tetapi juga dari sekolah umum,” ujar Nyayu.
Menurut dia, semakin luas keterlibatan peserta membuat ruang pencarian talenta juga semakin besar. Siswa dengan kemampuan dan potensi berbeda dari berbagai wilayah memiliki kesempatan untuk tampil dalam kompetisi yang sama.
“Kami ingin OMI menjadi ruang bersama untuk menemukan talenta-talenta terbaik. Karena itu, semakin luas partisipasinya, semakin besar pula peluang kita menemukan potensi peserta didik dari berbagai daerah dan latar belakang pendidikan,” lanjutnya.
Dari sisi wilayah, OMI 2026 juga memiliki cakupan yang luas. Sebanyak 34 provinsi tercatat mengirimkan peserta dengan jumlah keseluruhan mencapai 230.123 siswa.
Laporan OMI juga mencatat keterlibatan lebih dari 33 ribu lembaga pendidikan. Jawa Timur menjadi provinsi dengan peserta terbanyak, yakni mencapai 41.685 siswa.
Setelah Jawa Timur, Jawa Barat menyusul dengan 32.446 peserta. Sementara Jawa Tengah berada di posisi berikutnya dengan 30.518 peserta.
Jika tiga provinsi tersebut digabungkan, jumlahnya mencapai 104.649 peserta. Angka tersebut setara sekitar 45,5 persen dari keseluruhan peserta OMI 2026.
Meski partisipasi besar masih terlihat dari Pulau Jawa, OMI 2026 juga menunjukkan geliat peserta dari luar Jawa. Sulawesi Selatan mencatat 12.850 peserta, disusul Sumatera Utara dengan 12.348 peserta dan Riau sebanyak 8.113 peserta.
Sebaran tersebut memperlihatkan jangkauan OMI yang semakin luas. Kompetisi tidak hanya menjadi ruang bagi siswa dari daerah dengan jumlah peserta besar, tetapi juga membuka peluang bagi peserta didik dari berbagai wilayah Indonesia.
Baca Juga: Gugatan Jamaah Umrah ke Ketua PCNU Situbondo Kandas, Majelis Hakim Menyatakan Tak Dapat Diterima
Minat Tumbuh di Tiga Jenjang Pendidikan
Antusiasme peserta OMI 2026 juga terlihat dari komposisi berdasarkan jenjang pendidikan. Ketiga kelompok jenjang sama-sama mencatat jumlah peserta yang relatif berdekatan.
Sebanyak 69.351 peserta berasal dari MI/SD. Kemudian terdapat 75.987 peserta dari MTs/SMP dan 72.776 peserta dari MA/SMA.
Komposisi tersebut menunjukkan minat terhadap kompetisi dan pembinaan prestasi sudah muncul sejak pendidikan dasar hingga jenjang menengah.
Kondisi tersebut dinilai menjadi modal penting untuk membangun pola pembinaan talenta yang dilakukan secara berjenjang. Potensi siswa dapat dikenali sejak usia pendidikan dasar dan kemudian dikembangkan pada jenjang berikutnya.
“Komposisi peserta di tiga jenjang yang relatif seimbang menunjukkan bahwa minat terhadap kompetisi dan pembinaan prestasi tumbuh sejak pendidikan dasar. Ini menjadi modal penting untuk membangun pembinaan talenta yang berkelanjutan,” katanya.
Baca Juga: Warga Tenggir Tewas di Warung Remang-Remang, Temuan Polisi Tak Ada Luka Kekerasan
Riset Jadi Salah Satu Daya Tarik OMI 2026
OMI 2026 tidak hanya berfokus pada bidang sains dan kompetisi akademik. Bidang riset juga menjadi salah satu bagian yang menarik perhatian peserta.
Tercatat sebanyak 9.130 pendaftar pada OMI Bidang Riset. Dari jumlah tersebut, 8.100 peserta telah mengajukan pendaftaran, sedangkan 1.030 lainnya masih berada dalam status draft.
Kasubdit Kesiswaan Solla Taufiq mengatakan jumlah tersebut mencerminkan besarnya minat siswa madrasah untuk mengembangkan kemampuan penelitian sekaligus menuangkan gagasan ilmiah melalui kompetisi berskala nasional.
“Angka ini menunjukkan tingginya minat siswa madrasah untuk mengembangkan kemampuan riset dan menuangkan gagasan ilmiah melalui ajang kompetisi tingkat nasional,” ujarnya.
Jika dilihat berdasarkan jenjang, pendaftar bidang riset dari MA mencapai 4.862 siswa. Sementara pendaftar dari MTs tercatat sebanyak 4.268 siswa.
Tema penelitian yang dipilih peserta juga memperlihatkan isu-isu yang dekat dengan tantangan masyarakat saat ini. Integrasi Keislaman dan Keilmuan atau Ekoteologi menjadi tema yang paling banyak diminati dengan 3.553 pendaftar.
Tema Sustainable Development Goals (SDGs) berada berikutnya dengan 3.384 pendaftar. Sementara Transformasi Digital untuk Pembangunan Nasional mencatat 2.193 pendaftar.
Pilihan tema tersebut memperlihatkan kecenderungan siswa untuk menghubungkan gagasan penelitian dengan persoalan aktual. Isu lingkungan, pembangunan berkelanjutan, serta perkembangan teknologi menjadi bagian dari perhatian peserta OMI 2026.
Baca Juga: 63 Tahun Hidup Sebatang Kara di Gubuk Bambu, Lansia Jatisari Tak Pernah Dapat Bansos
OMI Tak Berhenti pada Persaingan
Besarnya partisipasi pada OMI 2026 sekaligus menghadirkan tantangan lanjutan bagi Kemenag. Bertambahnya jumlah peserta berarti semakin banyak potensi siswa yang perlu diidentifikasi dan mendapat ruang pembinaan.
Karena itu, keberhasilan OMI tidak hanya dapat diukur dari jumlah pendaftar atau banyaknya peserta yang berhasil menjadi juara. Tantangan berikutnya adalah bagaimana potensi yang telah ditemukan melalui kompetisi dapat terus dikembangkan.
Amien menegaskan, peningkatan jumlah peserta harus dilihat sebagai bertambahnya potensi talenta yang perlu mendapatkan perhatian.
“Pertumbuhan peserta harus kita maknai sebagai bertambahnya potensi talenta yang harus kita layani,” tuturnya.
Editor : Bayu ShaputraSumber : Kemenag.go.id