RADARSITUBONDO.ID - Aktivitas pelayaran di sejumlah wilayah perairan Indonesia perlu mendapat perhatian lebih dalam beberapa hari ke depan.
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprakirakan gelombang laut dengan ketinggian 1 hingga 4 meter berpotensi terjadi pada 14-17 September.
Kondisi tersebut menjadi perhatian bagi pelaku pelayaran, mulai kapal angkutan penumpang, kapal pariwisata hingga nelayan. Peningkatan kecepatan angin menjadi salah satu faktor yang berpotensi mendorong kenaikan tinggi gelombang di sejumlah perairan.
Baca Juga: Kode Redeem FF 15 September 2026, Klaim Diamond dan Bundle Groove Gratis Hari Ini
Pelaksana Tugas (Plt.) Direktur Meteorologi Maritim BMKG Agie Wandala Putra mengatakan kondisi angin saat ini perlu diwaspadai karena dapat memengaruhi keselamatan aktivitas di laut.
"Pola angin dan peningkatan kecepatan angin terpantau memicu tinggi gelombang harian yang dapat mengancam keselamatan aktivitas pelayaran di wilayah perairan Indonesia," kata Pelaksana Tugas (Plt.) Direktur Meteorologi Maritim BMKG Agie Wandala Putra dikutip dari Antara.
Berdasarkan pemantauan tim meteorologi maritim BMKG, pola pergerakan angin di wilayah utara ekuator bergerak dari arah tenggara hingga barat daya. Kecepatannya berada pada kisaran 4 hingga 25 knot.
Sementara di wilayah selatan ekuator, angin bergerak dari timur hingga tenggara dengan kecepatan 8-25 knot. Pergerakan dan peningkatan kecepatan angin tersebut turut berkontribusi terhadap potensi peningkatan gelombang di sejumlah wilayah perairan.
BMKG mencatat kecepatan angin tertinggi terpantau di beberapa kawasan. Di antaranya Samudra Hindia sebelah barat Bengkulu, Laut Jawa, bagian selatan Selat Makassar, bagian utara Laut Maluku, hingga Laut Arafuru.
Kondisi tersebut berpotensi menghasilkan gelombang dengan ketinggian 1,25 hingga 2,5 meter di sejumlah perairan Indonesia.
Wilayah yang berpotensi mengalami kondisi tersebut antara lain Selat Karimata, Laut Jawa, Laut Bali, Laut Flores, Selat Makassar, Laut Banda, Laut Arafuru hingga Samudra Pasifik bagian utara Papua.
Baca Juga: Gugatan Jamaah Umrah ke Ketua PCNU Situbondo Kandas, Majelis Hakim Menyatakan Tak Dapat Diterima
Ancaman gelombang lebih tinggi juga perlu menjadi perhatian, terutama di kawasan yang diprakirakan mengalami gelombang 2,5 hingga 4 meter.
Gelombang sangat tinggi tersebut berpeluang terjadi di bagian utara Selat Malaka. Potensi serupa juga terdapat di wilayah Samudra Hindia yang membentang dari barat Aceh, Kepulauan Nias, Mentawai, Bengkulu dan Lampung.
Risiko gelombang tinggi juga mencakup perairan di sebelah selatan Pulau Jawa hingga Bali, Nusa Tenggara Barat (NTB) dan Nusa Tenggara Timur (NTT).
Kondisi laut tersebut membuat pelaku aktivitas pelayaran perlu menyesuaikan kegiatan dengan perkembangan cuaca dan gelombang.
Terlebih, karakteristik kapal dan jenis aktivitas pelayaran memiliki tingkat kerawanan yang berbeda terhadap angin serta tinggi gelombang.
BMKG mengingatkan perahu nelayan termasuk jenis armada yang perlu mendapat perhatian ketika beroperasi dalam kondisi angin kencang dan gelombang tinggi.
Perahu nelayan dinilai rawan ketika menghadapi kecepatan angin lebih dari 15 knot dan tinggi gelombang di atas 1,25 meter.
Risiko juga meningkat bagi kapal tongkang. Jenis kapal tersebut perlu mewaspadai kondisi ketika kecepatan angin mencapai lebih dari 16 knot disertai tinggi gelombang sekitar 1,5 meter.
Baca Juga: 63 Tahun Hidup Sebatang Kara di Gubuk Bambu, Lansia Jatisari Tak Pernah Dapat Bansos
Sementara itu, kapal feri maupun angkutan penumpang menghadapi tingkat kerawanan ketika kecepatan angin mencapai 21 knot dan tinggi gelombang melampaui 2,5 meter.
Karena itu, kondisi cuaca laut selama periode 14-17 September perlu menjadi pertimbangan dalam menentukan aktivitas pelayaran.
Pemantauan informasi cuaca dan peringatan dini BMKG menjadi penting, terutama bagi pelaku kegiatan yang berada di wilayah dengan potensi gelombang tinggi.
Tidak hanya pelaku pelayaran, masyarakat yang tinggal maupun beraktivitas di kawasan pesisir juga diminta meningkatkan kewaspadaan. Gelombang tinggi dapat berdampak terhadap berbagai aktivitas masyarakat yang berlangsung di sekitar garis pantai.
"Masyarakat yang bermukim dan beraktivitas di kawasan pesisir juga diminta untuk tetap waspada guna mengantisipasi dampak gelombang tinggi selama beberapa hari ke depan," kata Agie.
Editor : Bayu ShaputraSumber : ANTARA