RADARSITUBONDO.ID - Badan Gizi Nasional (BGN) mengklaim program Makan Bergizi Gratis (MBG) meningkatkan konsumsi protein hewani di kalangan anak sekolah.
Berdasarkan data yang disampaikan BGN, tingkat konsumsi protein hewani meningkat dari 26 persen menjadi 84 persen setelah program tersebut berjalan.
Selain protein hewani, konsumsi buah dan sayur juga disebut mengalami peningkatan. Jika sebelum program MBG tingkat konsumsi buah dan sayur berada di kisaran 65 persen, setelah program berjalan angkanya naik menjadi 90 persen.
Baca Juga: Update Free Fire Oktober 2026, Dunia Tersembunyi dan Koleksi Halloween Terbaru
Kepala BGN Sudaryono mengatakan, peningkatan konsumsi makanan bergizi tersebut perlu diimbangi dengan pendidikan gizi di lingkungan sekolah.
Upaya ini dinilai penting agar anak-anak tidak hanya mendapatkan makanan bergizi, tetapi juga memahami manfaatnya bagi kesehatan dan pertumbuhan.
“Tingkat konsumsi buah dan sayur, sebelum ada MBG sekitar 65 persen dan setelah ada MBG naik menjadi 90 persen. Ya, jadi sudah agak tinggi, kemudian dengan MBG lebih tinggi lagi,” kata Sudaryono melalui pernyataannya yang diunggah di akun Instagram @sudaru_sudaryono, Senin (19/10).
Menurut Sudaryono, pemenuhan kebutuhan gizi anak tidak cukup hanya mengandalkan pemberian makanan melalui program MBG.
Anak-anak juga perlu mendapatkan pemahaman mengenai pentingnya mengonsumsi makanan dengan kandungan gizi yang seimbang.
Karena itu, keterlibatan guru menjadi salah satu faktor yang dinilai penting dalam menanamkan kesadaran gizi sejak dini.
Guru diharapkan dapat membantu mengenalkan jenis makanan bergizi serta menjelaskan manfaat protein, sayuran, buah, serat, dan karbohidrat bagi tubuh.
Baca Juga: Berawal dari Jualan Gorengan, Rahmat Kini Punya Warung Sembako dan Agen BRILink di Garut
Sudaryono juga berharap kepala daerah beserta jajarannya ikut mendorong pendidikan gizi di sekolah.
Dengan keterlibatan berbagai pihak, pemahaman mengenai pola makan sehat diharapkan tidak berhenti di lingkungan pendidikan, tetapi juga diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.
Pemahaman tersebut turut berkaitan dengan peran orang tua dalam memenuhi kebutuhan nutrisi anak di rumah.
Menurut Sudaryono, makanan yang diberikan melalui program MBG dapat menjadi tambahan asupan yang kemudian dilengkapi dengan makanan bergizi lainnya ketika anak berada bersama keluarga.
“Sehingga generasi kita mendatang dengan tambahan MBG, ditambah kesadaran yang baik terhadap pemahaman gizi, maka Bapak, Ibu, orang tua bisa kemudian melengkapi kebutuhan gizinya. Kebutuhan protein, kebutuhan sayur, serat, kebutuhan karbohidratnya itu kemudian bisa ditambahi lagi asupannya di rumah orang tua masing-masing,” jelasnya.
Baca Juga: Ratusan Warga Jangkar dan Asembagus Manfaatkan Pemeriksaan Gratis IHC RS Elizabeth
Meski mengklaim adanya peningkatan konsumsi protein hewani, buah, dan sayur, Sudaryono mengakui program MBG belum menjangkau seluruh anak sekolah.
BGN menyebut masih terdapat 16 persen anak sekolah yang belum mendapatkan layanan tersebut karena dapur penyedia makanan di wilayah mereka belum beroperasi.
Kondisi itu membuat peningkatan konsumsi protein hewani yang disebut mencapai 84 persen belum menyentuh seluruh sasaran program.
Operasional dapur menjadi salah satu faktor yang menentukan agar distribusi makanan bergizi dapat menjangkau anak-anak di berbagai wilayah.
“Kenapa 84, kenapa enggak 100? Karena masih ada, 16 persen masih ada anak-anak kita yang sekolah yang wilayahnya belum, dapur-dapur MBG-nya belum beroperasi,” katanya.
Baca Juga: Universitas Bhakti PGRI Situbondo Resmi Dilaunching, Bupati Rio: Semoga Menambah Khasanah Pemikiran
Sudaryono menegaskan, percepatan operasional dapur MBG menjadi tanggung jawab dirinya bersama jajaran BGN. Upaya tersebut diperlukan agar anak-anak yang belum menerima layanan bisa segera mendapatkan makanan bergizi di sekolah masing-masing.
“Dan ini menjadi tanggung jawab saya beserta jajaran, BGN tim semuanya, bagaimana caranya sesegera mungkin anak-anak yang membutuhkan ini bisa segera mendapatkan haknya yaitu makan bergizi gratis di sekolahnya masing-masing,” pungkasnya.
Editor : Bayu ShaputraSumber : berbagai sumber