RADARSITUBONDO.ID - Kisah sensasional ditorehkan Bodo/Glimt pada ajang Liga Champions UEFA 2025/2026. Klub asal kota kecil di utara Lingkar Arktik itu sukses membalikkan segala prediksi dan menahbiskan diri sebagai kuda hitam paling mengejutkan musim ini.
Perjalanan mereka nyaris berakhir lebih cepat. Dari enam pertandingan fase liga, Bodo/Glimt hanya mengumpulkan tiga poin. Data Opta bahkan menyebut peluang lolos mereka tinggal 0,3 persen. Namun keajaiban benar-benar terjadi.
Tim asuhan Kjetil Knutsen bangkit dengan mencatatkan empat kemenangan beruntun atas wakil lima liga top Eropa. Catatan tersebut menyamai pencapaian Ajax musim 1971-72—yang kala itu berujung gelar juara.
Korban pertama adalah Manchester City. Bermain di Stadion Aspmyra yang hanya berkapasitas 8.000 penonton, atmosfer dingin dan lapangan sintetis menjadi senjata rahasia. Sang juara Inggris tumbang tanpa daya.
Momentum berlanjut saat Bodo/Glimt mempermalukan Atletico Madrid di kandang lawan. Hasil itu menegaskan bahwa mereka bukan sekadar kuat di rumah sendiri.
Puncak kejutan terjadi ketika menghadapi finalis musim lalu, Inter Milan. Pada leg pertama playoff di Aspmyra, Bodo/Glimt menang 3-1 lewat gol Sondre Brunstad Fet, Jens Petter Hauge, dan Kasper Høgh.
Selebrasi Hauge yang menendang tiang sudut usai mencetak gol menjadi simbol kemenangan atas tim Italia—mengingat ia pernah membela AC Milan.
Baca Juga: Harga Emas 25 Februari 2026: Perhiasan Variatif, Antam Stagnan, Galeri 24 dan UBS Kompak Naik
Di leg kedua di Stadion San Siro, Inter berharap melakukan remontada. Namun yang terjadi justru sebaliknya. Hauge kembali mencetak gol pada menit ke-58, disusul Hakon Evjen pada menit ke-72.
Gol balasan Alessandro Bastoni tak mampu menyelamatkan Nerazzurri. Agregat 5-2 memastikan Bodo/Glimt menjadi klub Norwegia pertama yang memenangkan babak gugur Liga Champions.
Secara individu, Hauge tampil tajam dengan koleksi enam gol—rekor terbanyak pemain klub Norwegia dalam satu musim Liga Champions. Di bawah mistar, Nikita Haikin memimpin daftar penyelamatan dengan 49 saves.
Sementara trio Patrick Berg, Odin Bjørtuft, dan Fredrik Sjøvold tak tergantikan karena selalu tampil penuh di setiap pertandingan.
“Tim dari kota kecil di utara. Tidak bisa dipercaya,” ujar Knutsen seusai laga kontra Inter.
Apa yang dilakukan Bodo/Glimt menjadi bukti bahwa Liga Champions masih menyisakan ruang bagi keajaiban. Dari peluang nyaris mustahil hingga menyingkirkan raksasa-raksasa Eropa, dongeng Arktik itu kini menjadi kenyataan.
Editor : Ali Sodiqin