Anime Berita Daerah Edukasi Ekonomi Bisnis Health Internasional Kasuistika Khazanah Kuliner Lifestyle Nasional Opini Otomotif Politik & Pemerintahan Seni & Budaya Sport Teknologi Travelling

Benjamin dan Sanna Keliling Dunia Untuk Suarakan Kasus Penjajahan di Sahara, Gunakan Sepeda Pedal ke 18 Negara Selama 1,5 Tahun

Iwan Feriyanto • Rabu, 22 November 2023 | 14:00 WIB
PRESENTASI: Bejamin menyampaikan kondisi warga Sahara melalui dokumen yang disimpan pada laptop miliknya, di Kelurahan Mimbaan, Kecamatan Panji, Selasa (21/11).
PRESENTASI: Bejamin menyampaikan kondisi warga Sahara melalui dokumen yang disimpan pada laptop miliknya, di Kelurahan Mimbaan, Kecamatan Panji, Selasa (21/11).

RadarSitubondo.id – Aksi nekat Benjamin dan Sanna terbilang cukup ekstrem. Warga Swedia itu memutuskan bersepeda keliling dunia.

Tujuannya mendatangi 30 negara untuk menyuarakan nasib warga Sahara yang rentan menjadi korban pelanggaran hak asasi manusia (HAM) akibat dijajah Maroko.

Benjamin dan Sanna sudah menempuh perjalanan cukup jauh. Dia memulai aksinya tahun 2022 silam.

Hingga saat ini, sudah ada 18 negara yang dia datangi. Salah satunya Indonesia.

“Beberapa negara yang sudah kami datangi adalah Jepang, Korea, Denmark, Taiwan, Sweden. Lalu, Germany, Austria, Slovakia, Slovenia, Bosnia, Albania, MontenegroNorth Macedonia, Greece dan Turket,” ujar Benjamin, Selasa (21/11).

Pria yang getol memperjuangkan HAM itu menjelaskan, perjalanan panjang dilaluinya dalam rangka menyuarakan nasib warga Sahara.

Tanah tersebut saat ini diduduki oleh Maroko. Itu terjadi sejak tahun 1975. Masyarakat tak dapat melakukan protes atas pejajahan tersebut.

Sebab, jika kedapatan melakukan aksi demo, maka akan ditangkap, disiksa dan ditahan oleh polisi dan militer.

“Masyarakat Sahara telah berada di bawah pendudukan Maroko dan diasingkan dari tanah airnya sendiri selama hampir 50 tahun,” jelasnya.

Bejamin mengaku, selama 50 tahun warga Sahara hidup dalam pengungsian. Tinggal di dalam tenda pengungsian di gunung pasir Aljazair.

Untuk memenuhi kebutuhan hidupnya hanya bergantung kepada bantuan kemanusiaan.

“Kondisi yang terjadi di Sahara hampir tidak ada yang tahu. Karena Maroko memang melarang jurnalis atau penggerak organisasi HAM masuk ke wilayah yang diduduki tersebut,” ungkapnya.

Benjamin berharap, aksi yang dilakukan itu dapat merubah nasib yang dialami warga Sahara tersebut.

Negara yang pernah didatanginya diharapkan akan dapat mendorong agar sahara bebas dari penjajahan.

“Setidaknya presiden atau pimpinan kepala negara di berbagai dunia dapat mendorong kemerdekaan warga Sahara. Melalui diplomasi atau aksi lain untuk mencapai cita-cita tersebut,”pungkasnya. (wan/pri)

Editor : Edy Supriyono
#situbondo #jelajah dunia #ham