RADARSITUBONDO.ID - Komite Disiplin PSSI Jawa Timur memberikan sanksi larangan bermain seumur hidup kepada pemain Putra Jaya Pasuruan, Muhammad Hilmi Gimnastiar, akibat tindakan kekerasan terhadap pemain Perseta 1970 Tulungagung selama pertandingan Liga 4 Jawa Timur.
Peristiwa tersebut terjadi pada Senin, 5 Januari 2026, dalam pertandingan fase 32 besar di Stadion Gelora Bangkalan, Madura. Ketika pertandingan memasuki menit ke-71, tim Putra Jaya Pasuruan ketinggalan 0-4 dari Perseta Tulungagung. Hilmi menendang pemain lawan, Firman Nugraha, hingga terjatuh, dan wasit segera memberikan kartu merah.
Ketua Komdis PSSI Jawa Timur, Samiadji Makin Rahmat, mengungkapkan bahwa keputusan ini diambil setelah dilakukan penyelidikan menyeluruh.
Tindakan tersebut dianggap sebagai kekerasan dan melanggar Pasal 48 juncto Pasal 49 Kode Disiplin PSSI. Selain menjatuhkan larangan bermain seumur hidup, Hilmi juga dikenakan denda sebesar Rp2,5 juta.
Baca Juga: Setelah Venezuela, Mengapa Greenland Jadi Target Strategis Donald Trump?
Firman Nugraha mengalami cedera serius di area dada dan berisiko mengalami cacat permanen akibat tendangan itu. Ia sempat mendapatkan perawatan medis di lapangan sebelum dilarikan ke rumah sakit.
Manajemen PS Putra Jaya Sumurwaru segera mengambil tindakan tegas dengan memberhentikan Hilmi pada hari yang sama. Keputusan itu tertuang dalam surat resmi yang ditandatangani oleh Ketua Harian, Gaung Andaka Ranggi. Klub juga menyampaikan permohonan maaf kepada semua pihak, terutama kepada Perseta 1970.
Baca Juga: Mengapa Militer Venezuela Lumpuh Saat Diserang Amerika Serikat?
Makin menegaskan bahwa hukuman ini dimaksudkan sebagai efek jera. Dia berharap tidak ada pemain lain yang akan melakukan tindakan serupa, karena sepak bola harus menjunjung tinggi nilai-nilai sportivitas dan keselamatan pemain.
Meskipun demikian, Komdis memberikan kesempatan kepada Hilmi untuk mengajukan banding sesuai dengan peraturan yang ada.
Insiden ini menambah daftar kelam dalam dunia sepak bola Indonesia dan menjadi pengingat pentingnya fair play di lapangan.
Editor : Ali Sodiqin