RADARSITUBONDO.ID - Periode kepelatihan Xabi Alonso di Real Madrid menghadapi tantangan yang berbeda dari pencapaiannya di Bayer Leverkusen.
Cesc Fabregas, yang pernah menjadi rekannya di timnas Spanyol, mengungkapkan beberapa masalah yang dialami pelatih berusia 43 tahun itu.
Fabregas berpendapat bahwa kesulitan utama Alonso terletak pada tantangan dalam menangani skuad yang diisi oleh pemain-pemain hebat yang memiliki ego besar.
Dalam sebuah film dokumenter tentang perjalanan Alonso, Fabregas menjelaskan bahwa hampir seluruh anggota tim merasa layak untuk mendapatkan tempat dalam starting eleven. Setiap individu berharga 50 juta euro, mewakili tim nasional mereka, dan ingin memberikan kontribusi positif.
Pepe Reina, eks rekan Alonso di Liverpool dan timnas Spanyol, menambahkan bahwa mengelola ruang ganti seperti di Madrid bukanlah tugas yang sederhana.
Tantangan ini sangat berbeda dibandingkan saat Alonso sukses membantu Leverkusen meraih dua gelar di Bundesliga dan DFB-Pokal musim 2023/2024.
Filosofi yang Sulit Diterapkan
Salah satu tantangan utama yang dihadapi Alonso adalah kesulitan dalam menerapkan sepenuhnya prinsip permainan yang ia anut.
Seorang pelatih tidak bisa melayani semua pemain secara individual saat ia perlu berpegang pada filosofi, rencana taktik, dan keyakinan yang dimilikinya.
Fabrizio Romano mengungkapkan keinginan Alonso untuk membawa gaya permainan Leverkusen ke Madrid, tetapi pendekatan ini tidak diterima dengan baik oleh pemain-pemain di ruang ganti.
Ketegangan ini memuncak dalam perselisihan dengan beberapa pemain utama, termasuk Vinicius Junior yang pernah berselisih pendapat dengan Alonso saat pertandingan El Clasico.
Baca Juga: Usai Bebas dari Tahanan, Kakek Masir Jatuh Sakit, Istri Terpaksa Jadi Buruh Demi Bertahan Hidup
Antara Konsistensi dan Akomodasi
Fabregas menekankan bahwa menghadapi pemain yang semuanya merasa pantas untuk bermain, semuanya memiliki nilai tinggi, dan semuanya mewakili tim nasional mereka, adalah hal yang paling sulit.
Situasi ini memaksa Alonso untuk memilih antara mempertahankan konsistensi taktik atau mengakomodasi kepentingan pemain bintang.
Toni Kroos, mantan gelandang Madrid, menyatakan bahwa tekanan untuk melatih di Santiago Bernabeu memang berbeda. Ia meminta agar Alonso diberikan waktu yang cukup untuk beradaptasi.
Namun, manajemen Madrid tetap mengawasi situasi di ruang ganti dengan hati-hati, meski diyakini Alonso memiliki dukungan dari sebagian besar anggota tim.
Baca Juga: Kasus Umrah PCNU Situbondo Menguak Fakta Baru, Wakil Ketua PCNU Diperiksa Polisi
Akhir yang Tak Terelakkan
Setelah tujuh bulan menjabat sebagai pelatih Los Blancos, masa kerja Alonso berakhir usai kekalahan dari Barcelona di final Piala Super Spanyol.
Keputusan ini diumumkan sebagai hasil kesepakatan antara pihak klub dan pelatih. Ketidakstabilan di La Liga dan ketegangan di ruang ganti menjadi alasan utama di balik keputusan tersebut.
Meskipun masa kepemimpinannya singkat, pengalaman Alonso di Madrid memberikan pelajaran berharga, mengelola skuad yang terdiri dari pemain bintang dengan berbagai ego memerlukan lebih dari sekadar kemampuan taktik.
Diperlukan kemampuan diplomasi, fleksibilitas, dan bakat dalam membangun kesepakatan, yang terbukti menjadi tantangan terbesar bahkan bagi pelatih yang berbakat sekalipun.
Real Madrid kemudian menunjuk Alvaro Arbeloa sebagai penggantinya, dengan harapan mantan pemain yang paham budaya klub dapat meredakan ketegangan di ruang ganti.
Editor : Ali Sodiqin