Anime Berita Daerah Edukasi Ekonomi Bisnis Health Internasional Kasuistika Khazanah Kuliner Lifestyle Nasional Opini Otomotif Politik & Pemerintahan Seni & Budaya Sport Teknologi Travelling

Gen Z Enggan Naik Jabatan, Work-life Balance Jadi Prioritas Utama

Bayu Shaputra • Kamis, 5 Februari 2026 | 15:00 WIB
Sekelompok Gen Z sedang belajar bersama.
Sekelompok Gen Z sedang belajar bersama.

RADARSITUBONDO.ID - Pergeseran nilai tengah terjadi di dunia kerja, terutama di kalangan Generasi Z. Jika generasi sebelumnya memandang promosi jabatan sebagai puncak kesuksesan, Gen Z justru menunjukkan kecenderungan sebaliknya.

Survei Glassdoor mencatat, 68 persen pekerja Gen Z enggan mengejar posisi manajerial kecuali dibarengi kenaikan gaji signifikan atau peran yang dinilai benar-benar bermakna.

Fenomena ini dikenal dengan istilah conscious unbossing, yakni keputusan sadar untuk menolak promosi demi menjaga keseimbangan hidup. Studi Robert Walters memperkuat temuan tersebut dengan menyebutkan bahwa 52 persen profesional Gen Z di Inggris tidak berminat menjadi manajer tingkat menengah. Bahkan, 72 persen responden lebih memilih meniti karier individual dibanding harus memimpin tim.

 Baca Juga: Warga Setu Kaget Lihat Hamparan Potongan Uang di Lokasi Pembuangan Sampah

Salah satu faktor utama di balik sikap tersebut adalah persepsi bahwa jabatan manajerial identik dengan tekanan tinggi tanpa imbalan sepadan. Survei Robert Walters menunjukkan, 69 persen Gen Z menilai posisi manajer sebagai pekerjaan dengan stres tinggi namun kompensasi rendah.

Konsultan karier Emily Rezkalla menyebut, Gen Z kerap menyaksikan langsung beratnya beban kerja atasan mereka, mulai dari jam kerja panjang, akhir pekan yang tersita, hingga risiko kelelahan mental.

Alih-alih mengejar jabatan, Gen Z kini lebih memprioritaskan career minimalism. Mereka menginginkan pekerjaan yang stabil, aman, dan memberi ruang bagi kehidupan pribadi serta hobi. Tak sedikit yang memilih memiliki side hustle seperti proyek kreatif, usaha kecil, atau pekerjaan lepas sebagai sarana menyalurkan minat sekaligus mencari makna di luar pekerjaan utama.

Isu kesehatan mental menjadi perhatian utama generasi ini. Penelitian Walton Family Foundation mengungkapkan bahwa 42 persen Gen Z berjuang melawan depresi, sementara data Harmony Healthcare IT menunjukkan 61 persen telah didiagnosis gangguan kecemasan. Hampir 90 persen mahasiswa Gen Z menilai kesehatan mental sebagai aspek yang tidak bisa ditawar dalam kehidupan dan karier.

Kepala Ekonom Glassdoor, Daniel Zhao, menegaskan bahwa Gen Z bukan anti-ambisi. Mereka hanya mengalihkan ambisi ke jalur karier yang lebih berkelanjutan dengan menekankan keamanan finansial dan kepuasan pribadi.

Pilihan pekerjaan pun cenderung mengarah ke sektor layanan kesehatan, pekerjaan terampil, pemerintahan, hingga pendidikan yang dinilai lebih stabil dan relatif aman dari disrupsi kecerdasan buatan.

Bagi Gen Z, definisi sukses kini bergeser. Kesuksesan tidak lagi diukur dari titel manajer atau ruang kerja eksklusif, melainkan dari ketenangan bekerja, waktu untuk diri sendiri, dan kebahagiaan hidup. Pergeseran ini menegaskan bahwa keseimbangan hidup dan kesehatan mental telah menjadi standar baru dalam memaknai keberhasilan karier. 

Editor : Ali Sodiqin
#Gen Z enggan naik jabatan #Work life balance