STOP BALAP LIAR!!!

Tim Redaksi • Dipublikasikan Senin, 14 September 2026 | 10:57 WIB
Oleh: Retno Sulistiowati, Kepala SMPN 1 ASEMBAGUS
Oleh: Retno Sulistiowati, Kepala SMPN 1 ASEMBAGUS

Bunga Melati di tepi kali  
Dahan dan ranting bersinggungan  
Mari anak kita bekali  
Ilmu agama dan budaya.

Belum lama ini Bupati Situbondo, yang akrab disapa Mas Rio, menyatakan perang terhadap para pembalap liar. Pernyataan yang tentunya dinanti-nanti masyarakat.  

Pembalap liar sering diiringi sumpah serapah. Wajar, jika dilakukan tengah malam dengan knalpot tidak standar. Suaranya memekakkan telinga, mengganggu istirahat warga, dan sangat berisiko bagi penderita penyakit jantung.

Hobi ini ada di setiap masa. Pelakunya rata-rata anak SMP dan SMA. Di usia mencari jati diri, rasa ingin diakui dan uji nyali mendominasi. Sayangnya, pelampiasannya salah jalan, salah tempat, dan menguras kantong orang tua.

Apakah sepenuhnya salah anak? Tidak serta-merta. Ada banyak faktor di baliknya: internal, pergaulan, lingkungan, dan keluarga. Ketika anak sudah "kecanduan" dunia balapan, memang sulit mengubahnya. Tapi bukan berarti tidak bisa diarahkan ke hobi yang lebih aman dan membanggakan.

Masalah krusialnya adalah ketika hobi ini dilakukan di jalan umum, bukan di sirkuit atau arena resmi.

Lalu mengapa anak punya hobi motor di tempat yang salah? Siapa yang bertanggung jawab? Dan apa solusi bijaknya?

Ada 3 faktor utama penyebab anak terlibat balap liar:
1.  Faktor Internal: Ingin diakui, mencari sensasi dan adrenalin, kurang pengawasan serta perhatian.
2.  Faktor Eksternal: Pengaruh teman sebaya, media sosial, kurang aktivitas positif, dan pengawasan orang tua yang longgar.
3.  Faktor Sekolah dan Lingkungan: Minim wadah penyaluran hobi otomotif yang positif.

Di usia SMP-SMA, anak sangat butuh perhatian dan pengakuan. Jadi sebelum kita menghakimi mereka salah, mari bertanya dulu: sudahkah kita peduli? Atau kita hanya bisa bersumpah serapah?

Orang tua, sebagai Madrasatul Ula, garda terdepan pendidikan. Apakah kita paham perilaku anak? Sudahkah membuka ruang dialog dan mengarahkan minat bakatnya?

Sekolah, sudahkah menjadi ruang edukasi kedua yang nyaman setelah rumah?

Lingkungan, sejauh mana kepeduliannya? Sudahkah berkoordinasi dengan orang tua dan pemerintah daerah untuk menyediakan lahan alternatif?

Balap liar butuh kepedulian, bukan sekadar menyalahkan. Tanpa solusi, kritik kita akan hampa.

Balap liar mempertaruhkan nyawa anak. Membahayakan pengguna jalan lain. Dan menimbulkan keresahan sosial.

DASAR HUKUM & SANKSI
Berikut bahan edukasi untuk kita para pendidik dan orang tua:
1.  UU No. 22 Tahun 2009 tentang LLAJ  
    - Pasal 115 huruf b: Pengendara dilarang mengemudi tidak wajar dan mengganggu keselamatan.  
    - Pasal 297: Setiap orang yang mengemudikan kendaraan bermotor berbalapan di jalan dipidana kurungan paling lama 1 tahun atau denda paling banyak Rp3.000.000,-
2.  UU No. 35 Tahun 2014 tentang Perlindungan Anak  
    - Pasal 45: Orang tua wajib melindungi anak dari kegiatan yang membahayakan.  
    - Pasal 76C: Setiap orang dilarang menempatkan anak dalam situasi bahaya.
3.  KUHP: Jika menyebabkan kecelakaan dan ada korban, dapat dikenai pasal kelalaian.
4.  Sanksi Tambahan: Kendaraan disita, SIM dicabut/tidak bisa membuat SIM, wajib pembinaan di Satlantas dan orang tua dipanggil.

SOLUSI
1.  Sekolah: Sosialisasi, ekskul otomotif positif, kerja sama dengan Satlantas
2.  Orang Tua: Awasi anak di malam hari, beri pengertian tentang bahaya
3.  Aparat: Razia rutin, sediakan sirkuit/tempat balap resmi  
4.  Anak: Salurkan hobi di tempat yang benar. Jadilah pembalap prestasi, bukan pembalap liar.

Sebagai penutup, balapan itu tidak salah. Tapi "liar"-nya yang membuat salah berkali-kali lipat.

Indonesia punya 3 pembalap berprestasi: Rio Haryanto, Sean Gelael, Mario Suryo Aji. Mereka lahir dari sirkuit, bukan dari jalan raya.

Tugas kita melahirkan anak-anak pembalap yang berani adu nyali di sirkuit. Karena pembalap sejati menghargai nyawa orang lain dan nyawanya sendiri.

Maka bekali mereka dengan agama, budaya, dan akhlak. Karena ibadah yang paling disukai Allah adalah bagaimana kita memperlakukan orang lain, walau di arena balap sekalipun.

Mari rapatkan barisan untuk menyelamatkan jiwa anak-anak kita. Ambil peran sesuai kemampuan kita, walau hanya dengan kasih sayang.

Semoga bermanfaat. (*)

Editor : Ali Sodiqin
smp sma pembalap jalan raya balapan liar Mas Rio