Anime Berita Daerah Edukasi Ekonomi Bisnis Health Internasional Kasuistika Khazanah Kuliner Lifestyle Nasional Opini Otomotif Politik & Pemerintahan Seni & Budaya Sport Teknologi Travelling

Campur-Campur BBM Bikin Hemat atau Malah Merusak Mesin?

Bayu Shaputra • Rabu, 3 September 2025 | 00:45 WIB
Seorang pria sedang mengisi BBM.
Seorang pria sedang mengisi BBM.

RADARSITUBONDO.ID - Pernahkah Anda mengalami situasi kendaraan hampir kehabisan bahan bakar, tetapi hanya tersedia jenis berbeda di SPBU? Atau mungkin Anda bertanya-tanya apakah mencampur Premium dengan Pertamax bisa menghemat biaya dan meningkatkan performa mesin? Pertanyaan ini umum di benak pengendara, khususnya saat harga BBM fluktuatif.

Mencampur bahan bakar bukan hal asing di Indonesia. Banyak pengendara mencampur Premium (RON 88) dengan Pertamax (RON 92) atau Pertamax Turbo (RON 98), berharap mendapatkan keuntungan dari kedua bahan bakar tersebut. Namun, apakah ini aman dan menguntungkan?

 Baca Juga: Vivo Y500 vs Y300: Baterai 8.200 mAh vs 6.500 mAh, Mana yang Lebih Worth It?

Untuk memahami dampak pencampuran bahan bakar, kita perlu tahu cara kerja mesin. Setiap mesin memiliki rasio kompresi yang disesuaikan dengan oktane rating bahan bakar.

Ketika piston mengompres campuran udara-bahan bakar, tekanan harus sesuai dengan kemampuan bahan bakar menahan ledakan dini (knocking).

Premium dengan RON 88 cocok untuk mesin berkompresi rendah hingga menengah, sedangkan Pertamax RON 92 dirancang untuk mesin berkompresi lebih tinggi. Mencampur keduanya menghasilkan oktane rating rata-rata, misalnya RON 90 dengan proporsi 50:50.

 Baca Juga: Vivo Y500 Hadir dengan Baterai Monster 8.200 mAh: Game Changer di Segmen Entry-Level

Mencampur bahan bakar dalam proporsi tepat dapat menguntungkan. Pertama, secara ekonomi, mencampur Premium dan Pertamax dapat menghemat biaya dibandingkan dengan Pertamax murni, sambil memberikan oktane rating lebih tinggi dari Premium.

Kedua, untuk kendaraan dengan spesifikasi mesin di ambang kedua jenis bahan bakar, pencampuran bisa memberikan performa optimal. Misalnya, motor berkompresi 9.5:1 yang membutuhkan RON 90 bisa mendapat manfaat dari campuran Premium-Pertamax.

Ketiga, pencampuran dapat membersihkan deposit karbon di ruang bakar, terutama jika sebelumnya hanya menggunakan Premium untuk waktu lama.

 Baca Juga: Oppo A6 Max: Smartphone Menengah dengan Kamera 50MP

Meski terlihat menguntungkan, pencampuran bahan bakar memiliki risiko. Bahaya utama adalah knocking, yaitu pembakaran tidak terkontrol sebelum busi menyala. Suara "tek-tek-tek" saat akselerasi adalah indikasi awal masalah ini.

Knocking yang berlanjut dapat merusak komponen mesin secara permanen. Piston, ring piston, dan silinder head bisa rusak karena tekanan dan suhu berlebih. Dalam kasus ekstrem, bisa terjadi pecah piston atau bocor gasket head yang memerlukan perbaikan mahal.

Selain itu, sistem fuel injection pada kendaraan modern sensitif terhadap kualitas bahan bakar. Pencampuran yang salah dapat menyebabkan penyumbatan pada injector, kerusakan sensor oksigen, atau bahkan kerusakan pada catalytic converter.

Sebelum mencampur bahan bakar, ada faktor penting yang perlu dipertimbangkan. Pertama, spesifikasi mesin kendaraan Anda, termasuk rasio kompresi dan rekomendasi pabrikan. Buku manual kendaraan biasanya mencantumkan oktane rating minimum yang dibutuhkan.

Kedua adalah kondisi mesin. Mesin tua atau berdeposit karbon tebal memerlukan oktane rating lebih tinggi dibanding mesin baru. Ketiga adalah gaya berkendara dan kondisi jalan.

Pengendara yang sering berakselerasi keras atau melewati tanjakan butuh bahan bakar dengan oktane rating lebih tinggi.

 Baca Juga: Bahaya Tersembunyi Mencampur Solar dan Bensin: Panduan untuk Pengguna Kendaraan

Mekanik berpengalaman umumnya menyarankan mengikuti rekomendasi pabrikan dalam memilih bahan bakar. Jika kendaraan disarankan RON 92, sebaiknya konsisten menggunakan Pertamax daripada mencampur dengan Premium.

Namun, dalam situasi darurat jika bahan bakar yang direkomendasikan tidak tersedia, pencampuran sementara masih bisa ditoleransi jika segera kembali ke spesifikasi standar pada pengisian berikutnya.

Kunci utama adalah memahami karakteristik kendaraan Anda dan tidak bereksperimen dengan bahan bakar tanpa pengetahuan yang cukup.


Ikuti terus berita ter-update Radar Situbondo di Google News

Editor : Ali Sodiqin
#Dampak mixing BBM