Anime Berita Daerah Edukasi Ekonomi Bisnis Health Internasional Kasuistika Khazanah Kuliner Lifestyle Nasional Opini Otomotif Politik & Pemerintahan Seni & Budaya Sport Teknologi Travelling

Saleh, Pengacara Asal Besuki Kini Sandang Gelar Doktor, Sadari Modal Membela Klien Tak Hanya Kepercayaan, Tapi Juga Kecerdasan

Iwan Feriyanto • Kamis, 30 November 2023 | 01:44 WIB
BANGGA: Saleh berhasil menyelesaikan pendidikan S.3 nya di Universitas Brawijaya Malang. Saat ini sudah menyandang gelar doktor.
BANGGA: Saleh berhasil menyelesaikan pendidikan S.3 nya di Universitas Brawijaya Malang. Saat ini sudah menyandang gelar doktor.

RadarSitubondo. id - Saleh, pengacara asal Besuki yang sudah lama berkiprah di Jakarta baru saja menyelesaikan pendidikan Doktoral/ S.3 nya di Universitas Brawijaya Malang.

Apa rencananya ke depan setelah menyandang gelar doktor?

Tidak semua orang bisa menempuh pendidikan S.3. Ada yang punya biaya, tapi tidak punya waktu untuk kuliah S3. Atau, sebaliknya.

Namun, Bagi Saleh yang utama adalah kemauan. Sehingga, meski tidak punya waktu dan biaya, maka akan tetap bisa menempuhnya.

Menurut pria kelahiran Desa Jetis, Kecamatan Besuki tersebut, pendidikan S3 berguna untuk meng-upgrade diri.

Sensasinya terasa saat akan menghadapi ujian terbuka dan harus mampu mempertahankan hasil penelitiannya di depan promotor dan co-promotor serta penguji internal/ eksternal yang jumlahnya delapan penguji. Momen ini juga dihadiri banyak orang.

“Proses perkuliahan S3 didominasi kegiatan-kegiatan penelitian dan pengembangan teori-teori baru berhubungan dengan bidang keilmuan yang dipilih untuk menemukan kebaruan atau menggali yang terdalam terhadap apa yang diteliti,” terang pria yang mengangkat judul Desertasi “Sanksi Pengembalian Kerugian Keuangan Negara Oleh Korporasi Dalam Tindak Pidana Korupsi” tersebut.

Berpendidikan S.3, kata Saleh, akan memiliki pengaruh sangat besar terhadap profesi pengacara atau advokat.

Sebab, menjadi pengacara harus bermodalkan kecerdasan dan kepercayaan.

Cerdas adalah modal utama seorang advokat sehingga dapat memberikan pendampingan maksimal terhadap kliennya.

“Apalagi di Jakarta banyak pengacara-pengacara hebat dan saya yang berasal dari desa ini harus mampu bersaing dengan mereka yang jauh punya kecerdasan dan nama besar. Di Jakarta itu bermacam-macam klien yang ditangani, jika tidak cerdas bagaimana mau bersaing? saya pernah menjadi pengacaranya menteri, anggota DPR RI/ DPRD, gubernur, bupati/ walikota, BUMN, korporasi dan banyak klien-klien hebat lainnya. Jadi pengacara Harris lebih cerdas dari kliennya,” papar Saleh.

SANG INSPIRASI: Saleh berpose bersama sang Ibu, Sniti dalam wisuda S.3 di Unibra Malang, belum lama ini.
SANG INSPIRASI: Saleh berpose bersama sang Ibu, Sniti dalam wisuda S.3 di Unibra Malang, belum lama ini.

Nah, salah satu cara untuk menjadi advokat yang cerdas, lanjut dia, adalah menempuh pendidikan setinggi-tingginya, yakni S3/doktor.

Banyak klien yang bangga didampingi advokat yang bergelar doktor. Sebab, advokat bergelar doktor biasanya merupakan pribadi matang dalam bertutur dan bersikap.

“Lihai cara menginjak rem dan menginjak gas. Namun cerdas saja tidak cukup tapi juga harus dapat dipercaya oleh kliennya, itu kuncinya,” jlentreh Saleh.

Bapak tiga anak ini mengakui, menempuh pendidikan S3 dituntut bisa membagi waktu antara bekerja, keluarga dan pendidikan.

Di S.3 Banyak waktu yang dibutuhkan untuk melakukan penelitian.

Sehingga, mau tak mau harus ada yang dikorbankan terutama membagi waktu dengan keluarga yang akan berkurang.

 

“Tipsnya pintar-pintarnya membagi waktu, perbanyak diskusi dengan orang-orang sekitar kita.Tetapi yang utama semuanya kembali pada niat jika kita bersungguh-sungguh untuk menyelesaikan pendidikan S3, maka kita akan sampai ke ujung yakni selesainya hasil penelitian disertasi,” terang doktor lulusan Unibraw ke-569 tersebut.

Bagi Saleh selesai pendidikan S3, bukan akhir pembelajaran. Namun, adalah awal untuk terus belajar.

Bahkan, dengan menyandang gelar Doktor, dirinya merasa semakin haus untuk terus menambah ilmu, karena semakin menyadari bahwa masih banyak yang belum dia ketahui.

Sebab itulah, ke depan Saleh akan sambil mengajar menjadi dosen di Jakarta, selain terus menekuni dunia profesi sebagai lawyer.

“Saya juga ingin berbagi inspirasi dengan anak-anak kalangan miskin agar bisa menempuh pendidikan setinggi-tingginya, bahwa kaum miskin “tidak berdosa” bermimpi setinggi langit. Selebihnya terserah arah angin membawa yang terpenting ilmu saya bisa bermanfaat untuk orang lain,” ungkapnya.

Saleh sendiri sendiri mengaku tidak percaya sebagai anak kampung dari keluarga sangat miskin bisa menyelesaikan pendidikan hingga jenjang doktoral.

Padahal, saat lulus SD dia sangat kesulitan biayauntuk melanjutkan ke SMP.

Setelah lulus SMP tahun 1993, Saleh sempat berpikir ikut transmigrasi ke luar Jawa.

“Tapi alhamdulillah berkat dorongan dari ibu saya bisa melanjutkan pendidikan SMA di SMA I Suboh,” kata anak kesembilan dari sebelas bersaudara itu.

Saleh Lulus SMA tahun 1996. Sempat ‘nganggur’ tiga tahun karena ketiadaan biaya.

Tahun 1999 setelah sedikit mengumpulkan biaya dari hasil kerja, dia bertekad bulat kuliah S1 hukum.

Dia sendiri nyambi menjadi penjahit untuk membiayai kuliahnya.

“Di situlah muncul keinginan kuat berharap suatu saat saya bisa menempuh pendidikan hingga doktoral, alhamdulillah niat baik itu kini tercapai,” jelasnya.

 

Ditanyakan orang yang paling menginspirasi dalam kehidupannya, Saleh dengan tegas menjawab: ibu! Namanya Sniti.

Di mata Saleh, Sniti sangat penyabar, terutama membesarkan sebelas anaknya meski tidak bisa membaca dan tidak bisa menulis bahkan tidak bisa bahasa Indonesia.

Dia membantu ekonomi rumah tangga dengan berjualan kecil-kecilan.

“Yang kedua yang menginspirasi saya adalah bapak, Alm. Hadari. Walau hanya Sekolah Rakyat saya belajar tentang keberanian dan percaya diri kepada bapak sehingga saya terus berusaha menjadi pribadi yang percaya diri. Selebihnya saya sering nonton tokoh-tokoh besar nasional cara berbicara di depan publik jika muncul di media. Saya kebetulan suka nonton berita,” pungkasnya. (pri)

Editor : Edy Supriyono
#Doktor #pengacara #pendidikan #s3