RadarSitubondo.id - Oknum staf Cabang Dinas (Cabdin) wilayah Bondowoso - Situbondo mendapatkan keluhan sejumlah guru. Pasalnya, pegawai yang bertugas sebagai operator, itu diduga mempersulit proses status validasi tunjangan profesi guru (TPG) di lingkungan SMA/SMK di Kota Santri.
Sumber terpercaya Koran ini mengatakan, dugaan mempersulit guru agar mendapatkan validasi tersebut terjadi sejak tahun 2023. Hingga awal bulan tahun 2024 ini tetap saja terjadi. Penginputan data baru bisa dilakukan asal guru membayar uang kepada oknum cabdin.
"Sebagian guru sudah ada yang valid, tinggal bagian operator untuk menginput data validasi saja. Tapi, tidak dilakukan oleh operator. Data baru bisa diinput asal guru membayar uang kurang lebih Rp 1 juta,” kata guru yang enggan disebut namanya itu, (31/1).
Cara-cara begitu, dinilai sebagai upaya melakukan pemerasan terhadap guru. Sebab, okunum staf Cabdin selalu berasalan proses validasi baru bisa diinput ketika ada pemberian uang.
“Guru yang butuh validasi dari operator, diminta uang duluan sebelum ada pencairan. Angkanya ditentukan, kalau begitu kan sudah bisa dianggap pungutan liar (pungli),” imbuhnya.
Ada saja alasan oknum staf Cabdin untuk memperlambat penginputan validasi guru. Salah satunya, guru harus mengajar sebanyak 24 kali tatap muka.
“Guru yang dianggap kurang jam mengajarnya dimintai uang. Tapi ada juga yang sudah mencapai target tetap saja dimintai uang. Permintaan oknum staf cabdin bervariatif. Ada yang Rp 1,5 juta, ada juga yang Rp. 2,5 juta,” ujarnya.
Dia mengaku, guru memiliki bukti transfer. Bahkan nomor rekening yang digunakan murni nomor rekening staf Cabdin Situbondo.
“Bukti transfer sudah ada, untuk bukti percakapan dalam chat tentu juga ada,”tegasnya.
Dia menegaskan, fenomena meresahkan itu baru muncul tahun 2023. Sebelumnya, belum pernah ada pungli yang mengambil hak guru. Sehingga dirinya sangat prihatin dan ingin meminta pihak Cabdin agar mengembalikan uang yang sudah diterima.
“Harapan kami, oknun staf cabdin jangan suka main Pungli, kasihan pada guru yang dapat penghasilan dari pengabdiannya pada sekolah,” tutupnya.
Kacabdin Situbondo, Slamet juga sulit dihubungi, ditelepon berulangkali tidak menjawab meskipun berdering. di chat melalu aplikasi WhatsApp juga tidak dibaca. (hum/pri)
Editor : Edy Supriyono