RadarSitubondo.id – Puluhan siswa dan warga berkumpul di titik 1000 KM Anyer - Panarukan, Senin malam (20/8).
Mereka menyalakan ribuan lilin untuk mengenang korban penyiksaan dalam pembangunan jalan tersebut.
Acara menyalakan seribu lilin di Tugu Anyer-Panarukan diawali pemutaran film sejarah pembangunan jalan yang dibangun pada masa pemerintahan Jenderal Deandles tersebut.
Tak hanya itu, sejumlah siswa yang diundang ikut memeriahkan dengan menampilkan pembacaan pusi-puisi perjuangan.
“Saya senang bisa tahu tentang sejarah jalan pos Anyer-Panarukan. Saya jadi banyak tahu bagaimana perjuangan pandahulu hingga jalan Anyer - Panarukan ada seperti saat ini. Orang-orang sekarang sudah tinggal lewat di jalan mulus yang dulu dibuat atas penderitaan leluhur kami,” kata Linda Ayuni Condro, salah satu siswi yang ikut menyalakan seribu lilin.
Linda mengaku, dengan acara tersebut dirinya bisa mengetahui sejarah yang terjadi di tempat dia dilahirkan. Bahkan dia baru menyadari jika desanya merupakan tempat bersejarah.
“Saya baru tahu kalau tempat kelahiran saya ini adalah tempat bersejarah. Dulunya saya hanya numpang foto di tempat ini (Tugu Anyer Panarukan) sekarang sudah tahu ceritanya,” tegas Linda.
Teguh, salah satu panitia pelaksana mengatakan, acara tersebut pertama kali digelar. Meskinpun dikemas sederhana hasilnya cukup memuaskan.
“Kalau sekarang masih diadakan tingkat kecamatan, tahun depan akan kami adakan lebih meriah lagi, kalau bisa mengundang siswa-siswi tingkat kabupaten,” ujar Teguh.
Kata dia, tugu Anyer Panarukan merupkan simbol sejarah, bukti kehadiran Belanda ke Situbondo, hingga meninggalkan beberapa bangunan, seperti pabrik gula (PG) dan juga keberadaan jalan raya Anyer Panarukan.
“Kalau kita ingat dengan sejarah kelam jalan Anyer Panarukan, pasti akan mendoakan para pendahulu. Ceritanya rakyat pribumi dipaksa kerja rodi hingga banyak meninggal kelaparan. Kasihan kalau jasa mereka tidak dikenang dan didoakan,” pungkas Teguh. (hum/pri)
Editor : Ali Sodiqin