Anime Berita Daerah Edukasi Ekonomi Bisnis Health Internasional Kasuistika Khazanah Kuliner Lifestyle Nasional Opini Otomotif Politik & Pemerintahan Seni & Budaya Sport Teknologi Travelling

Sejarah dan Perkembangan Pendidikan di Pondok Pesantren Salafiyah Syafi’iyah Sukorejo Situbondo dari Tahun ke Tahun

Redaksi • Rabu, 23 Oktober 2024 | 17:30 WIB
Siswa SMP Ibrahimy 3 saat mengikuti MPLS 2024. Pendidikan di bawah naungan Pesantren Sukorejo terus berkembang pesat. (Tangkapan Layar S3TV)
Siswa SMP Ibrahimy 3 saat mengikuti MPLS 2024. Pendidikan di bawah naungan Pesantren Sukorejo terus berkembang pesat. (Tangkapan Layar S3TV)

RadarSitubondo.id – Pondok Pesantren Salafiyah Syafi’iyah Sukorejo adalah salah satu lembaga pendidikan agama terbaik di Provinsi Jawa Timur. Banyak orang tua yang memilih untuk menyekolahkan anak-anak mereka di pondok pesantren yang terletak di Kabupaten Situbondo bagian timur ini.

Awalnya areal Pondok Pesantren Salafiyah Syafi’iyah Sukorejo adalah hutan belantara yang membentang dari Gunung Baluran sampai wilayah Asembagus. Hutan belantara itu dikenal sangat angker karena disamping dihuni oleh binatang buas, juga dedemit. Saat itu penduduk tidak ada yang berani memasuki hutan tersebut.

Pada tahun 1328 H / 1908 M, Kiai Syamsul Arifin -- atas saran Habib Hasan Musawa dan Kiai Asadullah — dibantu putranya, As’ad dan beberapa orang santri yang menyertai dari Madura, membabat dan merambah hutan tersebut untuk didirikan sebuah pesantren dan perkampungan.

Upaya keras Kiai Syamsul Arifin akhirnya terwujud. Berdirilah sebuah pesantren kecil yang hanya terdiri dari beberapa gubuk untuk difungsikan rumah, musalla dan asrama santri yang waktu itu hanya beberapa orang.

Sejak tahun 1914, pesantren kecil itu berkembang bersamaan dengan datangnya para santri dari wilayah sekitar Karesidenan Besuki. Tahun itu pula kemudian dijadikan tahun berdirinya Pondok Pesantren Salafiyah Syafiiyah. Setiap perayaan ulang tahun selalu dirujuk pada tahun itu.

Perkembangan selanjutnya, Desa Sukorejo yang letaknya 7 kilometer sebelah timur Asembagus (30 km arah timur kota kabupaten Situbondo) tidak hanya berdiri sebuah pesantren, masyarakat pun mulai berdatangan untuk kemudian menetap di desa itu.

Hutan yang telah dirambah itu pun berkembang menjadi areal pertanian ladang dan kebun yang hasilnya mulai bisa dirasakan penduduk. Pergaulan penduduk dengan pesantren pun berlangsung harmonis.

Selain mengasuh beberapa santri, Kiai Syamsul Arifin juga membantu masyarakat, terutama dalam memberikan pertolongan pengobatan dan memenuhi hajat-hajat masyarakat. Nama Kiai Syamsul Arifin mulai dikenal di berbagai daerah, sehingga dengan cepat jumlah santri pun bertambah.

Pada masa perjuangan kemerdekaan, Pesantren Sukorejo tidak hanya menjadi pusat pembelajaran, tetapi juga menjadi pusat perjuangan kemerdekaan. Banyak pejuang yang ditampung di pesantren ini, sekaligus menjadikannya sebagai markas dalam menyusun strategi melawan penjajah.

Pada waktu itu, proses belajar mengajar dilakukan melalui sistem sorogan dan bandongan. Kemudian, setelah wafatnya Kiai Syamsul Arifin pada tahun 1951, Kiai As’ad mengambil alih kepemimpinan dan mulai mengembangkan sistem pendidikan ke arah klasikal. Berbagai lembaga pendidikan didirikan, seperti Madrasah Ibtidaiyah, Tsanawiyah, Aliyah, SD, SLTP, SLTA, hingga perguruan tinggi.

Dalam upaya mewujudkan pendidikan yang sesuai dengan kebutuhan zaman, berbagai lembaga pendidikan kejuruan dan keahlian didirikan, seperti Sekolah Menengah Kejuruan (SMK), Ma’had Aly sebagai lembaga kader ahli fiqh, dan Madrasatul Qur’an sebagai lembaga yang mempelajari dan mendalami ilmu-ilmu Al Qur’an.

Tidak ketinggalan, didirikan juga lembaga ekonomi seperti koperasi. Kursus dan pelatihan juga menjadi bagian dari perkembangan pesantren ini.

Pondok Pesantren Salafiyah Syafi’iyah Sukorejo memiliki berbagai lembaga pendidikan yang mencakup pendidikan agama dan umum. Berikut adalah lembaga pendidikan yang ada di pesantren ini:

Lembaga Pendidikan agama:

  1. Madrasah ibtida’iah (1928)
  2. Madrasah tsanawiyah (1943)
  3. Madrasah Aliyah (1958, awalnya Bernama PGA, Pendidikan guru agama)
  4. Madrasatul qur’an
  5. Madrasah I’dadiyah (2018)

Lembaga Pendidikan umum:

  1. Sekolah dasar (1984)
  2. Sekolah menengah pertama (1978)
  3. Sekolah menengah atas (1983)
  4. Sekolah menengah ekonomi atas (sekarang SMK)

Perguruan tinggi:

  1. Institute agama islam (1968), yang kemudian berubah status menjadi universitas ibrahimy pada tahun 2018
  2. Ma’had aly (1990)
  3. Akademi computer dan informatika (2000)
  4. Akademi perikanan (2001)
  5. Program pascasarjana (2003)
  6. Akademi kebidanan (2008)

Melalui berbagai lembaga pendidikan ini, Pondok Pesantren Salafiyah Syafi’iyah Sukorejo berkomitmen untuk memberikan pendidikan agama dan umum yang berkualitas kepada para santri dan masyarakat sekitar. (*)

Editor : Ali Sodiqin
#situbondo #salafiyah syafi'iyah #pondok pesantren #kiai as'ad #Sukorejo #KHR As'ad Syamsul Arifin #sejarah #pendidikan agama #santri