RADAR SITUBONDO - Ratusan santri Pondok Pesantren (Ponpes) Nurul Huda, Desa Peleyan, Kecamatan Kapongan, dipulangkan Sabtu lalu (8/3).
Meskipun menikmati liburan panjang selama Bulan Ramadhan, mereka wajib mengajar di rumahnya masing-masing setiap hari. Materi yang harus disampaikan fokus pada tajwid dan bahasa (TABA).
Momen yang ditunggu para santri sudah tiba. Sebagian santri putra dan putri bisa pulang ke rumah masing-masing untuk menikmati liburan Ramadhan. Tapi, mereka tidak terlalu bebas, sebab punya kewajiban mengajar setiap hari.
"Khusus untuk santri kelas 1 dan 2 sudah pulang. Kalau santri kelas 3 dan 4 masih nunggu tanggal 15 Ramadhan. Kalau yang kelas 5 dan 6 perkiraan tanggal 23 Ramadhan," ujar Biro Kepesantrenan Nurul Huda, Ustadz Muhammad Hakim, Minggu (9/3).
Kata Muhammad Hakim, saat para santri berada di rumah memiliki tugas wajib dari pesantren. Yaitu mencari anak-anak yang masih sekolah dasar (SD) untuk diajak belajar bareng. Materi yang bakal diajakan juga sudah ditentukan dari pesantren.
"Santri wajib ngajar TABA. Karena di masyarakat banyak orang bisa mengaji tapi tidak memperhatikan panjang pendek dalam bacaan Alquran. Santri juga mengajar bahasa arab dan Inggris," tegas ust Hakim.
Ustad Hakim menegaskan, program ‘taba’ bukan hanya diwajibkan kepada santri, tapi wali murid juga dapat bagian untuk mengawasi.
Terbukti, sebelum para santri dipulangkan, orang tua dikumpulkan dan diajak kerjasama mengawasi santri selama ada di rumah.
"Santri tidak bisa mengakali dengan laporan kirim foto fiktif. Santri sulit berbohong, karena diminta untuk buat video selama ngajar. Kalau tidak melaksanakan, ada sanksinya," imbuh Ustad Hakim.
Tujuan dari mengajar TABA adalah untuk mengajari santri agar bisa belajar berdakwah sejak dini. Juga mengurangi kebebasan santri pada saat menikmati liburan Ramadhan.
"Santri kalau dibiarkan saja tanpa dikasi program terlalu liar,'' pungkas Hakim. (hum/pri)
Editor : Ali Sodiqin